Penulis: Mak Gianti Pradipta

Sejak jadi punya anak, saya menyadari satu hal. Dunia ibu-ibu itu keras jendral! Seemed like we never get out of high school.

Sepertinya sudah bukan hal aneh kalau sesama ibu rentan sekali yang namanya judging. Kalau obrolan mulai menjurus ke arah judging and comparing, biasanya statement teraman yang saya keluarkan adalah “kalo pengalaman gue sih begini.. tapi orang kan beda-beda…”

Seiring berjalan waktu, saya mengerti kenapa judging and comparing jamak terjadi, karena kita menjalani hidup yang mirip, tapi prakteknya beda-beda tergantung pribadi.

Nah, akhir-akhir ini yang agak mengganggu kuping saya adalah judging dari para single ladies. Yap! Cewek-cewek yang belum merid atau punya anak ini ternyata juga bisa lho menghakimi ibu-ibu (terutama yang) muda, padahal kan mereka belum menjalani kehidupan ibu-ibu, kok bisa-bisanya menghakimi?

Jujur aja, saya agak jengah ketika membaca status FB teman yang mengomentari ibu-ibu yang jalan-jalan di mall ditemani babysitter (atau anggota keluarga lain) yang menggendong si bayi, sementara si ibu sibuk belanja atau ngobrol sama temennya. Ia bilang si ibu itu seharusnya megang anaknya, bukannya asyik belanja & ngobrol. Ada teman juga yang komentar kalau ia gak suka banget lihat bayi di mall, pokoknya kalau punya anak gak bakal dibawa ke mall katanya.

Saya ketawa aja dengernya, sambil mikir dalam hati, lihat deh nanti kalau punya anak, apa iya akan melakukan semua aturan ini itu yang hanya mereka lihat dari luar? Mereka cuma ketemu ibu itu sekali, lalu mau cap she’s a bad mother? Hmm.. nanti ketika punya anak mereka baru tahu, kalau yang namanya window shopping di mall, ngobrol & jalan-jalan sama temen itu bagian dari me-time para ibu. Itulah kesempatan para ibu bersosialisasi, refreshing, libur dari urusan bayi & rumah tangga. Setelah berhari-hari menggendong anak, boleh dong libur sehari untuk ngopi-ngopi cantik & membiarkan si anak dipegang babysitter-nya, kakek-neneknya, atau bahkan om-tantenya?

Boleh dong makan tenang di restoran tanpa diganggu, karena si anak udah disuapin orang lain?

Kalau dari jaman sekolah udah doyan main ke mall, lalu apa bisa setelah punya anak stop sama sekali kebiasaan pergi ke mall? Saya akui sih Jakarta memang kekurangan tempat rekreasi yang nyaman & baby-friendly, apalagi yang outdoor. Jadi, pilihan termudah ya jalan-jalan di mall. Ibu-ibu yang bawa anaknya ke mall, atau yang menyerahkan si bayi di gendongan orang lain, bukan ibu yang buruk, mereka cuma mau menikmati waktu bersenang-senang dengan dirinya, & melibatkan si anak di dalamnya.

Dear single ladies, you’re not a mother yet so please don’t judge J