Gerimis pagi itu tak menyurutkan niat aku dan travel mate untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Nangka dan beberapa destinasi wisata di Bogor, Jawa Barat. Kami punya rencana jalan jajan selama sehari di Bogor, dari pagi hingga malam tanpa menginap.

Saat kami berangkat dari Jakarta, matahari mulai terik, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sesampainya di Stasiun Bogor, tepat pukul 09.30 WIB, gerimis mulai turun. Aaah…tak heran, namanya saja Kota Hujan, kota lain cerah, Bogor tetap memilih untuk mendung atau gerimis mengundang. Beruntung perlengkapan traveling cukup lengkap, segala kebutuhan termasuk jas hujan a la tukung becak, dan payung single yang tak ada romantisnya.

Hawa sejuk mulai terasa saat keluar dari Stasiun Bogor. Suguhan pemandangan angkutan kota (angkot) di pintu keluar stasiun sempat membuatku syok. Meski ini bukan kali pertama aku ke Bogor, tapi bagiku ini menjadi traveling pertama ke Bogor naik transportasi umum.

“Ini berderet angkot sebanyak ini di jalan, apakah ada penumpangnya?” Batinku saat itu sambil browsing tarif angkot dari stasiun menuju Curug Nangka. Merasa kurang yakin dengan informasi yang telah didapat, aku mengajak travel mate untuk jajan kue cubit yang dijual di tepi jalan.

“Pak, naik angkot dari sini ke Curug Nangka biasanya bayar berapa, ya?” Tanya si mate kepada penjual kue yang hits di Bogor pada zamannya. Berniat hanya mencari tahu tarif angkutan kota, Bapak cubit malah ngajak ngobrol dan lumayan lama kami duduk di bangku kayu sambil menikmati kue. Duuh…ini Bapak minta dicubit kalik, ya.

Selain Kota Hujan, Bogor juga dikenal dengan kota seribu angkot. Dan menurut Pak Cubit, angkot di sini sudah dijadwal untuk pemberangkatannya, tidak tiap hari ambil trayek. Waduuh…sudah terjadwal saja kelihatan masih banyak banget, lho. Bikin bingung dan juga pusing melihatnya. Pantaslah, transportasi online di kota ini makin banyak. Para calon penumpang melihat banyaknya angkot saja sudah bingung. Hahaha. Ini, sih, para pendatang. Beda dengan warga setempat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, khususnya generasi ABCD dan generasi Z pecinta angkutan kota garis keras.

Yang Dilakukan Saat Naik Kereta Api

 

Pelabelan trayek angkot di Bogor ternyata hampir sama dengan trayek di tempat tinggalku, Banjarnegara. Plangisasi atau papan inisial berupa abjad terpampang di kaca depan. Sementara untuk tujuan perjalanan, tertulis di bagian atas angkot. Dan untuk kernet, saat ini memang sudah jarang dijumpai kernet untuk angkot. Artinya, sopir merangkap menjadi kernet. Pokoknya capek sendiri, sugih sendiri.

Ada satu kejadian menggelitik saat perjalanan menuju Curug Nangka yaitu kami salah naik angkot. Hahaha. Nampaknya obrolan dengan Pak Cubit tadi kurang sesaji, ya. Karena salah jurusan, ternyata angkutan kota yang kami naiki tidak sampai Curug Nangka, maka kami turun di BTM atau Bogor Trade Mal,salah satu mal paling hits di Bogor.

Kami hanya bisa tertawa kesal karena kecerobohan kami. Sudah diberi penjelasan oleh Pak Cubit, tapi tidak dicatat, hanya didengar, dan entah itu informasi penting tentang trayek sepertinya lansgung tembus telinga kiri. Beruntung saat kami naik angkot lanjutan trayek sampai Curug Nangka, di dalam ada dua perempuan dengan tujuan yang sama dengan kami. Sungguh menyenangkan.

“Eh, ini berarti Mbak oper angkot juga, ya?” Tanya si mate ke salah seorang dari mereka.

