Hai, Mak! Kali ini kita akan bahas salah satu faktor yang bisa memengaruhi spam score blog yang menjadi momok sebagian besar bloger nih. Yaitu thin content.

Content is the king. Pasti sudah pada tahu ya? Dan, yes, semakin ke sini, Google semakin memperbaiki algoritmanya agar berpihak pada mereka yang memang punya konten-konten yang berkualitas dan berfaedah. Yang mengisi web atau blognya dengan konten alakadarnya, siap-siap saja semakin tergulung, tersisih dan tercampakkan dari hasil pencarian Google. *tsah*

Bikin konten yang berkualitas.

Selalu itu yang jadi tip jitu untuk bisa “mengatasi” algoritma Google. Kalimat tip yang cukup simpel. Tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan. Siapa yang setuju sampai di sini? 😆

Kadang yang terjadi pada praktiknya adalah–karena suatu sebab, apa pun itu–kita jadi terburu-buru atau kesulitan menyelesaikan konten, hingga yang dihasilkan adalah konten yang … ya itu tadi, alakadarnya, pokoknya publish aja.

Hingga akhirnya, kita pun menayangkan thin content. Satu dua thin content, masih okelah. Tapi kalau semua kontennya berupa thin contents?

Wah, ya susah nongol di Google. Malahan bisa-bisa kena penalti kalau kita sampai banyak memproduksi thin content tertentu.

Nah, ini yang akan kita bahas dalam artikel kali ini; tentang thin content dan bagaimana cara menghindarinya.

Siap bahas lebih lanjut? 🙂

Apa Itu Thin Content?

Yuk, Jangan Lupa Backup Blog!

Konten yang kurus? Konten yang tipis? Atau, apa?  Yes, pasti sudah bisa meraba sih, apa arti thin content ini.

Thin content adalah konten yang tidak berkualitas, lawan dari ‘quality content’.

Yang kayak apa sih, misalnya? Ya, kalau mau tahu, thin content itu kayak apa sih sebenarnya gampang 😀 Coba lihat ke guidelines dari Google ini. Di situ, ada petunjuk, konten seperti apa yang dimaui oleh Google. Nah, tinggal dibaca deh.

Di tautan tersebut memang sudah dijelaskan dengan ringkas tapi detail, hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam membuat konten untuk blog. Dengan memenuhi persyaratan yang ada dalam quality guidelines dari Google tersebut, maka sudah pastilah konten yang kita produksi adalah konten yang berkualitas.

Nah, kalau ada “larangan” yang masih saja kita lakukan, maka itu berarti kita masih membuat thin content ini.

Lalu, bagaimana kriteria penilaian Google akan konten-konten yang ada ini? Konten seperti apa sih yang mereka kumpulkan dan jadikan satu dalam database pencarian–sehingga mereka bisa memutuskan, konten yang ini quality content yang itu thin content?

Mari kita lihat satu per satu ya.

Hal-hal yang Menjadi Faktor Penentu Thin Content

1. Originality

Ini adalah yang utama, orisinalitas. Makanya Google concern banget dengan yang namanya copyright. Google sudah memasukkan orisinalitas ini dalam algoritma pencarian sejak Google Panda tahun 2011, dan masih terus berlangsung sampai sekarang.

So, buat Emaks yang suka terima job content placement, mohon ini diperhatikan banget ya. Setiap kali terima job CP, mohon dicek di plagiarism checker. Jangan sampai originalitasnya kurang.

Originalitasnya kurang ini standarnya berapa?

Well, sebenarnya beda-beda sih. Ada yang bilang, standar 70%, 50% …. tapi kalau saya pribadi–paling safe itu–originalitas 90%.

Itu angka PALING AMAN.

Berarti kalau skor originalitasnya di Plagiarism Checker kurang, gimana dong? Ya, silakan diedit, Mak. Itu satu-satunya jalan. Kita harus edit ulang artikelnya.

Begitu juga dengan Emaks yang suka bikin reportase event ya. Kan kadang di event suka dibagiin Press Release. Nah, nulis reportasenya jangan asal ngopas Press Release doang. Bisa-bisa originalitasnya rendah tuh nanti, kalau semua cuma ngopas PR doang kan? Tulis ulang, Mak. Rewrite dengan kata-kata sendiri. Lalu cek lagi di Plagiarism Checker.

Semoga sudah 90% ya.

Nah, sekarang bayangkan kalau setahun ngeblog, isinya content placement yang tanpa dicek plagiarism checker. Bukannya saya menyarankan untuk menghindari job content placement. Tapi ada baiknya kita berhati-hati, yes?

2. Speed

Saat sebuah laman terlalu lama loading, ini juga langsung dinilai oleh Google sebagai halaman dengan kualitas rendah. Ya, nggak salah. Siapa sih yang mau mengakses laman-laman online yang loadingnya lama? Kuota keburu abis dah.

