Saya sering mengeluh , walau hanya dalam hati. Sejak menikah sebelas tahun yang lalu, saya tidak pernah lagi berlebaran bersama Emak dan Abah di Garut. Ada saja hal yang membuat rencana berlebaran di rumah Abah dan Emak  dibatalkan. Setiap lebaran datang saya selalu mempunyai harapan. Tetapi, sesaat lalu,  harapan akan  hilang. Abah adalah seorang mantan Kepala Dusun di Garut. Hampir semua warga dikenal Abah, bahkan satu kecamatan.

Enam bulan yang lalu, saya menerima sebuah telepon, katanya, dia adalah salah satu warga abah dari Garut. Saya memanggil beliau Teh Atin. Teh Atin diberikan nomor telepon oleh Abah. Kalau ada apa-apa silahkan telepon anak Abah di sana. Begitu pesan Abah saat itu pada Teh Atin.   Teh Atin berkata bahwa dia baru saja datang di Abu dhabi, bekerja di sektor rumah tangga, Alhamdulillah mendapat majikan yang baik. Di rumah itu Teh Atin bertugas memasak, sedangkan untuk mengepel, mengasuh anak dll, masih ada 16 pembantu lainnya. Lalu Teh Atin tenggelam dalam pekerjaannya, sesekali menelpon memberi kabar bahwa dia baik-baik saja.

Kemarin, Teh Atin menelpon saya kembali, menanyakan kapan saya pulang? Lalu seperti biasa saya selalu bertanya kabar dan keadaan dia di sana. Biar bagaimanapun, saya merasa tertitipi oleh Abah.  Saya berkata bahwa saya akan pulang bulan agustus, dan ternyata Teh Atin hanya diperbolehkan pulang dua tahun sekali. Jadi jika nanti saya pulang Teh Atin ingin menitip korma dan beberapa barang untuk keluarganya. Lalu dia bercerita, gajinya yang sudah tujuh bulan ini, sudah dia gunakan untuk membangun rumah, biaya sekolah kelima anaknya, dan kehidupan sehari-hari keluarganya di kampung. Lalu suaminya? Ternyata suaminya sesekali menjual cilok keliling desa, tetapi namanya juga di desa, kehidupan ekonomi semuanya terbatas, jarang sekali anak-anaknya bisa jajan kapan saja. Jadi terkadang jualannya sepi dan suami Teh Atin kadang berhenti dan hanya mengurus rumah tangga.

Jadi Lebaran ini Teh Atin tidak pulang, tidak berkumpul bersama anak dan suami tidak juga ditanah air, tapi di rantau orang bekerja mengais rejeki halal, Saya selalu mendengar optimisme beliau. Katanya, inilah ‘Kasab” (mencari nafkah) yang mencari nafkah itu bukan saja suami, bisa juga istri. Dan semua tidak ada masalah. Saya sering mendengar sebetulnya berat, jauh merantau tetapi apa daya anak-anak harus terus tumbuh, dan menjalani kehidupannya dimasa depan.

Setelah menutup telepon, sesaat hening di hati saya, Saya tidak berlebaran dengan Emak dan Abah, saya masih bisa webcam, masih bisa pulang setiap tahun,  dan suami dan anak pun masih bersama saya. Tetapi teh Atin tidak akan berlebaran dengan Emak, Abah, Suami, dan anak-anaknya.. Bahkan masih berbulan bulan lagi beliau harus menunggu. Tapi saya merasakan keikhlasan dan rasa syukurnya.

Sungguh Nikmat mana yang Saya dustakan