“Tidak, kami langsung naik dari Stasiun Bogor.” Jawabnya padat.

Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya kami sampai pintu masuk Curug Nangka. Bukan pintu utama, sih, masih di jalan raya, gitu. Lalu kami sama-sama membayar ke Sopir.

“Dari mana ini, Neng?” tanya Pak Sopir saat aku mengulurkan selembar uang dengan nominal lima puluh ribu rupiah.

“Dari BTM, Pak.” Jawabku singkat tanpa tanya tarif.

“Dari mana ini, Neng?” Pak Sopir kembali tanya. Kali ini kepada dua perempuan yang sama-sama turun di Curug Nangka.

“Dari BTM, Pak.” Jawab mereka dengan kompak. Titik pemberangkatan sama denganku, padahal jelas-jelas mereka berangkat dari Stasiun Bogor. Aku dan travel mate langsung jalan berdua tanpa menunggu mereka menyelesaikan transaksi.

Angkutan Kota

Sungguh kejadian semacam ini sering aku jumpai ketika naik angkutan kota. Entah di daerah sendiri, maupun di kota lain. Demi apa mereka tidak membayar penuh atas kilo meter perjalanan yang telah ditempuh. Ini yang rugi siapa? Dua-duanya, Pak Sopir jelas rugi dan tanpa sadar penumpang juga rugi karena telah melakukan kecurangan.

Satu hal yang belum bisa dijalani oleh para pemilik angkot yaitu controling. Saking seringnya pergantian penumpang, kadang Sopir kurang cermat kepada satu per satu penumpang. Pemberangkatan dari dan ke mana. Supaya sama-sama berkah, mungkin solusinya ada pada semacam kartu kendali penumpang.

Ya, tiap penumpang yang akan naik ditanya terlebih dahulu hendak kemana. Kemudian, Sopir memberi kartu yang tertulis tujuan pemberhentian kepada penumpang. Nah, saat penumpang turun, mereka akan menyerahkan kartu bersamaan dengan uang sebagai pembayaran atas perjalanan yang telah ditempuh. Ini khusus untuk angkot dalam kota, ya. Kalau antar kota, mungkin apakah kalian dapat memberi solusi? 😀

Selanjutnya yaitu kesepakatan tarif. Apa yang telah disepakati bersama, dimusyawarahkan dalam forum, kadang tidak diterapkan dalam keseharian. Sama-sama dari Stasiun Bogor menuju Curug Nangka, angkot A menarik tarif Rp 5.000 per orang sementara angkot B menarik tarif Rp 7.000 per orang. Selisih Rp 2 ribu. Memang tidak terlalu banyak.

Tapi bukan hanya itu yang menjadi persoalan. Lebih pada kesepakatan yang telah dirumuskan bersama paguyuban angkot. Adanya daftar tarif yang ditempel di dalam angkutan, ini sebagian dari transparansi dan kejujuran. Menempelkan daftar tarif,tuh, mudah banget. Bermodal isolasi dan gunting dowang untuk menempelkannya di dinding kaca angkutan. Tiap bulan update tarif pun, Sopir tinggal nempel di mobil.

Jangan bilang ribet kalau belum dijalani. Kan memang perlu ada perkenalan sebelum akhirnya sampai pelaminan. Jujur itu sangat diharuskan, dalam segala hal, apalagi yang menyangkut dengan recehan. Jujur menjadikan kita makin akur.

Btw, ini baru tentang kejujuran, ya. Belum merambah ke fasilitas dan pelayanan angkot di masa sekarang. Cara menurunkan penumpang, misalnya. Ini juga menjadi catatan penting untuk para armada.

Oiya, apakah angkot di kota kalian pelayananya sudah melebihi oke? Sharing, yuk!

***

Angkutan Kota dan Kejujuran merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Najwa Shihab yang ditulis oleh Idah Ceris.

Idah Ceris, emak blogger yang juga working mom dan tinggal di Banjarnegara, pengelola blog : www.idahceris.com