Seorang dewasa, laki-laki atau perempuan, dianggap memenuhi definisi dan ciri pedofil jika ia memiliki ketertarikan seksual yang menetap atau dominan pada anak di bawah usia puber, yang berusia minimal 5 tahun lebih muda.

Persoalan keamanan berinternet ini semakin ke sini semakin mengerikan saja ya, Mak? Kalau sebelumnya kita bisa menandai orang bermaksud jahat hanya dengan melihat gerak-geriknya yang mencurigakan, sekarang semuanya semakin tak terlihat saja. Ya, bagaimana terlihat kalau kita sedang berada di dunia maya. Lawan kita “tersembunyi” di balik nama dan foto yang semuanya bisa dipalsukan.

Yang paling mengkhawatirkan tentu saja mengenai hal-hal yang terkait dengan anak kita–anak-anak yang sudah akrab dengan internet dan teknologi begitu mereka lahir. Menjauhkan mereka dari teknologi jelaslah tak mungkin, tapi makin hari bahaya mengintai semakin dekat. Termasuk yang paling menjadi momok belakangan: para pedofil.

Para pedofil ini dianggap menyimpang, karena normalnya kita tertarik pada lawan jenis yang sebaya atau minimal sudah memasuki usia puber dan secara fisik sudah berkembang fungsi seksualnya.

Meski mungkin kurang nyaman bagi sebagian Emak, tapi ada pentingnya juga kita membahas mengenai kejahatan dunia siber satu ini, Mak. Bagaimanapun, tugas kita adalah melindungi anak-anak, dan mendampingi mereka dalam memanfaatkan teknologi agar kemudian mereka tumbuh menjadi pengguna yang bijak, bukan?

Makanya, coba yuk, kita kenali ciri pedofil hingga kemudian kita bisa mulai usaha untuk menjauhkan anak-anak kita dari mereka.

 

Apa ciri-ciri pedofil?

Ciri pedofil secara penampilan … hmmm … nggak ada, Mak. Ia bisa terlihat sebagai orang baik; paman yang suka ngasih permen, kakak yang sangat perhatian, atau guru yang dekat dengan muridnya.

Yang membedakan adalah perilakunya. Mereka yang mengintip, mengambil gambar, mengoleksi, memegang bagian pribadi tubuh anak atau minta anak menyentuh dirinya lalu bereaksi secara seksual. Inilah yang membuat mereka dapat dikategorikan sebagai pedofil.

 

Apa penyebab seseorang menjadi pedofil?

Ada sesuatu yang memang “tidak benar” dalam dirinya. Bisa karena salah stimulus, bisa karena pencetus lain yang tak pernah kita ketahui.

Yang perlu diingat, tak selalu pelaku kejahatan seksual terhadap anak adalah pedofil, Mak. Dan tak selamanya seorang yang menampakkan perilaku dan ciri pedofil dapat dikategorikan sebagai pelaku kejahatan.

Pelaku penganiayaan seksual bisa saja menjadikan anak-anak sebagai korban karena kondisi atau penyebab lainnya–yang bisa banyak sekali.

Untuk dapat memastikan bahwa si pelaku kejahatan seksual terhadap anak ini adalah seorang pedofil, dibutuhkan serangkaian tes psikologis. Intinya, perilakunya memang perilaku pedofil, namun orientasi seksualnya belum tentu demikian.

 

Bagaimana tipe anak yang biasanya menjadi sasaran pedofil?

Well, nggak ada ciri-ciri atau tipe anak tertentu yang menentukan, karena preferensi setiap pelakunya berbeda-beda.

Ada yang suka tipe anak pendiam atau anak yang berani dan ceria. Bisa saja ada latar belakang di balik tipe tertentu dan kemudian semakin lama ketertarikannya berubah menjadi obsesi.

Karena tak bisa mendekati anak tersebut, ia mencari sasaran lain yang setipe.

Yang perlu Emak ingat, anak yang tak punya “benteng” akan jauh lebih mudah diintimidasi.

 

Jadi, bagaimana cara kita membentengi si kecil dari mereka yang menampakkan ciri pedofil?

Keterampilan Hidup Ana

1. Latih untuk tidak berbicara sembarangan dengan orang yang tak dikenal

Mereka sangat boleh bersikap sopan dan ramah pada setiap orang, tapi ajarkan untuk tidak percaya terhadap siapa pun kecuali orang tuanya.

Ia hanya boleh berdekatan dengan orang lain hanya jika ada Emak atau Ayah di dekatnya.

2. Bangun kepercayaan

Anak yang percaya pada orang tuanya akan lebih terbuka dan tak merasa takut untuk berbagi apa pun, termasuk berbagi cerita. Bahkan cerita yang terburuk!

3. Latih untuk mengenali

Latih si kecil untuk mengetahui ia berada di mana, dengan siapa dan sedang apa. Terutama jika ia berada di tengah keramaian. Misalnya, latih si kecil jika ingin ke toilet, maka harus pamit dan Emak ataupun ayah harus menemani.

4. Latih anak mengenali tubuhnya sendiri

Ajarkan pada si kecil bahwa bagian tubuh yang tertutup oleh pakaian adalah miliknya pribadi yang berharga.

Sedini mungkin, ajarkan anak untuk mandi, membersihkan tubuh dan mengganti baju sendiri, sehingga ia merasa bertanggung jawab terhadap tubuhnya sendiri.

Ajari juga membedakan sentuhan yang ‘nyaman’ (yaitu ungkapan kasih sayang seperti peluk dan cium dari Ayah dan Emak) dengan sentuhan ‘tak nyaman’ yang dilakukan oleh orang lain terhadap bagian pribadi tubuhnya, seperti paha, perut, dada maupun bokongnya.

Jangan pula biasakan melucuti pakaian anak di depan umum, Mak. Kebiasaan ini akan menanamkan di alam bawah sadarnya, bahwa buka baju di tempat umum itu normal dan wajar. Pastinya hal ini akan menjadi perkembangan yang kurang baik untuk dirinya.

5. Pelajari lingkungan sekitar

Perhatikan agar si kecil mendapat pengawasan penuh dari pihak sekolah. Misalnya, saat field trip, setiap 3-4 orang anak harus didamping satu orang guru.

Kenali Beberapa Ciri Pedofil Agar Emak Bisa Mewaspadainya

6. Hati-hati di tempat umum

Jangan bawa si kecil ke tempat umum jika Emak akan kesulitan memberi perhatian penuh pada keselamatannya. Keamanan harus menjadi top priority. Ingat, Mak, kita sekarang enggak pernah tahu bagaimana ciri fisik orang yang bermaksud tak baik kan? Kita enggak pernah bisa tahu dengan pasti ciri pedofil, bahkan kan?

Jika kebetulan Emak harus pergi ke suatu tempat, mau ngevent atau butuh waktu untuk ngobrol dengan teman, yang lokasinya kurang memungkinkan dan bakalan kurang nyaman untuk si kecil, lebih baik titipkan anak ke mereka yang dipercaya di rumah ketimbang membiarkannya berkeliaran di mana-mana tanpa pengawasan.

 

Nah, Mak. Semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang jahat seperti ini ya? Rasanya miris banget deh, kalau dengar berita-berita mengenai para kriminal ini. Meski mungkin kita tak bisa mengenal ciri pedofil secara fisik ataupun gerak-gerik, tapi setidaknya kita bisa selalu waspada.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya ya. Amin.