Perdamaian, rasanya di dunia ini hampir tidak ada orang yang tidak ingin hidup damai ya mak?! Hidup aman, nyaman, berdampingan, tanpa konflik dan perselisihan. Lalu bagaimana peran ibu dalam mewujudkan perdamaian?

Dalam rangka menyambut peringatan Hari Ibu, tanggal 4 Desember 2017 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (KPPA) mengadakan sebuah simposium nasional dengan tema “The Role Of Mother For Peace Building” atau “Peran Ibu Dalam Mewujudkan Perdamaian” yang di selenggarakan di Shangrilla Hotel, Jakarta.

Simposium ini di hadiri oleh ibu Yohana Yambise, Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Anak, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, dan first lady atau ibu negara Afghanistan Rula Ghani. Simposium ini di hadiri oleh 500 perempuan, terutama ibu-ibu berbagai organisasi, dan perwakilan daerah. Dalam kesempatan ini, member Kumpulan Emak Blogger (KEB), berkesempatan menghadiri simposium dan ini hasil reportasenya.

***

Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak, termasuk di dalamnya mengajarkan perdamaian, contoh real ini biasa kita alami ketika anak sedang bermain bersama temannya, atau biasanya di alami oleh ibu yang mempunyai anak lebih dari satu, tentu paham bagaimana rasanya ya mak!?

Menanamkan nilai-nilai perdamaian ketika anak-anak sedang berselisih satu sama lain, menjadi penengah yang adil saat anak sedang bertengkar, bagaimana membagi rasa cinta, kasih dan sayang kepada anak dengan adil agar tidak menimbulkan kesalah pahaman, tentu sebuah peer tersendiri bagi ibu.

Seorang ibu berperan besar dalam pembentukan nilai, watak, karakter, dan kepribadian anak-anaknya, termasuk sebagai penyebar perdamaian, dan ibu ternyata punya kemampuan untuk mencegah konflik melalui lingkungan keluarga, dan lingkungan sosial

Sayangnya, ibu seringkali tidak punya kuasa penuh dalam menggerakkan perdamaian, masih ada faktor lain seperti budaya kekerasan, beban ganda, perlakuan diskriminatif, isu kesetaraan dan sempitnya ruang dan peluang komunikasi, hingga ibu akhirnya memilih diam, bungkam, tidak mampu maksimal memenuhi perannya.

Simposium ini adalah kesempatan bagi ibu, menyadari pentingnya memahami dan beraksi dalam peran aktif  mewujudkan perdamaian, membongkar simpul-simpul yang selama ini menghambat peran ibu. Momen bagi ibu untuk bangkit, menjadi peace maker terutama di dalam keluarga masing-masing, dan lingkungan masayarakat sekitar.

Kita beruntung sekali loh mak?! Menjadi emak-emak Indonesia, setidaknya itu yang di sampaikan oleh ibu negara Afganistan, Rula Ghani. Berasal dari sebuah negara yang masih di dera konflik perang sipil berkepanjangan, beliau sangat senang sekali berada di Indonesia dan punya harapan yang sangat besar suatu saat negaranya bisa seperti Indonesia, hidup berdampingan dalam damai.

Perpecahan, pertikaian, bom bunuh diri, bombardir senjata, desingan peluru lekat dalam keseharian hidup di Afghanistan, serangkaian perundingan dan gencatan senjata belum menghasilkan perubahan hidup yang signifikan di Afghanistan, karena itulah kunjungan nya kali ini juga di manfaatkan untuk belajar langsung dari Indonesia, bagaimana caranya Indonesia bisa hidup damai di tengah keberagaman.

Peran Ibu dalam Mewujudkan Perdamaian

Salah satu  yang paling menarik perhatian beliau adalah bagaimana Indonesia mampu mengatasi konflik sosial dengan menggunakan undang-undang terkait managemen konflik sosial nomor 7 tahun 2012, sebuah pemikiran yang luar biasa dalam melindungi dan memberikan rasa aman, serta membebaskan orang-orang dari semua bentuk diskriminasi dan kekerasan. Beliau juga meyakini bahwa perempuan memiliki peran penting di masyarakat, dalam membantu mewujudkan perdamaian.

