Hihihi, jangan pakai prinsipnya orang mau makan ya, yang suka dibalik. Alias Sedikit tak cukup, banyak habis. Kalau ini kelewatan jika sampai terjadi, apalagi dalam masalah keuangan keluarga. Hidup sekarang ini, pakai uang. Dan, harus hemat uang.

Di Bandung saja, saya harus beli air untuk memasak. Untuk mencuci baju juga akhirya harus pasang filter agar air yang ngalir dari kran bersih, tidak berwarna kuning. Belum lagi listrik pakai token, yang biayanya lebih besar dari yang meteran. Huwaaaaaa, harus putar otak nih, biar tidak besar pasak daripada tiang. Agar uang yang masuk cukup. Kalaupun ada lebihnya tidak habis.

Nah, ini resep hemat uang saya dalam mengontrol keuangan keluarga. Oh ya, tiap keluarga tuh kondisinya bisa sangat berbeda ya. Tentu masalah mengatur keuangan menyesuaikan dengan kondisi keluarga.

Belanja Grosiran

Ini merupakan cara berhemat yang saya lakukan dalam rumah tangga. Iya, jadi setiap awal bulan atau akhir bulan sebelumnya, berberlanja langsung banyak di toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari secara grosir. Saya tahu lah, sebulan habis santan instan berapa buah, diapers anak berapa bungkus yang besar itu, buat puding berapa kali, tisu basah habis berapa, tisu kering juga biasanya habis berapa, dsb. Nah, saya belanja sekalian saat itu, sehingga tidak bolak-balik belanja. Irit ongkos bensin juga.

Pengeluaran di ranah ini tidak termasuk jajanan anak ya dan kebutuhan makan seperti lauk dan sayur.

Belanja di Warung Tetangga/Terdekat

Prinsip ini dipakai ketika membeli kue buat anak-anak secara harian saja. Anak saya, ketiganya doyan makan. Kalau langsung ada stok biskuit yang isi banyak, akan habis juga dalam sehari. Sedang mereka juga bosan jika hanya ada 1 jenis cemilan saja (misal biskuit saja). Otomatis harus beli minimal 3 jenis cemilan. Nah, akan sangat tidak hemat jika nyetok di rumah untuk kemasan isi yang banyak. Mata mereka tak kuat memandang, perut terus menendang. Menerapkan aturan agar makan tak berlebihan, sejauh ini belum mempan. Makanya, diakali dengan belanja kue yang kemasan kecil (biasanya seribuan/dua ribuan) di warung tetangga/terdekat.

Oh ya, belanja sayur dan lauknya juga di warung tetangga/terdekat ya. Namun tidak setiap hari. Saya belanja langsung untuk kebutuhan 2-3 hari. Mengapa tidak setiap hari ke pasar? Karena jauh dari pasar, dan kalau ke pasar keluar ongkos bensin. Mengapa tak setiap hari ke warung tetangga/terdekat untuk belanja sayur dan lauk? Kalau sudah nyetok untuk 2-3 hari, maka hari kedua dan ketiga tak ada keinginan nambah belanjaan di warung tetangga/terdekat. Berbeda jika tiap hari ke warung. Niat dari rumah mau beli ayam saja buat soto. Eh, di warung lihat ada ati ampela, trus kepikiran mau masak semur saja, jadinya beli ayam dan ati ampela. Jadi dobel pengeluaran, kan?

Cemilan Selang Seling

Selain itu, variasi cemilan anak juga perlu dilakukan agar menghemat keuangan namun anak tak bosan dengan yang dimakannya. Jadi misal hari ini sudah jajan kue kering per anak 3 bungkus, besoknya saya buatkan puding dan pisang goreng di rumah. Keesokan laginya membuat beli kue basah di luar. Lanjut membuat pancake sendiri di rumah, dst. Selang-seling. Sering kali juga cemilan anak itu dengan membuat sendiri seperti ubi kukus atau jagung rebus. Buat sendiri itu enaknya serumah bisa makan.  Yang cemilannya beli di luar enaknya tuh barengan sama saya dan suami puasa. Jadi kitanya nggak ngiri lihat beli jajan di luar. Hihihi..

Apabila 1 hari anak-anak membeli kue kering di luar, yang notabene nggak mengenyangkan, maka saya di rumah bisa mengakali juga dengan membuat lauk dari bahan karbo yang bisa dimakan tanpa nasi juga, seperti bakwan jagung atau perkedel.

Sediakan Buah, Kurangi Konsumsi Susu, Tidak Membiasakan Minum Minuman Kemasan

Dan cara berhemat soal makanan itu terutama bagi anak-anak yang doyan makan, adalah dengan menyediakan buah di rumah. Terutamanya yang mudah mengenyangkan seperti pisang. Atau yang mengandung air cukup banyak seperti jeruk, semangka. Atau yang harganya terjangkau, seperti pepaya. Jika sudah ada 2-3 jenis buah, tidak ada lagi makan kue. He..Syukurlah anak-anak cukup kompromi dalam hal ini.

Dan yang tak kalah penting, anak dikurangi konsumsi minum susu baik dari kemasan kaleng, kotak besar, atau kotak kecil. Bayangin saja, 1 kotak susu yang kecil harga 3000. Anak saya 3 berarti kalau per anak jatahnya 1, saya harus beli 3. Keluar uang 9000. Jika tiap hari, maka sebulan habis 30 x 9000 =270.000. Susu doang, nih! Bagi keluarga kayak saya dengan saya tidak bekerja, eman sekali. Sedangkan minum air putih justru lebih sehat. Anak saya minum susu, tapi amat jarang. Selain itu membiasakan anak tidak minum minuman kemasan juga efektif menghemat pengeluaran. Misal Sabtu dan Minggu piknik, cukup bekal air putih dari rumah saja.

Ada Pembukuan

Cieeeee, berasa jadi ahli akuntansi. Ya iyalah, itu memang harus dibisai. Dengan adanya pembukuan akan ketahuan mana pengeluaran yang tidak penting dan tidak perlu mendesak, hingga selanjutnya tak perlu ada pos keuangan untuk hal tersebut. Buku yang isinya debit kredit banyak kok dijual, tinggal ngisi. Dengan pembukuan yang rapi juga akan tahu, setiap bulan ritme pengeluaran seperti apa, sehingga ke depannya bisa ditentukan rincian pengeluaran dengan lebih valid. Tentu, sisihkan dulu untuk menabung, berbagi, dan membayar utang terlebih dahulu. Lebih hemat uang kan.

Prinsip Sekalian Jalan

Ini lebih ke hemat BBM sih. Jadi beli buku sekalian belanja grosiran. Beli kue basah sekalian berangkat antar anak-anak kegiatan di luar. Belanja ke pasar (ada kalanya sepekan sekali) sekalian ke atm ambil uang. Dsb.

Begitu sih. Jika komitmen dilakukan, berhasil kok menabung. Jika konsisten dijalani, hidup tak merana lagi. Hihihi. Akhir bulan masih bisa senyum kelihatan gigi.

****

Sedikit Cukup, Banyak Tidak Habis adalah post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Sri Mulyani yang ditulis oleh Henny Puspitarini.