Saat Si Kecil mulai beranjak remaja, mereka tak ingin diperlakukan seperti anak kecil. Jika dahulu mereka senang ikut kemana pun ayah dan ibu pergi, saat usia mulai memasuki hitungan belasan, mereka mulai selektif memilih kapan ikut orangtua bepergian dan kapan tidak. Begitu pun dalam menyampaikan pesan terutama yang terkait dengan masalah agama. Sepertinya sulit ya. Nah, kali ini ,saya ingin berbagi pengalaman menyuntikkan pesan agama ke kedua anak remaja saya.

Saat keduanya masih kecil, mereka sudah dikenalkan dengan berbagai macam bacaan. Mereka tak saya biarkan memiliki gawai. Terkadang meminjam gawai saya atau ayahnya. Untuk menghindari mereka mengenal media sosial melalui teman atau orang lain, yang belum bisa dijamin tepat cara mengajarinya, saya sendiri yang membuatkan akun media sosial, facebook, melalui email yang saya buat khusus.

Semakin besar, mereka semakin sering bermain gawai. Beruntung mereka bersekolah di salah satu SMP di kabupaten kami, yang menerapkan larangan membawa gawai ke sekolah. Sehingga mereka hanya bisa mengakses benda tersebut di rumah. Begitu duduk di kelas 10 bangku SMA, anak sulung saya mulai menuntut untuk dibelikan telepon pintar. Alasannya karena banyak temannya sudah memiliki gawai, komunikasi sesama teman sudah lebih sering dengan aplikasi percakapan seperti line atau whatsapp, dan beberapa tugas kelompok sudah membutuhkan benda tersebut.

Hal ini agak mengkhawatirkan bagi saya. Tentu saja saya tak mau fungsi pengasuhan saya digantikan oleh sebuah benda mati bernama gawai. Meski budaya membaca bisa melalui ebook yang dapat diakses dengan gawai, namun saya belum yakin, kebiasaan membaca buku anak-anak saya, akan tetap terpelihara, jika mereka terlalu sering bercermin pakai gawai.

Pesan Agama

Saya lupa tepatnya, apakah dua atau tiga tahun lalu, saya berhenti di salah satu rak toko buku untuk mencari buku agama. Mata saya tak sengaja jatuh pada sebuah buku dengan gambar sampul tak biasa. “Kenapa ada komik di rak buku agama?” sekilat saya bertanya. Lalu kemudian tersenyum dalam hati. Menit berikutnya, saya sudah asik memilih komik yang rupanya berisi pesan agama.

Tiap buku komik yang dipajang di rak tersebut, memiliki judul yang merupakan tema dari semua cerita yang dimuat di dalamnya. Pesan agama disampaikan melalui cerita yang lucu dan ringan. Saya merasa menemukan alat bantu baru dan kekinian untuk menyampaikan pesan kepada kedua remaja laki-laki saya di rumah. “Komik pasti bisa menarik perhatian mereka, seperti halnya gawai,” demikian saya berkeyakinan.

Dengan keyakinan besar tersebut, saya beli dua buah komik . Tebakan saya tepat. Hanya dalam waktu tak cukup sejam, mereka sudah menghabiskan dua buku. Bagi dua anak laki-laki saya, membaca komik bergambar dengan alur cerita lucu, lebih mudah diserap daripada buku agama yang berisi banyak teks.

Anak laki-laki yang lahir di era digital, cenderung lebih suka hal simple. Pernah beberapa kali saya membelikan buku agama, salah satunya berjudul “Anak Muda Keren.” Tapi mungkin karena isinya lebih banyak teks, mereka kurang semangat membacanya.

Pesan Agama

Melihat antusiasme mereka, saya melanjutkan dengan menyediakan buku-buku lain. Beberapa buku tersebut sudah dipinjamkan ke teman-temannya yang datang ke rumah. Komik favorit yang enggan dipinjamkan ke orang adalah yang berjudul 99 Pesan Nabi, yang merupakan cerita yang memuat pesan dari Hadits Bukhari-Muslim. Komik yang terdiri dari 400 halaman ini, lumayan tebal dan berisi 99 cerita. Keren kan?

Menyediakan komik berpesan agama bagi saya, laksana sedang meminimalisir nasehat panjang lebar tuk mereka. Pun mengurangi frekuensi mengomel ke mereka, jika mereka mulai menunda-nunda atau lupa sholat. Cukup diingatkan salah satu dari cerita di komik tersebut, mereka insya Allah akan teringat kembali.

Tipsnya, kita sendiri yang harus terlebih dahulu membaca komiknya, sebelum menyerahkan ke anak. Tertarik menyuntikkan pesan agama dengan cara kekinian? Sodorkan komik ke anak remaja Anda.

****

Pesan Agama Tuk Remaja Melalui Komik adalah post trigger #KEBloggingCollab yang ditulis oleh Andi Bunga Tongeng (Unga) untuk kelompok Anggun Cipta Sasmi.

Unga atau Andi Bunga Tongeng, pengelola blog di www.ungatongeng.com, juga seorang Volunteer for Children LeMiNa (Senyum untuk Anak Indonesia).