Di beranda Facebook saya sering muncul cerita teman-teman seputar diet. Entah itu diet mayo, diet keto, OCD, food combining dan macam diet yang berhubungan dengan tubuh atau badan. Tapi, tahukah emak, kalau ada diet yang tidak berhubungan kenaikan berat badan? Diet kantong plastik, pernah dengar?

Diet Kantong Plastik, Apakah itu?

Maks, sedang menjalankan diet apa saat ini?

Kalau saya, karena merasa berat badan baik-baik saja, belum tertantang untuk diet. Huhuhu, alasan yang salah total ya Mak. Karena diet nggak melulu untuk mengatur berat badan kan? Apalagi dengan usia yang sudah mendekati kepala empat, harusnya sudah diet untuk menjaga kesehatan. Baik kesehatan saat ini maupun investasi kondisi badan di masa tua.

Tahu teori tapi belum tertarik untuk melakukannya (huh!!!). Padahal, beberapa kali cek kesehatan menunjukkan kolesterol sudah sedikit di atas batas maksimal. Panganan yang digoreng-goreng memang masih jadi godaan besarrr. Semoga setelah menulis ini jadi tergerak untuk memulai.

Saking familiernya istilah diet, penggunaannya sekarang tak melulu untuk pengaturan konsumsi pangan, tapi juga non-pangan. Seperti yang sekarang saya lakukan, alih-alih diet makanan, saya justru diet kantong plastik. Yups, kantong plastik alias kresek.

Emak-emak sudah familier dengan diet satu ini kan? Atau bahkan sudah ada yang jadi aktif dalam Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP)? Saya sih belum sampai jadi aktivis yang bergerak keluar, baru jadi aktivis level rumah tangga.

Entah kapan saya mulai berniat melakukan diet ini. Mungkin mulai intens sejak bergelar “emak-emak rumah tangga”, yang tak lepas dari aktivitas belanja, baik belanja besar maupun belanja kecil. Mau belanja di warung dekat rumah hingga di emol-emol, kantung plastik lazim digunakan sebagai wadah barang-barang. Bagaimanapun, kantong plastik memang sangat praktis dalam penggunaannya. Jika tidak dikontrol, rasanya dalam sehari selalu ada saja kantong plastik yang “dikonsumsi”.

Sebenarnya diet kantong plastik bukan hal baru buat saya.

Yang saya ingat, sejak kecil pun orang tua saya punya kebiasaan untuk tidak begitu saja nyampah kantong plastik. Kebetulan, dulu emak punya warung kecil-kecilan di rumah. Kantong plastik yang masih bagus selalu disimpan untuk kantong belanjaan pembeli di warung kami. Bahkan, saya ingat almarhum Bapak sering menyimpan plastik bening bekas kantong gula pasir. Plastik bening itu beliau potong-potong memanjang dan digunakan sebagai tali saat menyambung (enten/grafting) tanaman kopi di kebun. Seperti halnya warga kampung lainnya, penggunaan kantong plastik secara berulang dikarenakan alasan penghematan. Tinimbang tuku anyar alias daripada beli baru. Kan mesti keluar duit.

Dengan bertambahnya wawasan dan pengetahuan, saya jadi tahu kalau diet kantong plastik bukan hanya masalah penghematan, tapi juga soal turut menjaga kelestarian bumi.Tentu saja, untuk tujuan besar itu, diet kantong plastik hanya satu langkah kecil.Faktanya, langkah besar untuk menghadang masifnya produksi dan konsumsi kantong plastik dengan kebijakan pemerintah masih menghadapi banyak kendala. Penggantian kantong plastik sintetis dengan kantong plastik berbahan alami juga baru sedikit dilakukan (karena harganya lebih mahal). Bahkan, program kantong plastik berbayar yang sempat dilakukan dan konon berdampak positif, sekarang justru tak ada lagi. Jadi, langkah kecil sekalipun layak dilakukan sebagai dukungan terhadap langkah besar yang sampai sekarang belum terwujud nyata.

Bahaya Kantong Plastik

Tanpa harus tanya teman, buka buku, atau browsing, kita pasti dengan mudah menyebutkan aneka bahaya sampah kantong plastik. Terutama jika dibuang sembarangan. Sehelai sampah kantong plastik mungkin tak terlihat berbahaya. Namun bagaimana bila beribu-ribu bahkan berjuta-juta helai?