Simposium ini juga menghadirkan narasumber yang menguatkan arti pentingnya peran ibu dalam mewujudkan perdamaian, di antaranya ada:

  • Gusti Kanjeng Ratu Hemas, yang memberikan paparan mengenai Penyelesaian konflik dalam pendekatan kultural, dengan menggerakkan masyarakat sipil di RT dan RW untuk mencegah penikahan usia dini di Yogyakarta, terutama di kabupaten Gunung Kidul.
  • Suraiyya Kamaruzzaman dari Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Dosen Unsiyah Aceh, yang membawakan topik ibu sekolah pertama untuk membangun dan merawat perdamaian.
  • Yenni Wahid dari Wahid Foundation, yang mengulas Potret Intoleransi dan perkembangan radikalisme di Indonesia, terutama pada anak-anak usia remaja, yang menjadi sasaran radikalisme.
  • Sitti Noorjanah ketua PP Aisyiyah yang membahas peran ulama perempuan dalam menanamkan konsep perdamaian kepada jamaah untuk di implementasikan ibu kepada anak-anaknya

Meski secara umum kita hidup dalam damai, bukan berarti sama sekali tidak ada perselisihan, dengan keragaman suku, budaya, bangsa, agama, kepercayaan, bahasa, dan cakupan geografis yang sangat luas, ada beberapa konflik yang masih hangat menjadi headline berita.

Peran Ibu dalam Mewujudkan Perdamaian

Menurut GKR Ratu Hemas, korelasi pernikahan usia anak dan KDRT(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) menghambat terwujudnya hidup damai. Seperti yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul, di mana kasus KDRT meningkat 75%, karena tingginya jumlah pernikahan usia anak. Mereka yang seharusnya masih usia sekolah ternyata malah menikah, entah itu karena kesadaran sendiri (baca; ketidak tahuan dampak pernikahan usia anak) dipaksa ataupun terpaksa.

KDRT menjadi bibit konflik sosial yang terjadi di masyarakat. Karena selain ibu, ada anak-anak yang terdampak, mereka terbiasa melihat bahkan juga menjadi korban kekerasan, ini menjadi efek domino yang menghadirkan kekerasan baru dan membuat lingkaran kekerasan sulit di urai.

Ibu Suraiyya Kamaruzzaman, menyingkap fakta bahwa masih banyak ibu-ibu yang sedari anaknya masih dalam kandungan sudah didengungkan pesan perang yang tidak pada porsinya, salah satunya masih banyak dijumpai di provinsi DI Aceh.

Pesan dan nasihat ibu masuk di alam pikiran bawah sadar anak-anak, dan ini menjadi kontra, karena saat ini kita tidak sedang berperang, tapi membangun dan mengisi kemerdekaan. Ibu seharusnya memotivasi anak-anak semangat dan rajin belajar, agar menjadi putera terbaik Indonesia.

Peran Ibu dalam Mewujudkan Perdamaian

Sementara itu, Ibu Yenni Wahid menjelaskan tentang bahaya lain yang saat ini mengintai anak-anak kita, selain anak terpapar narkoba, pornografi, pergaulan bebas,yang perlu di khawatirkan orang tua yaitu radikalisme berbasis agama pada anak-anak remaja, mereka adalah sasaran utama kaum radikal dalam menunjukkan eksistensinya.

Ketika anak sudah terpapar radikalisme, akan sulit untuk dijangkau dan diraih kembali. Anak akan tegas mengambil jarak dengan orangtua, karena mereka menganggap orangtua yang tidak berkeyakinan sama sebagai “orang luar”

Lalu apa yang bisa di lakukan ibu untuk mencegah hal ini, yang pasti ibu sejak dini harus peka terhadap perubahan yang tidak biasa pada anak, walaupun dalam tanda kutip mereka terkesan berubah menjadi anak baik, soleh solehah dari segi ibadah dan perilaku.

Ibu jangan langsung senang, cari tahu, siapa yang membawa perubahan kepada anak. Kenali teman-teman pergaulannya termasuk juga orangtuanya. Biasanya radikalisme sudah tak terbendung  ketika anak menjadi tertutup dan tidak melibatkan orangtua dalam keputusan-keputusan penting, seperti pindah kerja, pergi dari rumah, bahkan menikah diam-diam.

