Penulis : Luluk Maslachah


Kreek.. krekk…..
Setiap hari, di tengah terik matahari …selalu aku dengar suara itu…
Yapp.. suara sapu lidi Seorang penyapu jalan di areal komplek tempat tinggal kami.
Dengan gaya khasnya, wanita tua yang selalu membawa sapu lidi panjang dan memakai Topi Anyaman yang lebar yang biasa dipakai Pak Tani ke sawah. Nyaman sekali kelihatannya sehingga wajahnya tidak terkena langsung sengatan matahari. Wajahnya hitam, yang maaf kalo orang bilang kulitnya sudah gosong sana-sini akibat sengatan matahari.
Dilihat sepintas, memang dari segi kegesitan beliau kurang tangkas dan kurang cepat bergerak. Apa pasal ? karena memang badan beliau lumayan berisi alias lumayan gendut untuk  ukuran seumurannya, ditambah usia beliau yang sudah diatas 50 tahun.
Kami semua memanggilnya Bu Ngkus… entah siapa nama lengkapnya…Yang saya tahu selain bekerja menjadi tukang sapu jalan depan rumah daerah tempat tinggal kami, Bu Ngkus masih menyempatkan untuk ikut acara pengajian yang diadakan setiap hari Jumat yang acaranya diadakan dari satu rumah ke rumah yang lain secara bergantian, berjalan kaki dengan jarak rumah yang tidak semuanya dekat dengan rumahnya. Sungguh semangat yang luar biasa untuk mengisi jiwa dengan siraman rohani dan bersilaturahmi dengan tetangga.
Bu Ngkus  mempunyai 3 saudara perempuan yang semuanya janda kecuali adiknya.
Bu Ngkus juga masih mempunyai 3 orang anak perempuan, Yang pertama sudah menikah dengan seorang Satpam mempunyai 2 anak balita, Yang kedua masih duduk di kelas 6SD, yang ketiga juga duduk di kelas 6 SD. Mereka semua tinggal dalam satu rumah yang tidak begitu besar. Kecuali satu  adiknya yang masih mempunyai suami dan satu  anak yang diasuh oleh kakak perempuan Bu Ngkus yang rumahnya bersebelahan.
Hmm.. tak terbayangkan  1 rumah kecil ditinggali oleh 9 orang yang entah kamarnya ada berapa.mereka tinggal bersama gotong royong dalam satu rumah dengan 3 keluarga, dengan kondisi rumah yang tidak begitu luas, dan mereka adalah janda semua yang anak-anaknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah.

Dari Bu Ngkus jugalah kami mengenal Bi Tiah yang pernah bekerja di rumah kami sebagai tukang setrika dan cuci..

Sejak saya mendirikan dan merintis Rumah Baca dan Kreasi inilah, frekwensi untuk ngobrol dengan bu Ngkus lebih sering dan menjadi lebih tahu tentang kondisi sebenarnya keluarga Bu Ngkus.
Sewaktu saya menawarkan anak-anak dan cucunya untuk bermai, mampir ke rumah saya sekedar baca-baca buku koleksi anak saya, Faiz, nonton CD lagu-lagu anak, Cerita anak, dan kadang ssesekali saya jadwalkan untuk membuat suatu kreasi sebagai bekal ketrampilan dan kemandirian mereka.
Dengan senang hati Bu Ngkus menerima tawaran  saya, dan akhirnya jadilah anak-anak dan cucu Bu Ngkus serta anak-anak kecil saudara dan tetangga nya itu menjadi anggota pertama Rumah Baca yang masih saya rintis.
Suatu hari seperti biasanya di tengah terik matahari, terdengar ada suara memanggil nama saya, ternyata Suara Bu Ngkus yang akan menanyakan kepastian jadi tidaknya acara yang akan mengajak anak-anaknya itu pada suatu acara di Rumah Baca Lain.
Di sela-sela pembicaraan kami, Bu Ngkus berkata bahwa anaknya yang menjadi Satpam di lingkungan rumah saya sudah tidak bekerja di sini. Saya sendiri juga sempat penasaran kok sudah lama tidak pernah terlihat menantunya yang kerja di lingkungan ini.
Ternyata kata Bu Ngkus, menantunya diberhentikan hanya gara-gara lupa tidak menulis tanda tangan absen satpam sewaktu malam-malam harus pulang mendadak karena dipanggil Bu ngkus bahwa anaknya Satpam yang juga cucu pertama Bu Ngkus tersebut sakit panas tinggi dan sudah kejang-kejang matanya ke atas.

