Penulis: Lusiana Trisnasari

Jika bukan karena sering kebanjiran, tak hendak kami mencari rumah kontrakan baru, apalagi yang hanya berjarak beberapa gang dari rumah lama. Capek rasanya packing barang-barang, memindahkan, lalu membongkarnya lagi. Namanya rejeki, dalam waktu singkat kami mendapatkan rumah kontrakan yang lebih baru, berukuran dua kali lipat dari sebelumnya, tapi berharga sama! Kami semua bersemangat pindah.

Buat saya, rumah yang lebih besar memungkinkan untuk memajang beberapa sample produk usaha saya dirumah dan mengadakan berbagai acara untuk teman-teman dan kenalan. Bagi anak-anak saya, kamar-kamar yang lebih besar membuat mereka bisa menata lebih bebas, mengundang teman untuk belajar dan mengobrol atau memasang poster-poster.

Namun, baru sehari dirumah kontrakan itu, saya merasa kesepian. Anak-anak asyik berkegiatan di kamar masing-masing. Jarak antara kamar saya dan kamar anak-anak yang berjauhan, membuat saya tidak bisa mendengar suara-suara yang dulu begitu berisik. Jika keluar kamar, kami tak selalu berpapasan seperti dulu yang kemana-mana selalu bertemu karena terbatasnya ruang gerak.

Jadi rumah yang ideal itu yang bagaimana? Saya pernah membaca tentang konsep rumah tumbuh. Tentu saja ini lebih cocok untuk yang memiliki rumah sendiri, bukan rumah kontrakan seperti saya. Konsep rumah tumbuh ini adalah mendesign rumah untuk kebutuhan sampai anak-anak besar nanti, tapi dibangun bertahap mengikuti kebutuhan pertumbuhan anak-anak. Dengan demikian selain memberi waktu pada kita untuk mengumpulkan dana bagi tiap tahap pembangunan, juga memberi peralihan yang mulus mengikuti pertumbuhan anak sehingga kita tidak terlalu terkejut dengan perubahan akibat pertumbuhan anak-anak kita.

Namun bagi yang sering pindah, pilihan tidaklah banyak. Kita dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, bukannya berusaha menciptakan keadaan yang telah direncanakan. Dan sekarang saya terkaget-kaget dengan rumah yang lebih besar dan anak-anak juga telah sangat besar. Mereka tidak membutuhkan saya setiap saat. Mereka bisa berkegiatan sendiri di kamar, atau di ruang tamu dengan teman-temannya. Mereka juga tidak setiap saat mencari saya dikamar saya.

Time flies, kata orang-orang. Dulu seolah sulit melepaskan diri dari anak-anak. Setelah anak-anak besar, serumah pun mereka tidak terlalu memerlukan saya. Tapi mereka adalah hidup saya. Saya memerlukan mereka. Karena itu siang tadi saya tidur dikamar-kamar mereka bergantian heheheee…..