Peran Ibu dalam Mewujudkan Perdamaian

Menyikapi dinamika peran ibu dalam perdamaian tentu sangat panjang, lebar, dan luas sekali jangakauannya. Untuk semakin memetakan persoalan, simposium nasional “Peran Ibu Untuk Perdamaian” juga di isi dengan forum diskusi yang di bagi menjadi tiga kelompok, yang menghasilkan beberapa konklusi di antaranya:

  • Kebijakan yang tegas dalam melindungi perempuan dan anak, khususnya melakukan revisi Undang Undang tentang batas usia perkawinan untuk mencegah perkawinan Usia Anak.
  • Mendorong penguatan peran Ulama, ulama perempuan, dan tokoh agama, untuk aktif menyuarakan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, memberikan dakwah yang mengedepankan keadilan gender, dengan memberi materi dakwah yang berimbang.

Contoh, saat membahas kewajiban isteri yang harus patuh pada suami, maka bahasan peran suami yang  bertanggung jawab, memberi perlindungan, kasih sayang dan lemah lembut juga harus di tekankan. Karena laki-laki dan perempuan, suami dan isteri sesungguhnya setara sebagai manusia di hadapan Allah yang membedakan adalah ketakwaannya.

  • Memberikan penyadaran dan pemahaman mengenai pentingnya kesiapan mental dan sosial bagi mereka yang akan memasuki perkawinan.
  • Mengadopsi pengalaman-pengalaman dan program yang terbukti berhasil di beberapa daerah dalam mengoptimalisasi upaya pencegahan kekerasan berbasis gender dan penghentian praktik perkawinan anak dan mempekuat peran ahli agama dalam sosialisasi undang-undang KDRT.
  • KDRT bukan lagi wilayah privasi yang harus di sembunyikan dan di tutupi, KDRT sah-sah saja menjadi urusan publik, karena negara sudah mengaturnya dengan undang-undang dan akan ada konsekuensi hukum yang harus di tanggung ketika seseorang melakukan KDRT
  • Memberikan kesadaran dan pemahaman lebih luas dengan menghadirkan lebih banyak laki-laki dalam forum-forum, ruang diskusi dan edukasi tentang KDRT. Selama ini diskusi tentang KDRT lebih banyak di hadiri oleh perempuan yang notabene sebagai objek. Karena faktor budaya, kultur, atau psikologis, banyak pelaku KDRT, tidak menyadari bahwa dirinya adalah pelaku kekerasan.
  • Menguatkan jalinan universal, lintas agama, suku, golongan, dan ras dengan nilai-nilai persaudaraan keislaman (ukhuwah islamiyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah)
  • Memaksimalkan peran media, dan channel media sosial dalam memberikan informasi, edukasi, dan solusi yang medukung dan memperkuat peran ibu dalam menggelorakan prinsip-prinsip perdamaian.
  • Mendorong terus dilakukan deradikalisasi dan kontra-terorisme, untuk mencegah intoleransi, radikalisasi dan terorisme. Mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan, termasuk mendidik anak-anak dengan penafsiran agama yang cinta damai, menjauhi kebencian dan permusuhan.

Makin panjang saja yah mak perjuangan kita menjadi ibu, Semoga dengan simposium nasional ini bisa menjadi modal kita ibu-ibu, berani melangkah bersuara. Atau paling tidak, kita mulai dari anak-anak kita, keluarga kita, biasakan prinsip hidup damai, menanamkan nilai toleransi, kasih sayang kepada sesama, taat hukum, dan hidup sesuai norma yang berlaku, agar terwujud keamanan, stabilitas, ketenangan, kepercayaan dan perdamaian.

Tentu saja ini akan terwujud jika setiap ibu di setiap keluarga menerapkan prinsip yang sama, maka mimpi untuk mewujudkan perdamaian abadi dengan skala yang lebih besar, dalam lingkup yang lebih global tentu bukan hal yang mustahil. Semoga kedamaian dan perdamaian mengiringi perjalanan umat manusia selamanya ya mak.