Kapan Sebaiknya Pergi ke Dokter?

By admin on December 07, 2020

Aduh, kepalaku kok tiba-tiba pusing ya? Aduh, gigiku sakit nih! Duh, badanku pegel semua. Aduh, kok perutku melilit gini sih? Aduh, kok jempol kakiku bengkak. Aduh demamku udah tiga hari kok enggak turun-turun ya? Aduh kok tiba-tiba penglihatanku kabur ya. Aduh badanku gatal-gatal semua. Badan sakit semua, tapi lagi pandemi gini, kapan sebaiknya pergi ke dokter untuk memeriksakan diri ya?

Untuk yang pernah mengalami kejadian tersebut di atas, biasanya apa yang dilakukan? Langsung ke puskesmas atau dokter terdekat? Atau langsung ke apotik terdekat? Apa malah langsung minum obat sisa-sisa periksa dahulu?

Kalau Emaks pilih yang mana?

Boleh ya cerita pengalaman mengenai pasien yang sering saya temui selama bertugas hampir 15 tahun di Puskesmas?

Selama hampir 15 tahun bertugas di Puskesmas, saya mengamati bahwa ada 3 golongan pasien berdasarkan tujuannya pergi ke puskesmas atau dokter.

  • Pertama, pasien pergi ke puskesmas atau dokter karena ingin minta rujukan.
  • Dua, pasien pergi ke puskesmas atau dokter begitu terasa ada keluhan.
  • Dan yang ketiga, pasien pergi ke puskesmas atau dokter setelah berupaya sendiri namun keluhan tidak berkurang.

Dari tiga tujuan tersebut mana yang paling benar menurut emak blogger yang membaca postingan ini?

Sebelum kita jawab mana yang paling benar dari 3 golongan tersebut, yuk kita urai satu-persatu mengenai tiga golongan pasien berdasarkan tujuannya pergi ke puskesmas atau dokter. Perlu diketahui, tiga golongan ini merupakan pengalaman pribadi saya sebagai dokter puskesmas ya. Jadi mungkin bisa berbeda dengan pengalaman teman sejawat yang lain.

Kapan Sebaiknya Pergi ke Dokter untuk Memeriksakan Keluhan Kita?

Sudah merupakan rahasia umum bahwa tujuan terbesar orang datang ke puskesmas adalah untuk minta rujukan untuk periksa ke rumah sakit.

Bukan suatu hal yang salah orang minta rujukan ke rumah sakit. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu regulasi atau peraturan pemberian rujukan. Kalau memang penyakit yang diderita pasien itu merupakan penyakit yang sudah berada di atas kewenangan dokter puskesmas berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter puskesmas, maka dokter puskesmas akan memberikan rujukan ke rumah sakit sesuai dengan jenjang perujukan yang berlaku.

Jadi, rujukan bukan semata-mata permintaan pasien ya. Apabila berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan ternyata pasien tersebut harus diobati di puskesmas maka rujukan tidak bisa diberikan.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa penyakit yang harus tuntas diobati di puskesmas sehingga perujukan dilakukan apabila dengan pengobatan yang dilakukan di puskesmas, penyakit tersebut tidak mengalami perbaikan, baru diberikan rujukan ke rumah sakit sesuai penjenjangannya.

Tidak ada niat kami dokter puskesmas untuk mempersulit rujukan. Semua perujukan dilakukan berdasarkan pemeriksaan dan peraturan yang berlaku.

Kemudian apabila kita merasakan suatu gejala atau keluhan, apa yang harus  dilakukan? Kapan sebaiknya pergi ke dokter untuk memeriksakan diri?

Sebelum menjawab apa yang sebaiknya dilakukan, saya akan coba menjelaskan bagaimana mekanisme suatu gejala atau keluhan itu muncul.

Allah SWT telah menciptakan sistem tubuh kita dengan sempurna. Dan semua akan menuju keseimbangan. Maksudnya?

