Aku menerima beberapa surat elektronik dari orang-orang yang membaca tulisanku di blog. Banyak di antaranya menanyakan bagaimana cara menjadi penerjemah sebagai pekerjaan sambilan. Mungkin aku mengecewakan pengirim surat karena membalasnya secara singkat sambil mencantumkan tautan ke postingan yang sesuai di blog. Namun, itulah salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki oleh penerjemah: MEMBACA. Ehm… silakan dilihat bacaanku. #pamer

Memang, tidak ada satu resep khusus yang bisa membuat seseorang menjadi penerjemah secara instan. Menurutku, kuncinya adalah membaca dan memahami apa yang dibaca, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Selain itu, kita harus mampu menuliskan apa yang dibaca ke dalam bahasa sasaran dengan baik.

Walaupun kelihatannya santai, bisa dilakukan di rumah atau di mana saja, penerjemahan bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu. Kita harus berkomitmen penuh, sama seperti terhadap pekerjaan lainnya.

Setelah pensiun dini dari kantor dan memutuskan untuk menjadi penerjemah emak yang satu ini mengikuti kursus penerjemahan yang diselenggarakan oleh FIB UI di Salemba. Kursus ini bukan sembarang kursus. Ada tes saringannya segala, jadi tidak semua orang yang mendaftar otomatis bisa mengikuti kursusnya. Setelah lulus dan punya beberapa contoh terjemahan aku membatin, “Setelah ini bagaimana? Apa yang harus kulakukan agar mengubah kemampuan ini menjadi uang?”

Dari kursus aku mengetahui keberadaan Himpunan Penerjemah Indonesia dan acara Kumang HPI (Kumpul Anggota HPI). Aku mengikuti Kumang (tahun 2009) yang saat itu diadakan di Gedung Pusat Bahasa, Rawamangun. Acara dimeriahkan dengan pemaparan tentang perpajakan dan presentasi Pak Eddie Notowidigdo tentang kiat-kiat menjadi penerjemah sukses.

Ketika Pak Eddie bertanya “Berapa jumlah penghasilan yang dianggap sebagai SUKSES?”

Rp5-10 juta sebulan?

Peserta masih adem ayem, senyum-senyum saja bahkan ada yang menceletukkan angka-angka yang cukup fantastis.

Rp10-15juta sebulan?

Rp15-20juta sebulan?

Pemirsa mulai diam.

Di atas Rp25-30 jutasebulan? (Apakah Mungkin?)

Saat ini perhatian hadirin sudah tersedot, apalagi ketika Pak Eddie mengatakan “Bisa.” Lalu tanpa  menyebutkan nama Pak Eddie mengatakan beberapa contoh hidup alias living example. “Ini Persyaratannya: Pengetahuan & Keterampilan, Profesionalisme, Sarana & Prasarana, Networking, Upaya PEMASARAN& PROMOSI,” imbuhnya.

Aku menyimak salindia-salindia presentasi berikutnya dengan konsentrasi penuh, terutama tentang membuat jaringan dan pemasaran & promosi yang kala itu masih baru bagiku. Tips-tips yang Pak Eddie “bocorkan” terasa sederhana dan mudah diikuti.

Sepulang dari acara, hal pertama yang kulakukan yaitu membuat akun email baru yang lebih bersahaja (dulu emailku [email protected]…….), memperbaiki profil di Facebook, membuat akun di Proz (masih yang gratisan sampai sekarang) dan mendaftar untuk menjadi anggota HPI. Saat itu aku sudah menjadi anggota milis Bahtera.

Walaupun penghasilanku saat ini belum se-WOW angka-angka di atas (bahkan boleh dibilang tidak menentu), tapi cukuplah sehingga harus membayar pajak dan memajang hasil terjemahanku di sini.

Ingin mendapatkan berbagai tips untuk menjadi penerjemah sukses? Datanglah ke acara Temu Kompak (pertemuan HPI, komunitas penerjemah dan kerabat). Bila terhalang aral melintang, silakan unduh materi presentasinya (dalam bentuk PDF), semoga bisa memberikan inspirasi.

Dina Begum.
HPI-01-10-0242