Memiliki barang branded adalah impian hampir semua kalangan. Tak hanya perempuan, laki-laki juga mempunyai keinginan yang sama. Selain memang memiliki kualitas yang bagus, barang branded juga mempunyai nilai gengsi yang tinggi. Tak heran, untuk memenuhi kebutuhan yang satu ini, banyak orang menjadi tak rasional. Belanja barang branded terus menerus tanpa peduli harganya yang menguras dompet. Saking candunya, ada yang sampai terlilit hutang kartu kredit.

Membelanjakan uang hasil jerih payah sendiri untuk barang branded memang sah-sah saja. Akan tetapi karena kita juga memiliki banyak kebutuhan yang lain, kita harus pandai-pandai mengaturnya. Jangan sampai kita terjebak tuntutan kebutuhan gengsi semata. Sebab prioritas yang lain sudah menunggu di depan mata. Untuk yang menyukai barang branded, atau siapa pun yang sedang berencana membeli barang branded, 12 hal berikut ini mungkin bisa menjadi acuan.

Hal Yang Mesti Diingat Saat Belanja Barang Branded

  1. Lakukan Pemeriksaan Barang Branded yang Dimiliki

Ada fakta mengejutkan yang ditemui seorang wardrobe stylistdi San Francisco mengenai orang-orang yang gemar belanja barang branded. Banyak dari mereka yang curhat tentang saking banyak dan seringnya belanja barang branded, mereka sampai tidak sadar sudah membeli barang yang serupa berkali-kali. Tak hanya baju, tas, sepatu, atau perhiasan saja, bahkan untuk peralatan-peralatan rumah tangga juga demikian. Melakukan pengecekan, bahkan jika perlu menuliskannya secara rinci dalam buku catatan, sebelum berbelanja, bisa menghindarkan masalah seperti ini.

  1. Beli Barang Berkualitas, dan Pakai

Fenomena lain yang terjadi setelah membeli barang branded adalah menyimpannya di dalam lemari hiasan. Barang ini hanya dipakai sesekali saja dengan alasan sayang dan takut rusak. Sedangkan untuk sehari-sehari, yang digunakan adalah barang-barang biasa yang harganya jauh lebih murah. Bahkan tak sedikit yang menggunakan barang imitasinya.

Hal ini ternyata bisa mendorong pada keinginan untuk beli dan beli lagi. Sebab saat menggunakan barang berkualitas rendah, banyak yang tidak puas. Alih-alih mengeluarkan uang untuk menambah pengeluaran membeli barang imitasi, ada baiknya langsung saja menggunakan barang aslinya. Barang berkualitas itu akan awet, tidak mudah rusak, dan jelas memberikan kepuasan yang maksimal. Untuk menghindarkan barang branded ini tidak matching dengan outfit lain yang dipakai, atau terlihat ketinggalan zaman, bisa dipilih warna netral yang bisa masuk semua warna, seperti putih, hitam, krem, atau cokelat; serta pemilihan model yang everlasting.

  1. Bersyukur dengan Menghitung Berkah yang Sudah Diterima

Hal paling penting di dalam kehidupan adalah bersyukur atas segala nikmat dan berkah yang sudah diterima dari Tuhan YME. Tak hanya atas kelimpahan materi, tetapi juga nikmat-nikmat kecil yang dirasakan sehari-hari. Memiliki keluarga, anak, suami, sahabat, pekerjaan, kesehatan, ketenteraman, kenyamanan, dan lain-lain. Dengan bersyukur, jiwa kita akan tenang. Tenangnya jiwa tentu bisa membuat pemikiran menjadi rasional.

Tapi, bedakan antara bersyukur dengan berterima kasih. Yang disebut terakhir malah biasanya menggiring diri kepada pemberian award atas kerja keras yang tanpa henti. Dan ini bisa membuat kita belanja terus menerus sebagai bentuk hadiah kepada diri sendiri. Sangat berkebalikan, bukan?

  1. Unsubscribe Email dari Toko Kesayangan

Siapa pun yang pernah belanja di toko online, pasti akan berlangganan email dari toko online tersebut. Secara kontinu, mereka akan mengabarkan berbagai program yang sedang berlangsung. Dari mulai keluarnya aneka barang baru, hingga tawaran diskon ini itu. Sudah pasti, ini akan sangat menggoda. Apalagi jika brand kesayangan termasuk di dalamnya.

Meng-unsubscribeemail langganan dari toko online seperti ini bisa sangat berpengaruh. Lupakan semua tawaran yang kelihatannya menggoda itu. Dengan begitu, kita sudah menyelamatkan uang yang ada di rekening kita.

  1. Gunakan ‘Waiting Game’

Saat melihat suatu barang dan kita tergoda, ada baiknya sebelum membelinya, kita menunggu selama 20 menit. Biasanya, dalam rentang waktu tersebut, pikiran kita sudah lebih jernih. Setelah itu, pikirkan kapan dan bagaimana kita menggunakan barang tersebut. Daripada tergesa-gesa membayarnya, ada baiknya kita memikirkan hal lain yang bisa dimanfaatkan dengan uang tersebut. Misalnya ketenangan dari bebas hutang, renovasi rumah, atau mungkin sekolah favorit untuk si buah hati kelak. Apalagi ketika harganya yang sangat mahal. Sebelum membayarnya, beri tantangan pada diri sendiri untuk menunggu selama 24 jam. Biasanya, setelah banyak menunggu dan berpikir, kita akan bisa lebih rasional.

