Selama ini, untuk tumbuh kembang anak seringnya diukur dari berat dan tingga badan anak. Sementara pengukuran lingkar kepala anak sering kali hanya dilakukan setelah dia lahir. Setelah itu pengukuran lingkar kepala pada anak jarang dilakukan para orangtua. Padahal, dengan mengukur lingkar kepala kita bisa memberi stimulus atau tindakan yang diberikan lebih cepat jika lingkar kepala anak tidak sesuai dengan ukuran kepala anak normal lainnya. Seperti pada kasus anak bungsuku yang mengalami delayed motorik dan divonis Mikrosefali.

Di usianya yang menginjak 1 tahun, anak bungsuku belum bisa berdiri sendiri. Aku anggap itu masih wajar. Tapi hingga usianya bertambah menjadi 15 bulan dan masih belum bisa berdiri sendiri, aku mulai gelisah.

Orang-orang sekelilingku mulai cerewet dan menyudutkanku karena anakku sering digendong oleh mamanya. Berat badannya pun tak kunjung naik sejak usia 11 bulan.

Setiap menimbang berat badannya di Posyandu , selalu menunjuk ke warna kuning di KMS (Kartu Menuju Sehat). Dari petugas puskesmas yang bertugas di posyandu, aku disarankan untuk membuat rujukan di Puskesmas, agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya di kota kami.

Dari rujukan itu, dokter di rumah sakit melakukan  observasi terhadap anakku. Melihat bagaimana reaksinya ketika aku suruh berdiri, aku coba ajak berjalan, juga serangkaian pertanyaan seperti apa anaknya lahir normal? Apa langsung menangis? Apa pernah kejang?

Dokter juga mengukur lingkar kepala anakku, yang ternyata ukurannya relatif lebih kecil dibanding ukuran kepala anak seusianya. Berat badan dan tinggi badannya walau kelihatannya sesuai dengan postur tubuhnya, tetapi jika dibandingkan anak seusianya, anakku termasuk anak yang pendek dan kurus. 

Akhirnya anakku menjalani pemeriksaan lengkap mulai dari ct scan kepala, tes darah. Test darah menunjukkan darahnya kurang zat besi, dan rata-rata kurang dibandingkan dengan hasil seharusnya kandungan darahnya.  Dari CT scan kepala menunjukkan jika  anakku memiliki ukur lingkar kepala kecil di bandingkan anak seusianya atau lebih dikenal dengan istilah medis sebagai mikrosefali.

 

Lebih Dekat dengan Kanker 

Mendapat vonis seperti itu, aku lalu mencari tahu apa itu mikrosefali di Google.

Dari hasil browsing, disebutkan mikrosefali adalah gangguan sistem saraf langka yang menyebabkan kepala bayi menjadi kecil dan tidak sepenuhnya berkembang. Kondisi ini membuat otak anak berhenti tumbuh sebagaimana mestinya. Hal ini dapat terjadi saat bayi masih dalam kandungan atau dalam beberapa tahun pertama kelahiran.

Mikrosefali ini penyebab berbagai keterlambatan yang dialami oleh anakku. Sayangnya, di Indonesia tidak ada yang dapat dilakukan untuk membuat ukuran lingkar kepalanya bertambah selain dengan melakukan berbagai stimulus-stimulus untuk mengejar ketertingalannya dan tak lupa dokter juga memberikan obat untuk saraf dan vitamin.

Hingga kini penyebab mikrosefali belum diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa hal yang menyebabkan munculnya mikrosefali, di antaranya:

  • • Masalah dengan gen (mikrosefali kongenital).
  • • Pengaruh lingkungan (mikrosefali akuisita).

Mikrosefali kongenital diturunkan melalui keluarga. Ini disebabkan oleh cacat pada gen yang terkait dengan perkembangan otak awal. Mikrosefali sering terlihat pada anak-anak dengan down syndrome dan kelainan genetik.

