Rasanya tidak ada yang tidak kesal jika mengalami pesawat delay. Kami pernah mengalaminya. Seperti ini ceritanya.

***

Liburan kali ini, kami memutuskan untuk menghabiskan hari libur di Lombok, mengunjungi kakak nomor dua.

Rencana berlibur ini sudah dilakukan sejak sekitar dua tahun lalu. Anak-anak bahkan menabung untuk tiket pesawat.

Waktu yang diambil adalah pekan pertama libur semester, sebab pekan kedua Ayah sudah masuk kerja.

Kami mengambil penerbangan sore hari.
“Lebih enak kalau terbang pagi hari. Antisipasi jika terjadi cuaca buruk, atau delay,” komentar adik ipar.

Sore hari belakangan ini memang sering turun hujan. Satu kondisi yag tidak kami perhitungkan saat memesan tiket sebulan lalu.

Bismillah, semoga perjalanan lancar.

Kami berangkat dari Jombang pukul sebelas siang. Rata-rata perjalanan Jombang – Sidoarjo (Bandara Juanda) adalah sekitar dua jam. Kami berhenti dulu untuk sholat dan makan siang.

Kekhawatiran adik ipar itu mulai tercium bau kehadirannya. Pada board, terpampang delay beberapa penerbangan. Status penerbangan kami masih ‘aman’.

Kami memasuki ruang tunggu. Sudah penuh sesak! Sulit mencari kursi kosong. Sebenarnya ada beberapa. Terisi oleh barang bawaan, atau penghuninya tidur selonjoram. Berasa di rumah sendiri, kali. Tidak memikirkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya.

Kami berkeliling dan akhirnya dapat tempat duduk. Berpencaran, tak apa. Keranjang bekal harus dekat-dekat. Beberapa potong ayam goreng, sebungkus nasi, pisang rebus, cookies, kacang, dan roti tawar plus selai coklat yang maknyuuussssss. Kurang pantai, dan tikar yang diamparkan. Hehehe.

Dan… pesawat delay terjadi.

Semula tak ada informasi apa pun sampai sekian menit lewat jadwal. Situasi yang ada sudah memberikan kepastian: penumpang yang semakin menumpuk, antrian boarding yang tak putus-putus. Informasi pertama (diumumkan lebih dari lima belas menit dari jadwal pesawat), delay satu jam. Lalu, menyusul info berikutnya, delay ditambah satu jam.

Anak-anak bergantian tilawah untuk membunuh waktu pesawat delay. Hafidz dan Zahra murajaah bersama Ayah.

Seorang ibu muncul. Bersama anak laki-lakinya yang berusia satu tahunan. Mereka hendak menuju Kupang. Bocah itu tidak mau diam. Dia merosot dari gendongan ibunya.

Berjalan ke Najma, memukul-mukul wajahnya. Lalu menuju seorang bapak sebelah saya. Menarik-narik koper kecil. Matanya meneliti bagian-bagian koper. Menepuk-nepuk. Menarik-narik. Lalu menepuk-nepuk paha pemiliknya sambil tertawa.

Dia menjadi pusat perhatian deretan kursi kami. Hiburan gratis, melihat anak kecil mondar-mandir memamerkan senyum dan tawanya. Dia mendekati Zahra yang membaca buku. Tangannya terulur, dan tiba-tiba merampas. Ibunya menjerit, dia tertawa. Saya tergelak melihat ekspresinya.

“Aduh, tidak mau diam!” Ibunya geleng-geleng. Bocah itu ditarik, dikempit di antara dua kaki ibunya. Maksudnya supaya tidak ke mana-mana.

Dia berontak. Menyusup dan kabur. Saya memberinya pisang rebus. Semangat sekali ia melahapnya. Tiba-tiba dia mendekati remaja putri yang sedang makan keripik pedas. Menarik-narik hendak merampas. Si remaja putri mempertahankan, bocah itu ngotot.

“Pedas!”kata remaja putri itu.
“Kasih saja, biar dia tahu,” Bapak pemilik koper tadi berkata.
“Sini,” Bapak itu mengambil beberapa keping keripik,”Nih, mau?”
Bocah itu berbinar, senang. Dia melonjak-lonjak menunggu disuapi. Satu potong keripik masuk, dilahapnya semangat.

Kami semua menunggu. Antusias memperhatikan reaksinya. Dia mengunyah, mengecap-ngecap nikmat. Ada yang mulai tertawa tertahan.

