Pasangan Pete dan Ellie mungkin tidak mengalami pertanyaan menyebalkan “Kapan punya anak?” setelah mereka menikah. Tapi sama saja dengan pasangan lain, pasangan yang masing-masing diperankan oleh  Mark Wahlberg dan Rose Byrne sesunguhnya juga merindukan kehadiran anak-anak dalam rumah tangganya, seperti yang dikisahkan dalam film Instan Family.

Baca juga: Film Replica, Keluarga Harta yang Paling Berharga

Awalnya Ellie yang paling antusias untuk mengadopsi anak. Pete yang tampak cuek malah sempat bilang kurang lebih seperti ini, “Ya udah kalau gitu kita adopsi anak 5 tahun saja. Jadi, anggap saja usiaku 36 tahun kalau kamu lagi hamil dia”.  Nah, bisa dapat gambaran kan berapa usia mereka?

Film Instan Family, Drama Love and Hate

Pas di scene ini juga lho, Mak aku merasa related dengan film ini. Ya belum nikah emang.  Mengingat usia di ujung kepala 3, rasanya sedap-sedap ngeri gimana gitu. Ini adalah usia yang riskan atau mungkin sulit untuk hamil.  Mengadopsi anak (kalau sudah menikah nanti) bisa jadi salah satu pilihan. Ya entah itu untuk ‘memancing’ atau alasan lainnya karena kenyataan tak selalu sama dengan yang diharapkan. Ya, kan?

*Terus bakal ada pertanyaan seperti ini: “Jadi kapan atuh kamu nikah? Biar lekas punya anak”*  Hmmm….  Jawab apa, ya? ^_^

Well bukan itu sih yang mau dibahas. Jadi, mari balik lagi ke pasangan Pete dan Ellie saja, yuk.

Profesi mereka yang tukang ‘ngerehab rumah’ lebih dari cukup untuk memfasilitasi rumah tinggal yang nyaman untuk kehadiran anak.  Hebat lho, karena mereka mengerjakan sendiri semuanya. Bukan sebagai broker alias makelar. By the way,  kalau di sini profesi seperti mereka kayak gimana sih kondisi finansialnya?  Apa bisa semakmur mereka, ya?

Amerika emang termasuk negara yang masalah sosialnya tinggi. Jadi, kalau mau mengajukan diri sebagai orangtua asuh, dinas sosial dan instansi terkait ga bakal begitu aja memberikan selembar kertas sebagai legalitas soal pengasuhan anak. Bahkan orangtua kandung pun harus siap berurusan dengan mereka kalau dianggap tidak layak. Fiuh…

Yang jadi masalah bagi Ellie dan Pete soal pengasuhan anak bukan soal tempat tinggal atau uang yang banyak untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka bener-bener harus lolos semacam proses ‘screening’ yang dijalani di Foster Care Center. Semacam fit and proper test gitu, lho. Ada sesi wawancara dan forum grup diskusi untuk memastikan mereka beneran layak mengasuh anak.

Selain itu, ‘anak-anak yang sudah jadi’ pun tidak semuanya anak-anak yang baik, manis dan lucu-lucu. Ada yang pernah kecanduan narkoba,  atau anak-anak yang orangtua kandungnya pecandu narkoba dan masalah-masalah lainnya yang secara psikis bisa bikin kita mikir dua kali. “Yakin mau ngasuh anak-anak seperti mereka?’ Duh sambil ketawa melihat adegan demi adegan,  jadi merasa mules juga. Jadi orangtua itu sesuatu banget.

Setelah serangkaian proses yang dijalani, Pete dan Ellie akhirnya mendapatkan Lizzy (Isabela Moner) “yang pernah dirumpiin bisik-bisik” sebagai anak asuhnya.  Nah, Lho! Satu moral storynya, jangan suka ngerumpiin orang. Kedengeran dia dan jadi sering barengan baru tau rasa.

 

Film Instan Family

Pete dan Ellie yang saking excitingnya jadi ayah dan ibu bukan cuma harus woles pernah ngomongin Lizzy sebagai remaja bermasalah tapi juga harus menerima kehadiran adik-adiknya Lizzy yaitu Juan dan Lita sepaket. Nah, lho. Sekalinya dapat anak langsung 3.  Karena saking pengen bangetnya punya anak, Pete dan Elie iya-iya aja menerima kehadiran 3 bersaudara ini.

Adegan demi adegan Pete dan Ellie kemudian mengalami drama para orangtua dengan karakter anak-anak yang ajaib. Lizzy yang punya karakter pembangkang, Juan yang drama, ceroboh dan gugupan serta Lita yang meski lucu mengemaskan, ternyata anak yang gampang tantrum,  suka jerit-jerit ga jelas. Bocah yang kebanyakan nonton tv ini juga ternyata punya masalah pola makan yang bikin kesel.  Ga mungkin kan mau ‘ngeretur’ mereka? Yakali barang. Ini kan manusia, mahluk hidup yang punya hati dan perasaan.

Karakter Lizzy jadi anak  yang paling banyak dramanya. Paling bandel dan ngeselin diatur. Ya baju-baju seksi lah, ya temen-temen yang aneh, sampai drama chat mesum dengan teman-teman sekolahnya. Ternyata jadi orangtua instan ga segurih dan seenak mie instan.  Pusing.

Rumah mereka jadi rame. Drama love and hate relationship muncul di sini. Kadang bisa bikin merasa ‘meh’ dengan pengen ketawa kekonyolan Pete dan Ellie sebagai orangtua. Di bagian lain merasa  merinding pas mereka akhirnya dipanggil Mom dan Dad.

 

Film Instan Family

Masalah lain yang nggak kalah bikin pusing adalah saat kehadiran orang tua aslinya Lizzy dan adik-adiknya datang dalam kehidupan mereka. Orang tua asuh yang layak vs orang tua kandung jadi konflik yang rumit di Film Instan Family.

Dengan uang yang banyak dan bekal legalitas hukum tidak bisa selamanya memblokir ikatan emosi anak dan orangtua biologisnya. Kalau sudah gini mau apalagi? Penonton pun sepertinya diajak memilih dalam dua kubu.  Apa jadi timnya Pete an Ellie atau Mama Kandungnya Lizzy dan adik-adiknya?

Film Instan Family yang ceritanya diilhami oleh kisah nyatanya sutradara Sean Anders  ini merangkai konflik yang lucu, dan konyol jadi drama yang bikin melting. Part mellownya hakim  dalam salah satu adegan bikin  meleleh dibuatnya.  Hakim yang bisa galak dan saklek memutuskan perkara pun punya dilema dan konflik dalam hatinya ketika memutuskan perkara siapa yang layak memenangkan hak asuh.

Lagu Nothing Gonna Stop Usnya Starship yang muncul di akhir film menyudahi film dengan ending yang bikin penonton tersenyum haru dibuatnya. Sean Anders menyudahi konflik dengan twist yang manis.  Enggak heran juga kalau situs IMDB ngasih rate 7.6 dari dari 10 poin.

Film Instan Family ini merupakan film drama keluarga yang layak untuk ditonton. Kalau di bioskop sudah turun layar, kita masih bisa nyari versi kepingan cakram atau nonton di channel berbayar misalnya. Selamat menonton ya.