Begini, tubuh kita itu terdiri dari berbagai organ dengan berbagai fungsinya yang telah berjalan otomatis dengan sempurna dalam suatu sistem yang berkesinambungan. Sistem itu bisa berjalan apabila semua organ berfungsi normal. Dan tentu saja semua terjadi atas izin Allah SWT. Apabila ada organ yang tidak berfungsi dengan baik maka tubuh akan menjalankan proses kompensasi agar sistem tetap berjalan. Namun apabila proses itu berlangsung terus menerus maka akan timbul masalah yang merupakan awal dari penyakit yang lebih serius.

Saya coba analogikan dengan motor ya supaya ada bayangan. Seperti ini:

  • Motor itu bisa jalan apabila semua mesin masih baik, ada bensinnya dan ada yang yang mengendarai tentu saja.
  • Apabila ada bensinnya tapi mesinnya ada yang rusak atau bannya bocor maka motor itu akan mogok. Begitu juga tubuh kita.
  • Gampangnya, manusia itu harus berimbang antara asupan makanannya, aktivitasnya dan istirahatnya. Apabila salah satunya ada yang tidak terpenuhi dengan baik, maka tubuh akan merespon dengan mengirim sinyal tubuh yang berupa keluhan.
  • Contoh sederhana: manusia itu butuh istirahat sekitar 7 jam per hari. Namun karena pekerjaan atau lainnya sehingga dia istirahat kurang dari 7 jam per hari, maka tubuh akan berespon awal dengan mengantuk.
  • Mengantuk itu salah satu tanda tubuh butuh istirahat. Alih-alih kita tidur karena ngantuk, kita malah minum kopi agar tetap melek. Berarti sinyal pertama kita abaikan. Karena kita abaikan, tubuh menjalankan proses kompensasi, organ tubuh yang harusnya beristirahat jadi harus bekerja kembali maka setelah kopi, tubuh “meminta” asupan energi tambahan agar proses tubuh berjalan kembali. Namun kita mengabaikannya lagi karena kesibukan kita.
  • Setelah tiga hari kita fokus pada pekerjaan yang membuat kita kurang istirahat, asupan makan yang kacau maka tubuh “mengirim” sinyal lagi dengan badan merasa lemas. Lemas karena asupan makanan tidak adekuat dan organ tubuh tidak beristirahat sebagaimana mestinya.
  • Tidak heran bagi yang workhaholic, keluhan yang sering timbul adalah pusing, sakit kepala, perut tidak nyaman yang bisa berakhir pada penyakit thypus, gastritis, anemia atau penyakit lainnya. Padahal kalau dia mau merespon sinyal yang dikirimkan tubuhnya sejak awal, Insyaallah penyakit tersebut tidak akan muncul.

Bagaimana, sudah terbayang keluhan itu muncul dari mana?

 

Kapan Sebaiknya Pergi ke Dokter?

Jadi, langkah awal yang harus kita lakukan adalah kenali respon tubuh kita. Masing-masing manusia itu unik respon tubuhnya. Dengan kita mengenali respon tubuh kita sendiri, kita akan tahu kapan sinyal itu dianggap bahaya kapan sinyal itu hanya membutuhkan istirahat saja.

Karena sebagian besar pasien yang datang ke puskesmas pada saat awal keluhan muncul, sebenarnya mereka tidak membutuhkan obat. Mereka hanya butuh istirahat dan kadang hanya butuh makan. Namun  seringkali pasien tidak mau kalau tidak diberi obat. Menurut mereka, ke puskesmas hanya konsultasi tanpa membawa obat pulang sama dengan tidak diapa-apakan.

Begitu mendarahdagingnya kebiasaan minum obat setiap ada gejala membuat kami kadang hanya memberikan vitamin karena sebenarnya mereka tidak butuh obat.

Apabila kita telah mengenal respon tubuh kita, kita juga harus bisa mengenali gejala atau keluhan itu berbahaya atau tidak. Misalnya kalau tiba-tiba kita merasa demam.

Yang pertama kita lakukan adalah memperbanyak minum karena kurangnya cairan tubuh bisa meningkatkan suhu tubuh. Kemudian istirahat. Apabila dengan minum dan istirahat demam mereda, berarti kedepannya kita harus memperhatikan asupan cairan tubuh kita. Namun bila demam lebih dari 38°C dan lebih dari 3 hari, atau demam disertai kejang, itu merupakan tanda bahaya. Tidak perlu menunggu lama, Emak harus segera berobat ke dokter terdekat.