Mulut bocah itu mengerucut, merasai lebih lama. Ada yang mulai terkekeh.
Bocah itu menoleh arah kami dengan mulut yang mulai mewek. Matanya berair. Lalu dia berlari pada Ibunya sambil menunjuk mulutnya. Bibirnya bergetar, matanya semakin berair. Kami tergelak-gelak. Kasihan, tapi lucu!

Sang Ibu memberi segelas air. Diminum, tapi ia tetap menggeleng-geleng sambil menunjuk mulutnya lagi. Saya sodorkan pisang rebus. Pisang itu tidak dikunyahnya. Tapi diisap-isap. Mungkin untuk menetralisir pedas dan panas pada lidah.

Apakah dia berhenti? Tentu tidak. Usilnya masih belanjut. Sibuk menowel sana sini. Memutar-mutar koper orang, atau menarik apa saja yang dipegang orang lain. Tak ada yang marah. Tak ada yang merasa terganggu. Benar-benar hiburan.

Tiba-tiba terdengar suara: “…kepada penumpang pesawat dengan nomor GT bla bla bla tujuan Lombok, dimohon menuju pintu tiga…”

Saya segera bangkit bersama anak-anak. Buru-buru membawa barang bawaan dan berpamitan dengan manis pada penumpang kanan kiri. Termasuk pada si bocah kecil itu.

“Duluan, ya. Mari Bu, dadah adeeek,” saya menowel pipinya. Sang ibu mengangguk sambil melambai-lambaikan tangan bocah. “Kasih dadah sama Ibu. Dadaaah,” katanya. Saya melambai kembali dengan semangat.

Kami menuju antrian yang mengular. Ada dua antrian. Satu hendak boarding, satu menuju pada satu petugas, yang sibuk membagi sesuatu. Seseorang lewat dekat saya sambil nyeletuk: “Yang Lombok dapat makan!”

Mereka yang berbalik sambil membawa kotak nasi, wajahnya tampak geli.

“Bunda, kita mau boarding apa mau ambil kotak nasi?” Nabila berbisik. Lho, iya. Isi pengumuman tadi sebenarnya apa?

“Ayo balik, Nabila dan Bunda saja yang ambil! Kita cari kursi lagi!” Mas Budi memberi instruksi sambil tertawa.

Lak iya, tho! Keger-an, siapa bilang mau boarding! Itu penguman untuk mengambil konsumsi berupa sekotak mie goreng, bukan untuk terbang!

“Ya ampun!” Bisik saya pada Nabila. Tengsin, bo! Sudah pamit-pamit dengan pede begitu, lha kok balik lagi! Kursi kami tadi sudah ditempati orang lain. Tidak kembali ke deretan kursi itu, kami memilih menuju bagian lain. Jangan ketemu mereka, ah. Ogah, malu!

“Wkwkwkwkwk, ketipu!” Nabila berbisik. Kami terkikik berdua. Sudahlah buru-buru bangkit, lalu rempong membagi tiket, lalu gegap gempita berpamitan, sumringah. Eladalah, buat ambil mie goreng doang!

‘Makanya, lain kali, dengarkan pengumuman dengan tuntas!” Zahra nyeletuk. Terkekeh lagi bareng-bareng.
“Tapi yang lain juga ketipu, kok!” kata Nabila.

Kami terpingkal-pingkal lagi. Senaseb! Sudah capek menunggu, ngantuk. Begitu ada pengumuman, sikaaaat! Yakin bahwa itu kabar gembira keberangkatan.

Masih saya ingat ekspresi tengsin mereka saat berbalik sambil membawa mie goreng. Wahahaha.

Sisa penantian dipakai murajaah, becanda, dan saling bertukar ledekan. Sambil lesehan. Bersyukur ketemu bocah kecil tadi (eh, siapa namanya, ya?) Bersyukur ada kekonyolan kotak mie tadi.

Tiga jam pesawat delay, dibuat happy!

Menunggu terbang sambil mengamati dan menikmati setiap potong kejadian.
Selalu ada alasan untuk bahagia bukan?

Apa kejadian yang (sebenarnya menjengkelkan), namun mendatangkan kesan lucu dan gembira bagi emaks?

Yuks, sharing ceritanya.

***

Pesawat Delay, Happy-in Aja merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Retno Mastuti yang ditulis oleh Umi Kulsum