ditulis oleh Julia Amrih – http://sepradik.com

“17 Agustus tahun 45,

Itulah hari kemerdekaan kita,

Hari merdeka, nusa dan bangsa,

Hari lahirnya bangsa Indonesia,

Merdeka!

Sekali merdeka tetap merdeka,

Selama hayat masih di kandung badan.

Kita tetap setia, tetap sedia, mempertahankan Indonesia.

Kita tetap setia, tetap sedia, membela negara kita.”

(Hari Merdeka, H. Mutahar)

***

Lagu Hari Merdeka karangan H. Mutahar ini adalah lagu sering terdengar di bulan Agustus ini, bulan perayaan hari lahir Bangsa Indonesia.

Gema perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus lalu pun begitu terasa. Berbagai kalangan mulai dari yang tua hingga muda ikut merasakan kegembiraan menyambut perayaan setahun sekali ini. Ramainya postingan netizen di media sosial tentang perayaan kemerdekaan membuat perayaannya lebih kental terasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bila beberapa tahun lalu beberapa daerah sempat vakum melaksanakan lomba tujuh belasan, kali ini banyak daerah kembali menyemarakkan hari kemerdekaan dengan berbagai lomba khas tujuh belasan di Indonesia. Balap karung, panjat pinang, gigit sendok kelereng, main bola, pukul bantal, dan lainnya.

Begitulah tradisi masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan. Mulai dari upacara, lomba-lomba, makan-makan, hingga do’a bersama. Semua begitu bahagia memperingati hari lahirnya bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, setelah dijajah Belanda selama 350 tahun ditambah Jepang 3,5 tahun, akhirnya Indonesia bisa merdeka, lepas dari penjajahan. Setelah bertahun-tahun kita dijajah negara lain, dibatasi makan hasil negeri sendiri, dipaksa kerja keras tanpa upah yang pasti, bahkan sengaja dibodohi di negeri sendiri, akhirnya kini bisa berdiri di kaki sendiri.

Karena itulah para pejuang sangat ingin lepas dari penjajah dan menginginkan kemerdekaan. Berbagai cara mereka lakukan, mulai dari perang secara gerilya, dipukul, ditembak, diadu domba, semua mereka terima dengan lapang dada demi mimpi Indonesia merdeka.

Kini, 72 tahun Indonesia telah merdeka. Setiap tahun di bulan Agustus, masyarakat Indonesia mengadakan banyak acara sebagai wujud syukur Indonesia telah merdeka. Setiap tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia melaksanakan upacara bendera guna mengenang detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Jika memang semua rangkaian acara di bulan Agustus ini kita adakan dalam rangka wujud syukur atas kemerdekaan bumi pertiwi tercinta,  mengapa hanya selama satu bulan ini kita mensyukurinya?

Mengapa tidak di setiap bulan kita mensyukuri kemerdekaan ini? Mengapa wujud syukur ini diisi dengan berbagai kegiatan yang bertentangan dengan perintahNya. Bukankah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari kuasa dan kasih sayangNya? Lalu mengapa harus ada kegiatan yang bertentangan dengan  ketetapanNya di bulan kemerdekaan ini?

Seperti yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia. Panitia mengadakan kegiatan pawai baris berbaris dari siang hingga malam, dimana tidak ada kesempatan para peserta untuk menunaikan kewajibannya, kecuali atas inisiatif mereka sendiri.

Haruskah kita melaksanakan lomba setiap hari di bulan yang lain agar senantiasa merasakan semangat nasionalisme di bulan yang lain?

Apa yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri kemerdekaan?

Tidak perlu muluk-muluk, cukup lakukan 3 hal sederhana ini.

  1. Mulai dari diri sendiri
    • Mulailah dari diri kita terlebih dahulu. Lakukan terbaik dari yang kita bisa. Bila kita hanya sebatas ibu rumah tangga, jadilah ibu rumah tangga terbaik. Didiklah anak-anak sebaik mungkin agar bisa menjadi generasi terbaik yang akan mengelola negeri di kemudian hari. Tentu para pejuang begitu gigihnya berjuang membela negara tak mau melihat negerinya rusak dihancurkan anak cicitnya sendiri.
  2. Mulai dari yang kecil
    • Tak perlu mendaki gunung yang tinggi lewati lembah yang terjal agar kita dinilai bersyukur atas kemerdekaan Indonesia, meski sah-sah saja bila ingin melakukannya. Cukup lakukan hal kecil sederhana, sudah menunjukkan betapa kita cinta Indonesia. Membuang sampah pada tepatnya, antri ketika di tempat umum, menaati lalu lintas, adalah hal kecil sebagai wujud syukur kita atas Indonesia merdeka.
  3. Mulai dari sekarang
    • Jangan menunggu bulan Agustus kita baru mau bersih-bersih sekolah. Baru mau menyantuni keluarga pejuang. Lakukan semuanya sekarang, tak perlu menunggu nanti.

Begitulah sedikit tentang wujud syukur atas kemerdekaan Indonesia. Sesuai janjiNya, siapa yang bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Sebaliknya, mereka yang mengingkari, akan dikurangi nikmatnya. Jangan-jangan segala carut marut yang terjadi di negeri ini terjadi karena kita kurang bersyukur atas kemerdekaan yang kita peroleh. Jadi, tunggu apalagi? Mari kita wujudkan rasa syukur kita terhadap kemerdekaan Indonesia dalam wujud tindakan nyata. Merdeka!

***

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan adalah blogpost trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Najwa Shihab.

Julia, seorang Ibu Rumah Tangga dengan seorang anak berusia 22 bulan. Saat ini tinggal di Probolinggo, Jawa Timur.