Kehidupan saat ini sudah dikepung dengan berbagai perubahan karena teknologi. Pilihan kita hanya dua, ikut atau tertinggal.  Emak Blogger dan teman-teman KEB, pahamkah tentang Revolusi Industri 4.0? Perempuan perlu juga tahu lho. Nah, Arisan Ilmu KEB Chapter Solo, Minggu, 17 Maret 2019 lalu, membahas tentang Revolusi Industri 4.0 dan Digital Financial Technology, biar punya bekal dalam menghadapi perubahan besar sebagai dampaknya.

Memahami Revolusi Industri 4.0

 

Seperti kita ketahui, revolusi industri telah memasuki babak baru. Revolusi industri di fase ke empat ini ditandai dengan IOT (internet of things). Banyak hal kini dilakukan dengan lebih mudah, cepat dan efisien karena koneksi internet.

Kemunculan teknologi Artificial Intelegent (AI) dan robotic juga telah memudahkan manusia. Meskipun di sisi lain, ada ancaman terhadap kebutuhan tenaga kerja karena digantikan teknologi AI maupun robotic.

Dalam skala yang lebih dekat dengan kehidupan perempuan, misalnya  ada aplikasi ojek online. Urusan bepergian jadi mudah. Butuh kendaraan tak perlu cari ojek atau taksi ke pangkalan dulu. Cukup buka aplikasi di ponsel. Bahkan butuh makan tapi malas masak, solusinya sudah ada dalam genggaman, bukan?

Dampak Revolusi Industri 4.0 di Sektor Keuangan

Uang mengalami evolusi. Dulu bertransaksi kita harus membawa uang cash kemana-mana. Setelah itu muncullah kartu debit maupun kredit. Cukup gunakan kedua kartu itu maka kita bisa melakukan transaksi. Hari ini, hidup kita makin cashless. Tak perlu bawa uang tunai maupun kartu. Cukup dengan ponsel saja maka kita bisa membeli apa yang kita inginkan. Makin praktis, kan?

Menurut Jodhi Palgunadi, Founder Akun Biz, revolusi industri 4.0 berdampak pada penggunaan teknologi pada industri keuangan. Tujuannya agar memudahkan aktivitas transaksi keuangan. Inilah yang disebut dengan Digital Financial Technology.

 

Revolusi Industri 4.0

Jenis Digital Financial Technology yang dikenal sekarang, antara lain:

  1. P2P Lending (Peer to Peer Lending)

Merupakan praktik layanan jasa keuangan yang mempertemukan pemberi pinjaman dan peminjam dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam melalui sistem elektronik berbasis internet.

Secara sederhana P2P lending bisa dipahami seperti marketplace. Namun marketplace yang mempertemukan pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Dalam hal ini keduanya tak perlu tatap muka.

Persyaratannya memang lebih mudah jika dibandingkan meminjam ke bank. Tapi, bukan berarti tanpa resiko, ya. Pastikan, pihak pemberi pinjaman telah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) agar tak terbelit kesulitan dikemudian hari.

Contoh P2P Lending adalah UangTeman, KoinWork, Kredivo, Mekar dan lain-lain.

  1. Crowdfunding

Aktivitas penggalangan dana melalui internet guna membiayai suatu proyek. Jenis proyeknya bisa macam-macam. Kalau yang kita kenal di Indonesia ada KitaBisa.com yang menggalang dana untuk aksi sosial. Ada juga crowdfunding lainnya, yaitu Wujudkan.

  1. Cashless Payment System

Tentu ini satu hal yang sudah akrab dikeseharian kita. Beberapa sistem pembayaran non tunai yang kita kenal adalah OVO, Gopay, dan TCash yang berubah menjadi LinkAja

  1. Cryptocurrency/ BlockChain

Merupakan mata uang digital yang dibuat dengan sistem kriptography. Sistem ini dikembangkan untuk aktivitas pertukaran informasi dan keuangan secara online. Salah satu bentuk Cryptocurrency yang populer saat ini adalah Bitcoin.

