Begini, sebetulnya saya itu tipe orang yang cukup nyantai dalam masalah ASI ini. Nyantainya gimana? Ya nyantai aja gitu dan yakin aja saya akan menyusui anak saya nanti dengan ASI, sama sekali gak kepikiran untuk gak memberi mereka ASI. Salah satu alasan untuk di rumah saja pun ya karena ASI ini. Saya mau setiap saat saya ada dan bayi bisa menyusu langsung dari sumbernya, uhuy.

Apalagi, di keluarga saya, kakak-kakak saya dan saya sendiri, semuanya anak ASI, gak ada yang enggak. Jadi yaaa mikir memberi ASI ke anak itu hal yang lumrah dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kalaupun ada anak yang diberikan susu formula ya woles aja, gak jadi sewot gimana-gimana gitu. Bahkan gak ada tuh pikiran untuk kasian dengan si anak sufor. Buat apa kasian kan ya, orang sehat-sehat aja kok, hehehe.

Terus, apa hubungannya dengan media sosial?

Jadi gini, setelah punya anak dan ngerasain jamannya media sosial, permasalahan ASI ini kok jadi hal yang agak dibesar-besarkan. Bukan berarti jelek ya, bagus kok. Kampanye ASI jadi makin menyebar karena media sosial ini. Banyak ibu-ibu yang makin teredukasi juga kan dengan menyebarnya pengetahuan ASI di media sosial?

Tapi ya gitu, sama seperti semua hal lainnya laah, ada sisi baik dan sisi buruknya. Kampanye ASI yang makin menyebar dan dibesar-besarkan seperti sekarang ini ada sisi negatif dan positifnya. Karena dengan adanya 2 kutub tersebut ya dunia jadi seimbang *aseek*

Biasa saja vs Ikut Keseruan

Ada ibu-ibu yang kayak saya, ada kampanye ASI dan pengetahuan ASI menyebar di dan ke mana-mana, saya biasa saja. Karena apa? Karena Alhamdulillah saya diberikan rejeki berupa ASI yang lancar, bahkan sampai bocor-bocor tanpa harus berusaha lebih. Jadi ya gitu, gak terlalu menaruh perhatian pada kampanye ASI di media sosial gini.

Tapi tetep ada sih yang diberi rejeki berupa ASI lancar, tetap ikut keseruan dan menyebarkan pengetahuan ASI untuk menyemangati ibu-ibu lainnya. Ikut posting anaknya dapet sertifikat ASI, ikut posting perahan ASInya yang banyak, juga ikut merayakan breastfeeding week yang bertepatan di minggu ini. Semua itu ya dengan tujuan ibu-ibu yang masih ragu bisa memberi ASI ke anaknya jadi semangat. Sekaligus memberi penghargaan ke diri sendiri sih, sudah bisa memberi ASI ke anaknya. Karena dengan begitu, dia bisa lebih bahagia lagi dan bisa lebih lancar ASInya. Iya kaan? 😀

Stress vs Semangat

Selain tanggapan yang berbeda tadi, muncul juga 2 golongan ini. Ada yang jadi stress karena diusahakan bagaimanapun ASInya tetep aja seret. Makin seret, makin stress, makin seret lagi lah, akhirnya malah gak keluar sama sekali, huhuhu. True story loh! Ini terjadi sama kakak saya. Padahal semua keluarga ya ikut mendukung. Tapi mungkin karena dengan dukungan itu malah membuat dia makin tertekan yaa, mungkin.

Kondisi begini bukan karena mereka yang kurang pengetahuan atau kurang bulat ya tekadnya. Tapi bisa jadi karena kurangnya support system.

Ada juga yang makin semangat dan yakin pasti bisa ngasih ASI gimanapun caranya dan gimanapun kondisinya. Banyak tersebar, dan banyak buktinya juga sih, ibu-ibu yang makin semangat dengan kampanye ini. Yang awalnya sudah merasa menyerah karena banyak hal, payudara kecil lah, ASI belum keluar saat bayi lahir lah, dan lain sebagainya. Karena tetap berkeinginan kuat untuk harus bisa memberikan ASI, yang didukung oleh support system yang baik, ya ASInya jadi keluar dan makin lancar. Makin hari makin bahagia karena puas sudah bisa memberi ASI ya ASInya jadi makin lancar deh.

