Mak, sudah tahu belum kalau setiap tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia dan Hari Buku Internasional ?  Berkaitan dengan Hari Buku ini, kira-kira emak suka membaca ebook atau buku konvensional?

***

Hari Buku Sedunia pertama kali dirayakan pada tanggal 23 April 2018. Penggagasnya adalah United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dengan maksud untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta. UNESCO memutuskan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia karena pada tanggal tersebut merupakan hari kelahiran dan kematian beberapa penulis terkenal dunia.

Buku merupakan sumber berbagai informasi yang dapat memperluas wawasan kita akan berbagai hal. Membaca buku bisa melatih otak kita tetap aktif. Penelitian dari Universitas California Berkeley menyebutkan bahwa dengan rutin membaca buku pada usia muda dapat membantu mencegah Alzheimer. Hal ini terjadi karena kegiatan ini bisa menghambat pembentukan plak amiloid (protein) yang ada pada otak.

Bagi sebagian orang, membaca buku merupakan proses relaksasi untuk mengurangi stress. Membaca juga membuat kosakata kita bertambah sehingga lebih percaya diri ketika berbicara, menyampaikan pendapat, bahkan ketika menulis.

Bagaimana dengan emak, manfaat apa yang emak dapatkan ketika membaca satu ebook atau buku konvensional?

Kalau saya sendiri, membaca buku bermanfaat untuk transfer ilmu ke anak. Pernah suatu ketika, anak saya bertanya dan saya tidak tahu jawabannya. Rasanya sedih saat saya tidak bisa membantu mengatasi masalah anak saya. Sejak itu, saya bertekad untuk meluangkan waktu untuk kembali membaca walaupun saat itu saya disibukkan dengan anak kedua yang masih bayi.

Ebook versus Buku Konvensional

Perkembangan teknologi yang semakin maju membuat industri buku dan penerbitan juga berkembang dengan adanya buku elektronik/ electronic book atau disingkat ebook. Jika buku konvensional pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang berisi teks atau gambar, maka buku elektronik berisi informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar. Ebook di Indonesia sudah mulai menggeliat dengan adanya toko-toko buku berformat digital. Beberapa penerbit di Indonesia pun mulai merintis toko buku digital. Ikatan penerbit Indonesia (IKAPI) mencatat bahwa sekitar 20 persen penerbit di Indonesia sudah beralih ke format digital.

Dibandingkan dengan buku konvensional, ebook memang memiliki beberapa kelebihan yaitu: ramah lingkungan karena tidak memerlukan format kertas, praktis dibawa kemanapun, relatif tahan lama dibandingkan dengan buku konvensional, dan murah karena banyak ebook yang disediakan dengan gratis. Ebook juga merupakan solusi untuk menemukan buku-buku yang tidak ada di Indonesia.

Atisatya Arifin, seorang beauty blogger di www.talkativetya.com sekaligus English teacherdi sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris, lebih menyukai ebook dibandingkan dengan buku konvensional. Alasannya, ebook lebih murah bahkan ada yang gratis. Mbak Tya ini memang sangat suka membaca. Dia tidak membaca buku yang sudah pernah dibaca. Jadi, buku bacaannya selalu baru. Bayangkan kalau mbak Tya harus selalu membeli buku, akan banyak sekali uang yang harus dikeluarkan karena dalam seminggu ada 3 sampai 5 judul buku yang dibacanya. Atau, kurang lebih 15 buku dalam sebulan yang dibaca oleh mbak Tya.

Ebook juga banyak disediakan dalam Bahasa Inggris. Mbak Tya lebih senang membaca buku dalam versi bahasa aslinya karena biasanya buku terjemahan tidak selalu nyaman dibaca. Genre ebook juga unlimited sehingga banyak pilihannya yang membuat mbak Tya tidak pernah bosan membaca ebook.

Dalam setiap kesempatan luang diluar waktu kerja dan mengurus keluarga, mbak Tya selalu menyempatkan membaca buku. Misalnya saat ada di ojek menuju kantor, saat jam istirahat mengajar, sambil makan siang atau makan malam, dan sebelum tidur. Mbak Tya juga membaca ebook untuk anak, yang seru dan menjadi favoritnya adalah The Alchemist-nya Scott Michael, semua buku Enid Blyton, dan beberapa judul buku lainnya.

Namun tidak semua orang memiliki gadget dan akses internet untuk mendapatkan ebook, terutama untuk mereka yang ada di daerah pelosok Indonesia. Membaca buku konvensional juga merupakan sensasi tersendiri bagi sebagian orang. Selain itu, membaca buku konvensional lebih nyaman untuk mata dibandingkan ebook. Oleh karena itu, tidak heran jika penerbit-penerbit di Indonesia masih memprioritaskan penjualan buku-buku konvensional daripada ebook. Permintaan konsumen buku pada ebook pun masih sedikit. Menurut IKAPI, penjualan e-book di Indonesia baru mencapai angka 2 persen dari keseluruhan penjualan buku.

