“Maaah, takut!” Aku Mendengar bisikan lirih seoarang anak Waktu adegan Joker menembak Randall temannya. Kesal dan sebal rasanya waktu denger ini. Emaknya keukeuh bertahan sampai film Joker habis dan mengabaikan isyarat ketakutan anaknya. Entah disuruh tidur atau gimana, aku nggak tau. Sempat terpikir,  waktu mau nonton cari tau dulu nggak lewat review  dan sejenisnya, ya?

Film Joker yang sekarang wara wiri di bioskop  memang lagi jadi topik perbincangan di mana-mana,  bahkan di sosmed  dengan segala printilannya.  Ya bahas isi filmnya,  ya teknis filmnya, atau efek afternya  yang berbeda-beda dirasakan oleh semua orang.  Untuk sudut pandang psikologis ini sudah banyak yang menulis atau bikin videonya di youtube.  Emak sekalian bisa Googling, ya.

Di sini aku akan menceritakan pengalaman dan sudut pandangku setelah menonton film ini.  Yang jelas sangat-sangat tidak disarankan untuk membawa anak di bawah usia 17 tahun, bahkan untuk  orang dewasa yang kondisi psikologisnya lagi nggak bagus. Kalau keukeuh pengen nonton, risiko tanggung sendiri.

Mengusung judul Joker,  banyak yang mengira film  ini adalah versi spin off dari  rangkaian ceritanya superheronya DC Comic, di mana Batman jadi pahlawan  pembela kebenaran di Gotham City.  Faktanya, film  Joker ini bukan tipikal film superhero  pada umumnya, bahkan seperti Avenger End Game di mana sosok jahat Thanos juga digambarkan punya sisi baik.  Tetep aja Joker lumayan banyak menuai kontroversial,  ya, Mak?

Joker dibesarkan oleh ibunya, Penny Fleck yang single parent dan ternyata punya kelainan jiwa.  Ibunya Joker ngasih tahu kalau dia adalah anaknya Mr Wayne,  bapaknya Bruce Wayne a.ka.  Batman.  Di film ini juga ada scene Batman kecil ketemu Joker.  Pas di part ini aku jadi ngitungin selisih umur mereka lho.  Hahaha…

Let’s say di film yang ngambil setting tahun 1981 ini . Arthur Flack alias Joker berusia 30an awal.  Kalau dari perbedaan fisik,  mungkin selisih umur mereka sekitar 20an gitu.  Nah,  pas Batman dewasa (di film lainnya),  Jokernya nggak kelihatan tua,  atau tanda-tanda yang menunjukkan seperti  keriput, suara aki-aki yang parau/lemah,  bungkuk, dan ciri-ciri lainnya.

Malah seperti sebayaan atau nggak jauh beda. Apa rahasia antiagingnya Joker? Plis jangan bilang  itu karena masalah kejiwaannya, ya.

Film Joker: Villain Yang Bikin Heboh

 

Balik lagi ke film. Joker yang diabaikan Mr Wayne, yang menurutnya itu adalah bapaknya (dalam beberapa tulisan ada yang meragukan soal ini, dan menganggap Joker  mengalami halusinasi ditambah ibunya juga punya kelainan jiwa, jadi infonya dianggap ga vailid) sebenarnya punya konselor kejiwaan yang membantunya.

Sama konselornya ini Joker disuruh menulis jurnal. Dalam beberapa scene diperlihatkan tulisan tangan Joker (sumpah acak-acakan banget,  kayak anak TK yang masih belajar nulis)  yang bunyinya begini:

“I just hope my death makes more cents than my life”

Buatku ini quote Joker yang diulang beberapa kali ini terasa ngeri sekaligus menarik. Apalagi dalam translatenya  cents di sini nggak diartikan berharga atau sesuatu yang seperti itu, tapi lebih ke masuk akal (sense).  Kenapa bisa begitu aku ga tau juga. Kalau kita cek di kamus, cent  kan artinya koin alias duit. Ya,kan?

Tapi mungkin hidup  yang terasa “ngehe” buat Joker  mulai dibully oleh anak-anak nakal, ditinggalin bapaknya yang lebih parah dari Bang Toyib,  dikhianati temen sampai jadi olok-olokan banyak orang, membuatnya menertawakan hidupnya yang getir dan ga takut mati malah mungkin jadi goalnya dengan cara yang beda? Entahlah.

Ngomong-ngomong soal pengkhianatan teman, ada adegan di mana Gary temannya yang cebol ketakutan dan meratap  sama Joker untuk dibukakan pintu setelah ia melihat Randall tewas terbunuh.  Dengan santai Joker membukakan pintu dan membiarkan Gary pergi sambil bilang,  “kamu adalah temanku yang paling baik”.

Ini bertolak belakang sama omongan Joker yang dikutip di mana-mana  kalau orang jahat  berasal dari orang baik yang disakiti.   Part segitiga  Joker, Randall dan Gary ini malah menampilkan sisi berbeda.  Masih ada kebaikan yang membuat Joker merasa  diperhatikan.   Joker berada di lingkungan yang salah. Orang-orang seperti Joker  butuh support dari orang-orang yang tulus.

Tapi Joker emang psycho sih, ya.  Dalam sesi wawancara  dengan Murray Franklin, host acara tv idolanya malah dibunuh ketika acara langsung yang menampilkan dirinya sebagai salah satu bintang tamu.   Joker berpikir orang-orang di sana menertawakan dirinya, bukan karena dianya yang lucu.  Padahal ia sendiri mati-matian  berusaha jadi badut yang lucu dan ingin dikenal sebagai Joke(r) alias komedian.

Film Joker: Villain Yang Bikin Heboh

 

Dari sisi teknis, film ini emang layak mendapat apresiasi terlepas dari berbagai kontroversi yang mengikutinya.  Suasana film yang dark banget (sama aja dengan suasana yang hadir di film-film Joker),  meski Joker tampil penuh warna. Selain itu,   alur cerita dan penjiwaan Joaquin Phoenix sebagai seorang psikopat waktu ngedance gitu  sungguh penuh penjiwaan.

Kalau ditanya soal menghibur, bagiku film ini meninggalkan kesan B aja alias biasa-biasa.  Udah bagus kalau nggak sampai mengalami disturbing segala.  Dari beberapa tulisan yang membahas soal ini,  kalau emang setelahnya merasa biasa saja,  artinya kondisi jiwa kita lagi stabil.  Ya Alhamdulillah.

Bagiku emang ini cuma film aja.  That’s it.  Tapi  di sisi lain kita nggak bisa menyalahkan  reaksi yang berbeda yang dirasakan oleh orang lain setelah nonton Joker ini, kan?

By the way, ngeh nggak sih Mak kalau semua yang terjadi dalam film ini termasuk ketika Joker membunuh ibunya atau menembak  Murray Franklin adalah ilusinya Joker semata? Tau nggak mana yang nyata dan mana yang halu?