Plus ibu-ibu pekerja juga jadi makin semangat ya kan memberi ASI walau harus bekerja, dengan ASI perah. Dulu mah jaman mertua saya gak kenal yang namanya ASI perah. Gak tau anak di rumah bisa tetap minum ASI walau ibunya kerja. Jadi ya beliau menggabungkan deh ASI dengan sufor untuk anak-anaknya. Dengan adanya kampanye dan pengetahuan ASI yang lebih banyak ini, ibu pekerja terbantu banget. Mereka bisa memerah ASI dengan benar  saat istirahat kerja maupun di rumah serta bisa tetap mengatur kondisi psikisnya agar tetap bahagia.

Support System Bagus vs Tidak Memiliki Support System

Di bagian sebelumnya udah kesebut-sebut. Mengenai support system.

a network of people who provide an individual with practical or emotional support — merriam-webster dictionary

Nah, support system ini yang biasanya berpengaruh banget ke kondisi psikologis ibu-ibu. Bayangin aja deh, ada ibu-ibu yang udah semangat-semangat ngasih ASI ke anaknya walau gak begitu lancar, eh suaminya gak mendukung. Makin stress kan karena dia hanya berusaha sendirian. Ada yang suaminya udah mendukung, keluarga serta temen-temen atau lingkungannya gak mendukung. Atau, kalaupun mendukung, ya bukan dengan membuat dia bahagia tapi dengan agak menuntut agar ASI bisa keluar lancar. Yang ada makin stress karena dia mendapat tekanan dari mana-mana, huhuhu.

Maka, bersyukurlah yang memiliki support system baik. Yang suaminya kompak, yang keluarganya mendukung, dan yang lingkungannya breasfeeding friendly. Bersyukurlah, karena dengan begitu kalian bisa tetap memanage keluarnya ASI serta pikiran kalian. Bisa tetap bahagia di manapun berada hingga ASI masih tetap mengalir deras.

Nyantai vs Ngejudge

Nah, ini nih. Hmmm…

Jadi ya, setelah makin banyaknya pengetahuan ASI yang beredar luas melalui media-media sosial, ada juga deh 2 kubu ini. Yang nyantai, juga yang ngejudge.

Awalnya sih, saya termasuk di pihak yang ngejudge. Di pihak yang berpikir semua ibu bisa kok ngasih ASI asal dianya punya keinginan keras dan emang berusaha banget untuk itu. Malah ngejudge juga yang akhirnya nyerah itu ya ibu-ibu yang emang gak mau cari tau lagi, gak mau dapet ilmu lagi gimana biar bisa tetap ngasih ASI gimanapun kondisinya. Yah, pokoknya pernah lah ngejudge ibu-ibu yang nyerah itu termasuk ibu-ibu yang emang males berusaha. Tapi setelah ngeliat kakak saya sendiri yang udah usaha sampai segitunya, udah nyari cara apapun, plus didukung keluarga juga, tapi tetap aja ASInya seret, ya berubah deh pemikirannya.

Saya jadi mikir ngasih ASI itupun rejeki, gak semua orang bisa lancar dan gak semua orang usahanya mulus. Jadi berpikir lebih nyantai lagi terhadap mereka-mereka yang terpaksa memberi anaknya bukan ASI. Mungkin keadaan mereka yang membuat seperti itu. Keadaan yang memang gak bisa lagi diusahakan dan dipaksakan. Yang penting dia dan keluarganya bahagia lah, ehehe.

Intinya apa? Intinya kita semua tetaplah ibu gimanapun keadaannya. Dan seorang ibu pastilah selalu memberi yang terbaik untuk keluarganya apapun pilihannya, betul? 😀