Film Bernapas dalam Kubur – “Bang, satenya, bang… 100 tusuk”

Hantu perempuan berbaju putih yang suka iseng mengganggu orang adalah model paling pakem (halah, pakem) macam Suzzanna di film-film jadul tahun 80an. Dibanding film-film luar, Let’sSsay Freddy Kruegger, Friday 13th, The Omen dan deretan film hantu lainnya, film hantu versi lokal lebih intimidatif buat saya.

Kalau udah nonton, perlu waktu buat mendetok bayangan seremmnya biar nggak takut ke wc malam hari karena kebelet pipis. Atau pas lewat gang sepi, keringat dingin dan bulu kuduk yang tiba-tiba berdiri kayak mau lari, jangan sampai temen-temennya Suzzanna menyapa. Pokoknya hantunya Indonesia itu lebih teroris, paling juara nakutinnya.

Waktu tau film Bernapas dalam Kubur Suzzanna versi Luna Maya ini bakal diputer, saya cuek bebek. Nggak exciting banget sebenernya buat nonton.

Yakin, nggak penasaran?

Ada, sih. Sedikit, hahaha…. Ya karena  masternya film hantu itu Suzzanna. Paling legend, gitu. Dulu waktu masih kecil, saya nonton film hantu ini rame-rame dari video yang diputer di rumah tetangga. Bayar 25 perak (seriusan ini) terus jerit bareng-bareng sambil ngintip dari sela-sela jari, atau nonton di layar tayar yang diputer di lapang belakang rumah.  Udah tau takut, tapi tetep aja ditonton. Aneh emang kita tuh, ya. *Kita? Ah kamu aja itu mah :D*

Luna Maya ini adalah hantu yang manusiawi.  Berusaha jadi manusia, karena cinta mati sekali sama Satria yang lagi ditungguin balik dari Jepang karena urusan pekerjaan.  Bahkan ketika tercyduk Satria, dirinya bukan yang dulu lagi, Suzzanna keukeuh mempertahankan identitasnya sebagai manusia. Makanya, jangan harap bakal ada adegan menembus pintu atau tembok, misalnya.

“Musuh bersama” Satria dan Suzzanna dalam film ini adalah 4 sekawan yang dimotori (((dimotori))) Jonal (Verdi Soelaiman) yang  dengan nggak sopannya minta kenaikan gaji, Saya bilang nggak sopan, karena baru saja 3 bulan udah minta naik gaji.  Nyebelin emang.  Tadinya. Umar (Teuku Rifku Wikana) yang model rambutnya kayak Edi Sud –  yang ikutan menghadap Satria buat rikues naik gaji lebih selow.  Nggak terlalu ngoyo buat minta naik gaji.

Dengan suara berat dan berwibawa, Teuku eh Umar bisa meredam emosi Jonal dan mengajaknya cusss, nggak mau berpanjang-panjang berantem dengan bosnya itu. Ini tipe penjahat yang bisa bikin segen anak buah, musuh dan calon korbannya.

Tapi atas nama solidaritas, apalagi ketika Gino (Kiki Narendra) memutuskan bergabung dengan konspirasi Jonal merampok rumah Satria dengan alasan butuh uang untuk pengobatan ibunya. Anak yang baik, sayang ibu tapi sayang, caranya salah.

Sandiwara film tegang  ala-ala 80an pun kita dapatkan ketika keempatnya sedang merampok rumah Satria. Skenarionya hanya merampok, tidak boleh ketauan. Jangan sampai membuat mereka dipecat atau masuk penjara kalau ketauan. Terlepas dari dendamnya Jonal, intinya mereka cuma nyari uang dengan cara instan.

Skenarionya, mereka merampok rumah ketika rumah benar-benar sepi. Kebetulan Satria lagi tugas ke Jepang. Sementara Suzzanna dan trio  ARTnya Mia (Asri Pramawati), Ence  Bagus (Thohir) dan Rojali (Opi Kumis) punya jadwal khusus nonton layar tancap bareng-bareng. Waktu yang sempurna, kan? Ngerampok  pas sepi, ga ketauan dan ga ada kekerasan.

Ya dasar apes, – Suzzanna yang ngomongnya konsisten mendesah manja sama dengan pendahulunya – itu malah ga enak badan dan pulang duluan.  Pas balik ke rumah, adegan ketangkap basah para perampok berlanjut dengan kejar-kejaran sampai Dudun (Alex Abbad) ga sengaja membuat Suzzanna tewas terbunuh.

Sebenarnya Suzzanna nggak terima dirinya berubah jadi hantu. Dia masih ingin jadi manusia.  Kalau di film-film tipikal horror, Suzzanna bakal gentayangan ke sana kemari, ganggu orang lewat (di filmnya adegan epic gangguin tukang satenya kena cut), atau gelantungan sambil selonjoran kaki di pohon. Dia hanya berubah jadi hantu ketika mendatangi keempat pembunuhnya saja. Bahkan ketika para trio ART iseng membuktikan tuannya sudah jadi hantu pun dibiarkan. Suzzanna tetap berpura-pura jadi manusia.

Bagian dialog Suzzanna dengan para ARTnya ini paling ngakak-able buat saya, terutama Mia, Thohir dan Rojali minta izin pulang dengan belibetnya. Suzzanna cuek bebek, dibiarkan kabur tanpa harus berubah ketawa ngikik yang bikin merinding. Kalian aman, kok. Nggak akan diapa-apain.

Baca juga yuk: Review Film Love for Sale

 

Tanpa menghilangkan esensi horror dari filmnya, film Bernapas dalam Kubur ini mengedukasi penontonnya baik secara teknis maupun alur ceritanya kayak saya bilang tadi.  Kemunculan Suzzanna dalam wujud Sundel Bolong muncul biasa saja tanpa efek suara yang ngagetin. Mungkin Suzzanna versi Luna Maya ini terinspirasi lagunya Via Vallen untuk fokus hanya satu titik, titik balas dendam sama 4 perampok itu maksudnya :D.

Film Bernapas dalam Kubur juga  melunturkan kesan horror saya sama lagu Sunyi Sepinya Vina Panduwinata, OST dari versi lawasnya.  Dulu saya suka sebel kalau pas malan-malam denger radio terus penyiarnya muterin lagu ini. Errr… apaan sih? Ketika seisi rumah tertidur pulas dan saya yang masih melek, kenapa mesti ada lagu ini? Imej horornya udah kadung nempel sama lagu Vina yang sebenernya liriknya ga  spooky.

Lagu lawasnya Mama Vina muncul dengan ‘rasa’ yang beda.  Mungkin karena sepanjang 2 jam film main, saya terhibur dengan alur film yang mengair tanpa merasa diintimidasi penampakan Sundel Bolong. Malah kayak saya bilang tadi, kan? Saya banyak ketawa sampai-sampai harus menutup film karena keterusan, bahkan ketika film sudah beralih adegan, saya harus bekepin mulut biar bisa berhenti.

Daripada nakut-nakutin, film ini lebih banyak menghiburnya. Bahkan pas keluar bioskop saya jamin bakal ketawa-ketawa membahas komedi khas 80an yang disuguhkan. Jadi yao nonton, Karena kita ga punya salah apa-apa sama hantunya, kan?