Emaks sendiri ZBL nggak sih, kalau mau buka web, terus lola gitu? KZL kan? Yang pertama dituduh pasti providernya deh. Padahal bukan 😆

3. Iklan

Yah, namanya juga usaha. Cari duit, sehingga banyak pemilik situs ataupun blog yang menyisipkan iklan di halaman situs mereka. Google juga sadar betul dengan hal ini. Mereka aja juga punya Adsense kan? Iya, dunia maya itu memang selayaknya dunia nyata, semua jadi bisnis.

Ya, enggak apa-apa. Asalkan …

Nah, ini. Ini ada kaitannya dengan user experience sih. Jadi rada-rada subjektif ya, tapi biasanya iklan itu akan menyebalkan kalau:

  • Iklannya ditaruh di popup yang nongol bertubi-tubi sampai user nggak bisa konsentrasi dengan konten yang sedang disajikan.
  • Perletakan iklannya mengganggu user dalam menikmati konten. Misalnya di tengah-tengah, pas lagi seru dibaca.
  • Satu halaman situs penuh dengan link afiliasi doang, tanpa ada nilai tambah manfaat yang lain.

 

Nah, itu dia beberapa hal yang perlu kita perhatikan yang biasanya akan “menjebak” kita menulis thin content. Kalau mau lebih detailnya, ya mendingan langsung baca dari penjelasan Google yang sudah ditautkan di atas tadi.

Lalu, apa ya yang bisa kita lakukan biar nggak sampai bikin thin conteng–meski tanpa sengaja?

Lakukan Hal Ini untuk Menghindari Thin Content

Meningkatkan User Experience di Blog

1. E.A.T

Apa itu E.A.T?

Bukan, itu bukan eat = makan, Mak.

E.A.T itu Expertise, Authority, dan Trustworthiness. Atau, keahlian, otoritas, dan dapat dipercaya.

Fokuslah untuk memproduksi konten-konten ber-E.A.T tinggi. Konten yang mempunyai skor E.A.T tinggi akan lebih diutamakan oleh Google. Konten seperti apa yang mempunyai skor E.A.T tinggi?

Yaitu konten yang bisa mengutamakan keahlian sang penulisnya. Konten yang berfaedah banget karena ditulis oleh seseorang yang benar-benar menguasai bidangnya. Konten yang bisa dipercaya karena ditulis oleh orang yang benar-benar tahu apa yang mereka tulis.

So, Emaks yang punya keahlian tertentu–bisa karena hobi ataupun pekerjaan–cobalah mulai untuk mengulik hal ini. Fokuskanlah blog ke topik yang benar-benar dikuasai, dan perbanyak konten mengenainya.

Semakin banyak jejak digital yang terkait dengan keahlian ini yang dibuat, maka semakin expert, authoritive, dan trustworthy-lah Emaks sebagai content creator.

2. Selalu bertolak dari manfaat bagi pembaca

Pastinya, ini kalau Emak ingin blognya dibaca orang banyak, menjangkau pembaca lebih luas. Kalau enggak? Ya, silakan saja. Bebas kok. Kan tergantung tujuan ngeblog masing-masing. Yekan, Mak? 😀 Ehe ehe.

Hanya saja perlu diingat. Besarnya manfaat akan berbanding lurus dengan jumlah pembaca. Gitu aja sih.
Simpel kan, Mak? 😀

3. Tulis untuk manusia

… bukan mesin.

Nah! Ini nih. Kan, padahal kita ini mau nulis biar dapat peringkat bagus di Google. Google kan pakai mesin (baca: bot). Kok sekarang nyuruh tulis untuk manusia? Gimana sik, Carra nih?

Shantuyyy, Mak.

Jadi gini. Sebenarnya sih perilaku si bot Google ini bisa mencerminkan tindak tanduk pembaca manusia kok. Misalnya saja, nggak suka loading lama, sukanya sama konten-konten yang berfaedah dan bukan hasil kopas, dan seterusnya. Iya nggak sih?

Sehingga kita bisa ingat, bahwa kenyamanan pembaca adalah kenyamanan Google. Apa yang membuat pembaca suka, maka akan disukai Google.

Jadi, meski kita melakukan optimasi SEO, kebutuhan pembaca manusialah yang harus tetap diutamakan. Percayalah, dengan mengutamakan pembaca, Google mau mengubah algoritma kayak apa pun, blog kita nggak akan terpengaruh dan terganggu, Mak. Yaqin deh ini!

Nah, demikian sedikit tentang thin content dari saya. Untuk lebih detailnya mengenai kriteria thin content, bisa dibaca sendiri di tulisan Google, yang tautannya sudah saya kasih di atas tadi ya. Banyak bet soalnya, butuh waktu semalaman deh kalau mau dibahas :t

Sampai ketemu di artikel berikutnya ya!