Sedangkan Blockchain adalah sistem pencatatan dan database yang tersebar dijaringan. Semua transaksi yang terjadi disimpan di komputer dijaringan tersebut.

Jadi kalau cryptocurrency salah satunya adalah Bitcoin sebagai alat bayar maka Blockchain itu alat yang mencatat transaksi tersebut.

Contoh platform jual beli cryptocurrency adalah TokoCrypto dan Indodax.

  1. Market Aggregrator

Adalah platform yang mengumpulkan dan menyajikan data keuangan untuk pengguna yang membutuhkan perbandingan. Contohnya CekAja.com, KreditGogo, RajaPremi, dan lainnya.

  1. Jurnal Management

Merupakan platform pencatat keuangan. Contohnya adalah Jurnalku, Moka, Akun Biz dan Finansialku.com.

Selain menjadi cashless, kehidupan kita juga makin sedikit menggunakan kertas (paperless). Peran kertas digantikan oleh teknologi digital.

Misalnya, dalam melakukan pencatatan keuangan. Ada cara yang lebih praktis. Yaitu menggunakan aplikasi pencatat keuangan seperti AkunBiz.

 

Revolusi Industri 4.0

Mengenal AkunBiz Aplikasi Pencatat Keuangan

AkunBiz adalah aplikasi pencatat keuangan yang sederhana. Ini semacam buku kas. Fungsinya antara lain mencatat pemasukan, pengeluaran dan utang piutang.

Menurut Jodhy, Founder AkunBiz, aplikasi buatannya bisa diterapkan untuk keuangan pribadi, organiasasi, komunitas maupun bisnis. Aplikasi ini merupakan pemenang Wirausaha Muda Mandiri tahun 2016 kategori Digital Financial Technology.

Dirancang sebagai aplikasi keuangan yang sederhana. Maka AkunBiz bisa membantu para perempuan maupun iburumahtangga dalam mencatat keuangan keluarga. Tak perlu lagi menggunakan kertas ataupun buku. Tentu ini rawan rusak atau hilang. Jika menggunakan AkunBiz lebih praktis dan data keuangan tersimpan dengan baik. Sewaktu-waktu membutuhkan bisa dicek realtime.

 

Revolusi Industri 4.0

Dari Arisan Ilmu tempo hari terungkap, jika banyak emak-emak yang hadir mengaku tak pernah rutin mencatat keuangan. Alasannya beragam. Padahal manfaat pencatatan keuangan secara rutin banyak. Salah satunya bisa mengontrol uang masuk dan keluar.

Aplikasi pencatat keuangan AkunBiz ini bisa diunduh secara gratis di Playstore maupun IOS. Bisa juga mengaksesnya lewat browser. Aplikasi AkunBiz tersedia dalam dua versi yaitu versi gratis dan premium. Versi gratis terbatas hanya 5 jenis buku kas. Sementara itu fitur premium lebih lengkap dan jumlah buku kas tak dibatasi.

Selain itu versi premium ada fitur multi user. Dan bisa diatur otoritas masing-masing user. Ini cocok untuk pencatatan keuangan komunitas, organisasi maupun bisnis.

 

 

Lelaki kelahiran Solo ini berharap, semoga aplikasi AkunBiz bisa menjadi solusi bagi individu maupun pelaku usaha kecil dan menengah. Solusi atas persoalan yang sering dihadapi banyak orang. Contohnya, tidak ada data keuangan yang valid. Disisi lain masih banyak pelaku usaha kecil dan menengah mencampur antara uang pribadi dan uang usaha.

Saat ini AkunBiz sudah digunakan sebnayak 80000 pribadi, pekerja profesional, komunitas, organisasi maupun bisnis kecil menengah diberbagai negara.

Semoga apa yang disampaikan di Arisan Ilmu Solo tempo hari bisa bermanfaat bagi emak-emak semua dalam mengatur keuangan keluarga maupun bisnis.

***

Foto-foto dokumentasi Ranny Afandi, Sekretaris Emak Blogger Chapter Solo.