Ketika suami dimutasi ke Lhokseumawe, saya langsung penasaran dengan peraturan daerah yang gak membolehkan perempuan dibonceng di motor sambil mengangkang. Peraturan itu sempat membuat heboh di Jakarta dan bikin Lhokseumawe jadi terkenal, “gak boleh ngangkang? Kayak di Lhokseumawe aja!” Begitu kira-kira bercandaan kita.

Ternyata, sepanjang pengamatan suami, warga Lhok adem ayam saja tuh menanggapi aturan nyeleneh itu. Tidak perlu pakai protes dari aktivis feminis atau mahasiswi. Menurut mereka, sudah sewajarnya kalau naik motor pakai rok itu ya tidak mengangkang, kecuali kalau si cewek yang nyetir motornya, tentu gak mungkin dong duduk menyamping?

Rata-rata mereka juga gak merasa kalau aturan itu  menyusahkan. Toh, ketika berkendara dengan muhrimnya, mereka tetap boleh mengangkang. Tidak ada pembahasan heboh bahwa aturan seperti itu membatasi wanita dan menekan hak-hak asasi. Kan mereka udah tinggal di kota yang memiliki hukum Islam dan mewajibkan kaum wanitanya berjilbab, sekedar gak mengangkang sih urusan kecil…

Mungkin memang di Jakarta saja ya aturan itu dibesar-besarkan. Padahal kita gak mengerti kondisi di lapangan. Kita memandang masalah dari kacamata kita yang berada di daerah lain. Kita menghakimi tanpa melihat situasi berbeda yang mereka hadapi. Kita menganggap salah suatu kebijakan yang mungkin memang terbaik untuk warganya.

Terkadang, sebagai emak, kita juga menjadi orang yang sembarang menilai tanpa melihat kondisinya. Entah itu membesar-besarkan masalah orang lain yang kecil, atau mengentengkan problem anak yang seharusnya penting. Sebenarnya kita gak tahu pasti perasaan si anak, atau mengerti dengan benar situasi orang lain tersebut, kita membuat asumsi sendiri atas apa yang kita anggap benar atau salah.

Tentu ada caranya untuk menghindari bias ini. Cobalah mencari informasi lebih banyak, atau mengenal seseorang lebih baik sebelum melakukan penilaian. Deal?