Sebagai orang tua, kita perlu lebih sadar ada fenomena nyata yang ada di masyarakat dan terjadi di sekeliling remaja kita, yaitu LGBT. Orang tua lebih baik menerangkan sebelum anak mendengar dari temannya atau bahkan mencari tahu sendiri.

LGBT is a horror term to most parents, especially in conservative countries like ours. We cringe at the word, the thought, the mere idea.

Namun, bukan berarti anak-anak kita belum tahu atau belum pernah dengar. Seperti anak saya, mendapat info dari gurunya pada salah satu sesi di sekolah. Dia juga pernah melihat acara televisi di mana sepasang perempuan memiliki anak dan sedang mencari rumah. Info sekilas yang meninggalkan tanya pada kakak. Dia lantas bertanya lebih lanjut apa maksud LGBT.

Apa Itu LGBT?

Menerangkan rangkaian kata pembentuk LGBT memang tidak sulit. LGBT terdiri dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. LGB adalah orientasi seksual seseorang, selain orientasi heteroseksual yang lebih umum dijumpai. Tetapi Transgender sendiri bukan mengisyaratkan orientasi seksual karena lebih sebagai identitas gender. Seseorang yang merasa dirinya terperangkap dalam tubuh yang gendernya tidak sesuai seperti seorang laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Lalu seorang transgender bisa memiliki orientasi seksual yang berbeda-beda. Misal seorang laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan selanjutnya bisa menyukai laki-laki (heteroseksual) atau memilih perempuan (lesbian). So, it is a totally different thing.

Ahh, kusut ya. Zaman dulu  tidak serumit ini. Di luar negeri lebih membingungkan lagi karena banyak yang percaya bahwa kita dilahirkan dengan suatu jenis kelamin (gender assigned at birth) tetapi later on seseorang bisa memilih gender apa yang diinginkan sesuai perasaan kamu.

It brings us all back to the big question.

Apa Penyebab LGBT pada Remaja?

Satu pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Apakah memang sesuatu yang alami (biologis) atau akibat lingkungan dan pola pengasuhan. Dunia medis belum bersepakat penuh tentang hal ini walau penelitian sudah banyak dilakukan.

Internet dibanjiri dengan situs berisi penjelasan awam tentang LGBT. Tidak heran kalau semisal anak remaja mencari informasi sendiri mereka akan sangat mungkin tersesat. Informasi di internet tidak simetris. Banyak situs pendukung LGBT menyitir penelitian mengenai genetik yang mengklaim bahwa kondisi LGBT adalah sesuatu yang alamiah dan sort of hereditary conditions. Oleh karena itu, menjadi LGBT adalah suatu hak dan keniscayaan yang harus diterima oleh masyarakat luas.

But is it?

Dari hasil membaca atau tepatnya menyisir berbagai situs baik awam maupun medis, saya melihat bahwa penelitian yang disitir mungkin saja ada benarnya. Tetapi mempercayai hasil penelitian tergantung dari banyak hal yang menjadikan suatu studi memiliki hasil yang layak dipakai sebagai referensi medis. Jumlah sampel, metode penelitian, dan lama studi pastilah menjadi faktor pendukung keabsahan penelitian. Tidak cukup hanya dengan sampel 40 orang lalu bisa disimpulkan sebuah hasil. Tidak cukup hanya penelitian di satu area atau negara lantas hasilnya dapat diklaim sebagai kebenaran.

LGBT sebagai Kelainan Kromosom

Materi genetik manusia disimpan dalam DNA-nya dan diwariskan kepada anak. Struktur DNA itu sangat kompleks dan membawa berbagai gen. Secara umum manusia memiliki kromosom X dan Y sebagai penentu tampilan kelamin tertentu. Kromosom XX untuk fenotip perempuan dan XY untuk fenotip laki-laki. Fenotip di sini adalah tampilan fisik baik genitalia dan bentuk tubuh. Banyak orang salah kaprah menyebut kelainan kromosom XX dan XY sebagai penyebabnya.

Adakah kromosom XYY, XXY, dst? Sebenarnya ada, Tetapi itu adalah kelainan kromosom berat dan jarang terjadi di dunia. Tampilan orang dengan kromosom berbeda ini pun tidak sama seperti kita. Padalah LGBT itu kan secara tampilan mirip dengan orang lain di masyarakat. Oleh karena itu, saya percaya kalau orang dengan LGBT itu memiliki kromosom XX atau XY normal.

LGBT

Natural Causes Theories

Ada banyak teori yang diajukan tetapi saya akan bahas dua saja yaitu gen di kromosom X dan perubahan struktur otak.