Lendy Agasshi, blogger asal Bandung yang menulis di www.lendyagasshi.com sekaligus penikmat buku, memilih jenis buku sesuai kebutuhan. Jika ingin membaca buku yang disukai namun tidak sempat ke toko buku, maka pilihan mbak Lendy jatuh ke ebook menggunakan aplikasi penyedia ebook. Setiap harinya, mbak Lendy punya jadwal untuk membaca buku tertentu dan menaruh buku tersebut di meja. Dalam sebulan, ada sekitar 6 buku yang dibacanya dan kini ada 15 buku yang menanti untuk dibaca.

Seperti mbak Tya, mbak Lendy pun membaca buku di saat luang dari mengurus keluarga. Misalnya saat menunggu suami pulang dari bekerja. Untuk buku non fiksi, mbak Lendy selalu menyiapkan kertas dan pulpen berwarna-warni untuk mencatat hal-hal yang menarik. Sedangkan untuk buku fiksi, mbak lendy menikmatinya dengan lebih santai.

Namun untuk mengenalkan buku ke anak, mbak Lendy lebih memilih buku konvensional dengan cara mengajak mereka ke toko buku secara rutin. Menurut mbak Lendy, dengan membaca buku imajinasi anak akan lebih terstimulasi dan kaya akan kosakata. Dengan senang membaca, anak tidak mudah mati gaya saat tidak ada tema atau gadget.

Emak sendiri, pilih mana nih, ebook atau buku konvensional?

Tips Membaca Buku Dengan Dana Terbatas

Membaca buku tidak harus membutuhkan banyak uang untuk membeli ebook atau buku konvensional. Beberapa tips ini bisa emak terapkan agar bisa membaca buku walaupun dana kita terbatas.

  • Mencari ebook gratis seperti yang dilakukan mbak Tya.

Salah satu website andalan mbak Tya untuk mendapatkan ebook gratis berbahasa inggris adalah mobilism.org. Ebook gratis berbahasa Indonesia bisa didapatkan diantaranya di website qbaca.com dan website lain yang bisa emak googlingsendiri di internet. Untuk buku sekolah, Kementrian pendidikan dan Kebudayaan juga menyediakan ebook gratis yang bisa diunduh di www.bse.kemdikbud.go.id.

  • Membeli ebook murah

Dibanding versi cetaknya, biasanya Ebook dengan judul yang sama bisa lebih murah. Kita bisa membeli ebook murah di berbagai toko buku digital seperti ebooks.gramedia.com, Buqu Store, Google Book Store, dan sebagainya.

  • Membeli buku diskon

Jika ada lapak buku murah di sudut supermarket tempat emak belanja, cobalah berhenti sebentar. Siapa tahu ada buku berkualitas dan mendapat potongan harga. Saya pernah mendapatkan buku-buku menarik seharga 10 ribu per buku di salah satu supermarket yang sedang mengeluarkan buku-buku lama yang mungkin penjualannya kurang bagus.

  • Menyewa buku

Menyewa buku adalah alternatif lain agar emak bisa membaca banyak buku dengan dana terbatas. Untuk ebook, ada berbagai aplikasi yang bisa digunakan untuk meminjam buku, baik gratis maupun berbayar. Misalnya aplikasi Ijak, Ipusnas, Buqulib, dan sebagainya. Untuk buku konvensional, emak bisa menyewa buku di perpustakaan terdekat.

  • Barter buku dengan buku

Jika emak mempunyai teman-teman atau komunitas yang anggotanya suka membaca buku, emak bisa saling meminjami buku atau melakukan barter buku dengan buku sehingga selalu ada buku baru yang dibaca. Ini dilakukan mbak Lendy dimana ia memiliki komunitas yang anggotanya sama-sama suka membaca buku. Ada pesan yang menarik dari mbak Lendy untuk berkomunitas sebanyak-banyaknya, karena pasti ada yang mau berbaik hati meminjamkan buku.

  • Menjadi quiz hunter

Quiz hunter adalah sebutan untuk orang yang senang menjadi peserta kuis di media sosial. Ada berbagai penyelenggara kuis atau giveaway berhadiah buku. Kita bisa mencoba mengikuti kuis tersebut, siapa tahu berhak mendapatkan buku gratis untuk koleksi bacaan di rumah.

  • Menjadi book blogger

Cara lainnya untuk mendapatkan buku adalah dengan menjadi blogger buku atau book blogger yang mereview buku yang dibacanya di blog. Namun menjadi book blogger membutuhkan proses dan kecintaan akan membaca. Dengan rutin membaca buku dan menuliskan review buku di blog, lama-lama penerbit buku atau penulis buku akan tertarik untuk bekerjasama dengan book blogger.

Baik ebook atau buku konvensional, yang penting emak tetap semangat membaca ya. Selamat Hari Buku, mak!

Sumber referensi: id.wikipedia.org, tirto.id.

****

Ebook atau Buku Konvensional merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Rini Soemarno yang ditulis oleh Kanianingsih, emak blogger, yang suka meresensi buku di https://kaniadanbuku.blogspot.co.id