  1. Bergotong Royong

Gotong royong di sini bisa diartikan sebagai patungan di dalam membeli barang branded yang harganya jelas mahal. Misalnya saja dengan tetangga, sahabat, atau saudara. Di luar negeri, hal ini sudah banyak dilakukan. Ada kumpulan ibu-ibu rumah tangga yang patungan membeli barang branded. Dengan pembagian harga yang sama rata, dan jadwal yang sudah diatur  serta disepakati bersama, semua bisa berjalan dengan lancar. Ada yang patungan membeli perhiasan emas dan berlian, sepatu, tas, atau yang lainnya.

Gotong royong dalam barang branded juga banyak dilakukan dengan cara barter. Dengan aturan yang sudah disepakati, para pemilik barang branded bisa saling tukar koleksinya. Selain mengindari pembelian barang baru, ini juga bisa jadi ide bisnis.

Membuat DIY dengan barang-barang lama juga bisa dilakukan. Selain supaya tak gampang membeli barang baru, hal ini juga bisa menjadi ide bisnis yang lain. Misalnya saja, daripada membeli celana jins mahal keluaran terbaru, merombak, memodifikasi, atau menghias jins lama bisa dilakukan. Untuk ide bisnisnya, jins lama bisa dibuat menjadi tas dan dompet cantik yang bisa dijual.

  1. Beli Hanya Barang yang Dibutuhkan

Para pecandu barang branded pasti selalu mengatakan bahwa berbelanja barang branded itu adalah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Ini jelas salah. Sebab secara harfiah, kebutuhan itu adalah sesuatu yang harus terpenuhi. Padahal yang terjadi, mereka hanya membayangkan bahagianya, serunya, atau cantiknya ketika memakai barang branded tersebut, dengan waktu penggunaannya yang belum jelas. Entah itu bulan depan, tahun depan, atau kapan saja.

Jangan sampai kita terkecoh dengan khayalan ini. Bertanya kepada diri sendiri mengenai penggunaanya dalam waktu yang sangat dekat akan sangat menjernihkan. Jika kita mendapat jawabannya, kita bisa beli. Itu berarti kita butuh. Akan tetapi jika tidak jelas, lebih baik urungkan niat untuk membelinya.

Baca Yuk: Gaya Hidup Hemat Masa Kini

  1. Lupakan Tawaran Gratis

Kita pasti pernah mendapatkan tawaran suatu produk yang diberikan secara gratis. Tapi saat ditelusuri, yang awalnya gratis ternyata tidak. Gratis ini jika membeli itu. Biasanya demikian. Mulai sekarang, lupakan semua tawaran gratis dari pedagang-pedagang. Ini sebenarnya hanya strategi bisnis yang pada akhirnya akan membuat kita terjebak untuk membeli, setelah mencoba yang gratisnya. Iya, kita akan merasa tidak enak karena sudah dapat produk gratis. Akhirnya, mau tidak mau, kita terpaksa belanja. Untuk barang branded pun sama. Ada saatnya diskon gede-gedean. Ada saatnya beli ini gratis ini. Dan yang lain yang sejenis. Upaya menghindari hal ini jelas adalah melupakan apa pun yang gratis dari pedagang.

  1. Tak Mengapa Jika Tak Belanja Apa Pun

Saat jalan-jalan ke mall, kita sering kali merasa tak afdol jika tak berbelanja. Rasanya seperti buang-buang waktu saja. Hal ini tentu saja tidak benar. Jika kita berbelanja dengan alasan seperti itu, kita justru buang-buang hal lain yang jauh lebih berguna daripada buang waktu, misalnya uang dan kesempatan menggunakan uang untuk hal urgent.

  1. Mari Hitung-hitungan

Pernah menghitung berapa lama uang gajihan habis? Pernah menghitung berapa lama kita menabung? Jika dibandingkan dengan belanja barang branded, samakah lamanya kita bekerja atau menabung dengan lamanya kita belanja? Pasti tidak. Kita bekerja sebulan, menabung sekian bulan, dan lalu belanja barang branded hanya dalam hitungan jam. Jika dipikirkan benar-benar, ini rasanya tak sebanding.

Bisa saja kita membelinya dengan menggunakan kartu kredit. Tapi, apa ini memberi solusi? Tidak. Selain harganya akan jadi berlipat, tagihan yang kita terima setiap bulan juga akan mengurangi ketenangan hidup kita.

  1. Belanja dengan Alasan yang Tepat

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa kita bisa berpikir kita lapar di saat kita sedang haus; berpikir kita capek di saat kita bosan. Hal ini menunjukkan bahwa kita bisa mengidentifikasi apa yang kita inginkan, dan bukan mengidentifikasi secara tepat apa yang kita butuhkan. Dengan analogi yang sama, hal ini berlaku di dalam belanja. Kita sering belanja untuk memenuhi dorongan keinginan psikologis semata. Dan bukan karena kita benar-benar membutuhkannya.

  1. Belanja Barang yang Dibutuhkan, Bukan Karena Obral

Saat ada obral, kita sering kali bernafsu untuk belanja. Ketika mendapat apa yang sedang diobral, kita rasanya menjadi pemenang. Padahal, barang tersebut sering kali benar-benar tak dibutuhkan. Bahkan model, warna, dan ukurannya bisa jauh dari selera kita. Ini jelas salah. Belanjalah barang yang dibutuhkan. Tinggalkan obral jika memang tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Tetaplah fokus dengan kebutuhan kita.

Itu dia 12 hal yang mesti diingat saat belanja barang branded.Keputusan tetap ada di tangan kita. Yang terpenting, barang branded tersebut benar-benar kita butuhkan. Semoga bermanfaat.

***

Nia Haryanto 

Ibu empat orang anak, lulusan Departemen Biologi ITB, yang kini berprofesi sebagai pekerja lepas di bidang kepenulisan.