The Gay Gene

Ini adalah sebuah teori yang populer di mana sebuah gen ditemukan dominan pada kaum homoseksual, yaitu gen Xq28 pada kromosom X, lebih populer sebagai the gay gene. Sebuah gen yang diwariskan dari pihak ibu sehingga juga akan terdapat riwayat keluarga yang lebih dominan di sisi ibu untuk LGBT. Untuk klaim ini dunia medis masih belum bersepakat. Mungkin karena penelitian yang ada belum mendukung 100% ke arah sana walau ada studi-studi yang mengungkapkan hasil demikian.

Read more: Linkage between sexual orientation and chromosome Xq28 in males but not in females. Nat Genet. 1995 Nov;11(3):248-56. Hu, dkk.

Brain Changes

Beberapa peneliti mengajukan teori bahwa faktor prenatal (saat dalam kandungan) berperan dalam terjadinya LGBT pada anak. Paparan hormonal (testosteron) yang tinggi dapat mengubah struktur otak janin menjadi lebih tertarik ke salah satu jenis kelamin. Jadi singkatnya walau kelaminnya laki-laki tetapi otaknya memiliki struktur otak yang tertarik kepada laki-laki juga (atau female brain).

Minireview: Hormones and Human Sexual Orientation, Jacques Balthazart

Nurturing Factors

LGBT

Diduga faktor lingkungan berperan dalam pertumbuhan seorang anak dan mempengaruhi orientasi seksual. Yang diajukan adalah keadaan ibu yang dominan dan overprotektif atau ayah yang distant. Teori nurture ini didukung oleh pendapat bahwa orang dengan kondisi genetik yang serupa juga bisa tumbuh berbeda dan banyak dipengaruhi oleh faktor emosi selama tumbuh kembang. Tetapi teori ini juga ditentang karena tidak semua anak dalam kondisi ibu dan ayah demikian akan berubah orientasi seksualnya.

Talk to the Expert

After a lengthy discussion dengan dr. Andri, SpKJ, seorang psikiater yang berpraktik di RS Omni Alam Sutera, saya mendapatkan beberapa pencerahan. Menurut beliau, kondisi LGBT itu belum dapat ditetapkan penyebabnya apakah genetik atau faktor pengasuhan dan lingkungan karena penelitian-penelitian yang ada belum konklusif ke salah satu arah. Namun, beliau menggarisbawahi beberapa poin penting di bawah ini:

LGBT sebagai perilaku

Menurut dr. Andri, LGBT seringkali hanyalah sebuah perilaku dan bukan kondisi sebenarnya. Jadi misalnya seseorang adalah heteroseksual tetapi berperilaku homoseksual.

Read more: Pengambilan Keputusan pada Remaja

LGBT bukanlah pelarian

Banyak kasus homoseksualitas muncul dengan alasan pelarian, karena dikecewakan oleh pasangan heteroseksualnya. Menurut beliau, hal ini tidak mungkin mengubah their true heterosexuality. Kembali lagi hanya sebagai perilaku dan mungkin sebuah perasaan saja bahwa life will be better dengan memilih orientasi seksual yang berbeda.

Tidak mudah memilih menjadi LGBT

Penting bagi remaja untuk memahami bahwa memilih menjadi LGBT itu sebuah pilihan yang sulit. Penuh tekanan sosial, gangguan emosional, juga sarat perundungan. Kasus LGBT biasa dikaitkan dengan depresi, percobaan bunuh diri, juga adiksi zat terlarang. Jadi jangan dianggap remeh dan mudah.

For Us

Saya bisa menarik kesimpulan bahwa terdapat banyak sekali teori penyebab LGBT pada remaja. Kepastian belum  dapat ditemukan pada beragam penelitian yang luar biasa banyaknya. Tetapi sebagai orang tua kita perlu lebih sadar bahwa ini adalah sebuah fenomena nyata yang ada di masyarakat dan terjadi di sekeliling remaja kita. Orang tua lebih baik menerangkan sebelum anak mendengar dari temannya atau bahkan mencari tahu sendiri.

Explain the whats, the whys (even when we are still unsure), the hows, and the what to dos.

And pray.

***

LGBT dan Kondisi Remaja Kita merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Butet Manurung, yang ditulis oleh Fiona Esmeralda, seorang dokter, penggiat kesehatan remaja dan ibu dari tiga anak perempuan.

www.askfionamd.com

IG: @hello.fio

facebook: www.facebook.com/teenhealthhub