Selain demam,  keluhan lain yang sering muncul adalah diare. Perlu diketahui seorang pasien dikatakan diare apabila dia buang air besar cair lebih dari 4 kali dalam sehari. Kurang dari itu belum bisa dikatakan diare sehingga ini juga mempengaruhi tindakan apa yang perlu dilakukan.

Pada prinsipnya apabila mengalami diare, yang perlu diperhatikan adalah asupan cairan yang masuk tubuh. Upayakan agar cairan tubuh tetap terpenuhi saat mengalami diare. Cara mudahnya apabila keluar segelas maka kita harus segera mengganti cairan yang keluar tersebut minimal sama segelas atau lebih. Jadi jangan karena sedang diare malah tidak makan dan minum. Hal ini malah berbahaya karena akan menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi merupakan salah satu tanda bahaya apalagi bila terjadi pada anak.

Apabila pada anak terjadi diare disertai muntah, segera bawa anak ke rumah sakit ya. Jangan nunggu lama apalagi menganggap bahwa itu biasa saja atau orang Jawa mengatakan “ngenteng-ngentengi” karena bila anak diare disertai muntah, maka tidak bisa rehidrasi sehingga anak akan terancam mengalami dehidrasi yang akan menyebabkan penyakit lain yang lebih serius bahkan bisa menyebabkan kematian.

Tanda-tanda bahaya lain yang perlu kita kenali adalah patah tulang. Masih sering saya temui saat orang mengalami patah tulang, dia malah pergi ke sangkal putung atau pengobatan alternatif lain dengan alasan takut dioperasi apabila ke dokter atau ke rumah sakit. Padahal, tidak semua patah tulang akan dioperasi lo karena di rumah sakit akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh yang akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan. Bisa jadi tindakan yang dilakukan hanya pemasangan gips. Jadi tidak semua patah tulang akan dioperasi ya. Tergantung dari hasil pemeriksaannya. Tindakan akan menyesuaikan dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan.

Kenapa saya perlu menyampaikan ini? Karena banyak pasien yang takut ke rumah sakit karena takut dioperasi. Sehingga sering kami temui pasien yang sebenarnya saat kejadian awal patahnya tidak perlu sampai operasi namun karena dia pergi ke pengobatan alternatif, tulangnya malah salah sambung yang sampai mengganggu pergerakannya. Saat salah sambung itu pasien baru datang ke puskesmas dan mengeluhkan mengapa tangannya masih sering nyeri dan tidak bisa bergerak seperti dulu. Akhirnya pasien harus dirujuk dan malah harus operasi untuk memisahkan dan menyambungkan yang benar. Lebih repot kan?

Banyak kejadian lain yang malah menjadi kelainan permanen yang tidak bisa diperbaiki dengan operasi dan menimbulkan kecacatan seumur hidup. Satu lagi yang perlu Anda ketahui, ternyata setelah saya tanyakan, biaya berobat ke pengobatan alternatif itu malah lebih mahal daripada berobat ke rumah sakit. Bahkan kadang pasien BPJS juga memilih berobat ke sangkal putung padahal dia gratis apabila berobat ke rumah sakit.

Dari penjelasan tersebut, sudah jelas kan kapan sebaiknya pergi ke dokter?

  • Bila keluhan yang muncul merupakan tanda bahaya maka harus segera ke dokter agar segera mendapatkan penanganan.
  • Bila keluhan yang muncul karena adanya ketidakseimbangan antara asupan makanan yang masuk dengan aktivitas yang dilalakukan serta waktu istirahat, maka ada baiknya memperbaiki dulu penyebab ketidakseimbangan yang terjadi dulu.

Semoga pengalaman saya berhadapan dengan pasien selama bertugas di puskesmas, bisa jadi acuan untuk memperhatikan kesehatan ya, Mak. Saya berharap Emaks tidak langsung panik lagi saat merasakan suatu gejala tertentu. Dan juga selalu menjaga keseimbangan antara asupan makanan, aktivitas dan istirahatnya.

Salam Sehat

Atik Zulfiati

www.atikzulfiati.com

https://www.instagram.com/atik.zulfiati