Sementara itu, mikrosefali akuisita berarti otak anak mengalami kontak dengan sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan otaknya ketika di dalam rahim. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hal ini yaitu:

  • Infeksi virus, termasuk rubella (campak Jerman), cacar, dan mungkin Zika, yang disebarkan oleh nyamuk.
  • • Infeksi parasit, seperti toksoplasmosis atau sitomegalovirus.
  • • Bahan kimia toksik seperti timbal.
  • • Tidak mendapatkan makanan atau nutrisi yang cukup.
  • • Alkohol.
  • • Obat-obatan.
  • • Ketidaknormalan kromosom.
  • • Menurunnya kadar oksigen ke otak janin.

Apakah anak yang menderita mikrosefali akan menjadi bodoh?

Belum tentu. Beberapa anak yang mengidap mikrosefali memiliki perkembangan dan intelegensi yang normal, meskipun kepala mereka berukuran lebih kecil dari ukuran normal.

Test, Pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan terhadap anak yang menderita mikrosefali?

Sejauh  ini pemeriksaan yang sudah dilakukan terhadap anakku, pengukuran lingkar kepala, tinggi badan,berat badan. Konsul  rutin ke dokter tumbuh kembang anak,dokter saraf, dokter gizi, fisioterapi fisik agar dia dapat berjalan, fisioterapi bicara, test bera (Brain Evoked Response Auditory (BERA) yang merupakan pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi saraf VIII (N.auditorius) 

BERA juga dilakukan untuk membantu memperkirakan jenis ketulian, menentukan prediksi ambang dengar dan membantu menentukan letak lesi di sepanjang serabut pendengaran sampai batang otak.

Test BERA ini kita harus menunggu jadwalnya dan ada persiapan sehari atau dua hari sebelum melakukan test BERA, yaitu pemeriksaan kotoran telinga, telingaharus benar-benar bersih dan dokter akan membantu membersihkannya dengan memberikan cairan yang diteteskan di telinga agar kotoran yang keras bisa mudah keluar.

Sebelum menjalani test BERA bayi harus dalam keadaan tidur (dokter akan meresepkan obat tidur yang aman) dan ada juga penanda tanganan berkas untuk melakukan test BERA ini.

Apa saja gejala mikrosefali?

  • • Penundaan perkembangan (keterlambatan duduk, berdiri, berjalan, dan berbicara)
  • • Masalah menelanan atau yang berkaitan dengan makan.
  • • Gangguan pendengaran.
  • • Hiperaktif (kesulitan memusatkan perhatian atau duduk diam).
  • • Kejang.
  • • Gangguan bicara.
  • • Gangguan pengelihatan.
  • • Kejang-kejang.
  • • Postur tubuh yang pendek.
  • • Gangguan pendengaran.

Anak dengan mikrosefali ringan perlu melakukan check up ke dokter untuk memantau bagaimana ia tumbuh dan berkembang.

Anak-anak yang memiliki kasus yang lebih parah membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk mengontrol gejala. Kejang adalah salah satu gejala yang dapat mengancam jiwa. Dokter akan mendiskusikan perawatan untuk menjaga anak agar aman dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Orang tua yang memiliki anak dengan mikrosefali seperti aku  akan mengalami berbagai emosi seperti marah, takut, khawatir, kesedihan dan rasa bersalah.  Kami memerlukan  banyak sekali dukungan bukan disudutkan atau  bahkan disalahkan. 

Pencegahan

Tergantung pada faktor penyebab mikrosefali tersebut. Jika disebabkan faktor genetik. Sebaiknya konsultasikan ke dokter jika ingin memiliki anak lagi.

Referensi: http://doktersehat.com/mikrosefali/

***

Mikrosefali dan Anakku merupakan post trigger #KEBloggingCollab kelompok Khofifah yang ditulis oleh Harie Khairiah.

Harie Khairah, emak blogger yang tinggal di Banda AAceh, dan sehari-hari menulis di blog http://www.khairiah.com/

Twitter: HarieKhairiah
FB: HarieKhairiah