“Yah.. gimana lagi yah, waktu itu-kan cucu mendadak sakit panas tinggi, badannnya kejang-kejang, siapa lagi kalo bukan bapaknya yang mengantar anaknya ke dokter atau bidan, namanya juga kondisi mendadak, panik, jadi yah si Bakri (panggilan mantu Bu Ngkus) lupa tanda tangan… dan sebetulnya dia juga bingung karena mau pulang malam itu juga tidak ada satpam yang menggantikan mendadak.. eh besoknya datang kerja lagi, ada satpam lain yang mengatakan bahwa Bakri tidak menandatangani absen kemaren berarti tidak niat kerja dan sekarang sudah ada yang menggantikan kamu”, cerita bu ngkus sambil berkaca-kaca.

Hmmm.. saya sendiri yang sebagai warga sini aja tidak pernah mendengar cerita seperti yang Bu Ngkus ceritakan tadi, kalo Bu Ngkus tidak bercerita pada saya… pikir saya dalam hati.

Bu Ngkus melanjutkan ceritanya lagi… “apalah daya kita  yah… saya yang bekerja tiap hari begini… gaji tidak seberapa, itupun masih tergantung pada Bakri yang mantu saya ini sebagai tulang punggung keluarga, cucu sakit saya tidak sedang memegang uang sepeser sama sekali.
Malam itu hujan, anak Bakri sudah kritis kejang-kejang, bingung siapa yang harus bawa ke dokter kalo tidak bapaknya sendiri, untung kerjanya dekat rumah… tapi nasib sial yang menimpa.. demi membelain bawa anaknya ke dokter malam itu juga, Bakri besoknya tidak mendapat kerjaan hanya gara-gara lupa tanda tangan absen”..

“Saya sudah berbicara ini juga kepada pak RW.. bahwa kami tidak berbohong dengan kejadian  yang menimpa kami malam itu… , kami tidak punya kekuatan untuk berbicara pada kepala satpam… eh tau tau besoknya udah ada ganti satpam yang lain..”

“Yah sudahlah… yang penting kita jujur.. kemana-mana tidak membuat nama jelek dan tidak memalukan.. bekerja tetap bekerja.. insya Allah akan ada gantinya yang lebih baik..yang penting berkahnya ya”

Subhanallah…mendengar cerita Bu Ngkus saya hanya bisa terdiam…
ternyata ada intrik juga di lingkungan pekerja satpam di daerah rumah saya… Hmm.. gak abis pikir deh…

Bu Ngkus bercerita lagi , “ ya memang benar rejeki gak kemana .. akhirnya Bakri sudah mendapat pekerjaan baru lagi nok,, di daerah kota kembang sana sebagai satpam juga, Allah  maha adil”..

Bu Ngkus terdiam dan sayapun terdiam juga..
Entah apa yang mau dibicarakan lagi. Yang bisa saya sampaikan adalah “Alhamdulillah Bu Ngkus , mantunya sudah mendapat pekerjaan lagi, karena memang Allah maha Adil, karena Mantu Bu Ngkus dan Bu Ngkus sendiri tidak mengada-ada tentang peristiwa malam hari yang cucu Bu Ngkus sakit”.

Ya.. saya hanya bisa diam meskipun batin sudah sesak dan mata sudah berkaca-kaca, tp saya tidak mau terlihat menangis di depan Bu Ngkus… di dalam hati saya memuji “KEJUJURAN Bu Ngkus…”
Walau bagaimanapun, memang benar, Allah tidak melihat rupa, jabatan dan kekayaan seseorang, tetapi Allah melihat hati orang tersebut, sehingga Allah memberikan yang terbaik untuk orang tersebut.

Jaman sekarang… sudah jarang ditemukan kejujuran, ketulusan, tapi siang di tengah terik matahari, seorang Bu Ngkus telah mengetuk hatiku dengan Sebungkus Kejujurannya…
Semoga Allah melindungi, memberkahi Bu Ngkus dan keluarganya, anak cucunya yang masih kecil-kecil… Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..

Pada hari itulah… saya berjumpa dan belajar dengan seorang PAHLAWAN KELUARGA yang MEMBUNGKUS KEJUJURANnya sebagai BEKAL  menghidupi dan menyelamatkan keluarganya. SUBHANALLAH….