Dilansir dari www.cnnindonesia.com (2016), pemakaian plastik dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam waktu setahun saja sudah mencapai 10,59 juta lembar kantong plastik (berarti belum termasuk penggunaan di ritel lain dan pasar-pasar tradisional!).  Tanpa pengendalian signifikan, total sampah plastik akan mencapai 9,52 JUTA TON (sengaja dengan huruf besar) pada tahun 2019.  Padahal, bahaya sampah kantong plastik itu berderet, seperti berikut ini :

  • Menyebabkan banjir saat terakumulasi di saluran air.
  • Mengakibatkan pencemaran tanah karena sulit terurai
  • Termakan binatang ketika terpecah-pecah menjadi partikel-partikel kecil. Di perkampungan, binatang peliharaan (seperti ayam dan sapi) biasa dilepaskan dan kemudian mencari makan di kebun-kebun yang sering jadi tempat pembuangan sampah. Sedangkan di laut, partikel sampah plastik bisa dimakan ikan dan hewan laut lainnya.Hal itu sangat berbahaya karena ada potensi binatang dan ikan tersebut dikonsumsi manusia.
  • Pembakaran secara serampangan bisa menimbulkan pencemaran udara.
  • Bahan baku kantong plastik yang berasal dari material tidak terbarukan. Sehingga konsumsi plastik yang tidak terkendali akan turut menghabiskan sumber daya tersebut.

Cara Diet Kantong Plastik

Diet saya belum tergolong ekstrim sih. Jujur saja, saya belum bisa sepenuhnya lepas dari penggunaan kantong plastik. Tapi setidaknya, saya sangat berusaha meminimalisasi penggunaan kantong plastik dengan cara-cara di bawah ini :

  • Membawa tas sendiri saat berbelanja.Dulu saya pernah punya tas anyaman yang cukup besar. Enak banget sih kalau buat belanja kebutuhan dapur di pasar, bisa nampung banyak. Tapi sekarang nyaris tak pernah belanja ke pasar. Sehari-hari belanja ke warung dekat rumah. Tas anyamannya jadi pensiun digantikan tas kain.
  • Membawa tas kosong saat bepergian untuk antisipasi belanja mendadak. Kalau saya nih, dalam perjalanan menjemput anak dari sekolah, sering ada sesuatu yang tiba-tiba baru ingat kalau harus dibeli atau si bocah memang mendadak butuh sesuatu. Jadi deh mampir toko/warung, dan si empunya toko nyaris selalu “berbaik hati” memberikan kantong plastik, bahkan walaupun barang yang kita beli berukuran kecil dan bisa masuk saku. Oh ya, nggak cuma sekali lho ketika saya bilang “nggak usah pakai kresek” dan si penjual kurang lebih bilang “ah, nggak pantes lah, masa telanjang belanjaannya”. Baru tahu kalau barang belanjaan ternyata butuh “pakaian” hahaha.
  • Menggunakan kantong plastik secara berulang.Biasanya, kantong-kantong plastik akan saya pilah-pilah, yang masih bagus akan saya gunakan kembali. Yang sudah nggak mungkin dipakai, mau tak mau jadi sampah. Keberadaan kantong plastik di rumah saya biasanya karena tiga hal : pertama saya lupa bawa tas saat belanja (duuh, rasanya seperti kecolongan), kedua ada situasi di mana mau tak mau mesti menerima kantong plastik (misal dikasih oleh-oleh teman dalam bungkusan plastik, belum tega untuk bilang “oleh-olehnya saya ambil, ini saya kembalikan kreseknya :P), ketiga suami membeli sesuatu dan pasti pakai kresek (semangat diet kantong plastiknya belum menular ke suami hihihi).
  • Memberikan kumpulan kantong plastik ke orang yang membutuhkan. Ada kalanya kantong plastik yang kondisinya masih bagus menumpuk juga di rumah. Berhubung saya lipat rapih, ada lho ibu pemilik warung belanjaan dengan sukacita menerimakresek bekas ini. Bagi warung kecil, lumayan buat penghematan pengeluaran walau cuma beberapa rupiah. Toh kantongnya masih bersih. Poin dietnya, ini jadi pemakaian berulang daripada dibuang begitu saja.

Hmmh..bukan diet yang ekstrim memang. Namun, justru karena tidak ekstrim, siapa saja bisa melakukan. Selanjutnya, tidak tertutup kemungkinan untuk meningkatkan intensitas dietnya. Jadi, yuk mulai diet kantong plastik sekarang juga!

***

Diet Kantong Plastik, Apa Itu? merupakan post trigger #KEBloggingCollab kelompok Anggun C. Sasmi yang ditulis oleh Lisdha, yang bernama komplit Lis Dhaniati.

Emak-emak rumah tangga yang saat ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Blognya bisa dikunjungi di webblog www.daily-wife.com.