Sebagai orangtua dari anak kidal, beberapa kali saya mendapati tatapan ‘aneh’ dari orang-orang ketika melihat anak saya beraktivitas dengan tangan kiri. Bagi masyarakat kita yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, melakukan perkerjaan dengan tangan kiri sering kali dianggap lancang dan tidak sopan.

Sadar dengan persepsi masyarakat yang begitu, sejak mengetahui anak saya memiliki kecendrungan kidal, semaksimal mungkin saya arahkan dia untuk selalu menggunakan tangan kanan. Apalagi sebagai muslim, beraktivitas dengan tangan kanan adalah sunnah dari Rasulullah SAW.

Tapi usaha saya tidak sepenuhnya berhasil. Untuk aktivitas makan, minum dan berinteraksi dengan orang lain dia cukup bisa diarahkan untuk menggunakan tangan kanan. Tetapi ketika berhadapan dengan aktivitas lainnya seperti menulis, bermain dan lain-lain saya melihat ada tanda-tanda kejenuhan pada wajah anak. Anak jadi enggan beraktivitas karena saya selalu memaksanya untuk menggunakan tangan kanannya. Hal ini tentu saja berdampak buruk pada perkembangan motorik dan psikologis anak.

Demi perkembangan anak yang optimal, saya pun mulai mengubah cara menyikapi anak bertangan kidal.

Sebelum melakukan ‘sesuatu’ kepada anak, terlebih dahulu saya memperbaiki pola pikir yang ada dalam diri saya sendiri sebagai orangtua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan anak bertangan kidal. Terkadang kekhawatiran yang berlebih atas penilaian orang lainlah yang membuat orangtua jadi memaksakan sesuatu kepada anaknya.

Begitupun dengan saya sendiri. Khawatir orang-orang akan memandang anak dengan tatapan aneh, saya memaksa dia untuk beraktivitas dengan tangan kanan, padahal anak tidak nyaman dengan hal itu. Agar kesalahan ini tidak berlarut-larut, saya pun menanamkan dalam pikiran bahwa kidal itu bukanlah sesuatu yang buruk atau negatif. Justru sebaliknya.

Memacu Anak Berpikir Kreatif

Pada anak kidal, fungsi otak kanannya lebih dominan daripada otak kiri, dan mengalami perkembangan yang lebih baik daripada otak kiri. Otak kanan ini fungsinya sebagai pengatur kemampuan kreativitas dan persepsi, pengenalan dimensi ruang, kewaspadaan, dan konsentrasi. Makanya tidak heran, banyak orang-orang bertangan kidal yang sukses di bidang seni dan kreativitas. Jadi kidal bukanlah musibah, tetapi harus tetap dipandang sebagai anugrah.

Cara Bijak Melatih Anak Bertangan Kidal

Satu hal yang harus orangtua pahami ketika memiliki anak kidal, yaitu dunia ini memang lebih mudah untuk orang-orang bertangan kanan. Sebagian besar barang-barang dibuat untuk orang bertangan kanan, kan ? Nah, di sinilah tantangan terbesar dari orangtua. Perlu perhatian ekstra dari orangtua agar anak bisa beradaptasi dengan cepat dan beraktiftas dengan nyaman.

Agar tetap terarah, anak bertangan kidal harus mendapatkan pelatihan yang khusus. Terlebih lagi jika itu berhubungan dengan norma-norma masyarakat dan agama. Untuk itu terapkan peraturan yang tegas agar anak tetap menggunakan tangan kanan sehubungan dengan aktifitas-aktifitas seperti berikut ini :

  • Makan dan minum
  • Memegang dan membaca kitab suci
  • Bersalaman atau berjabat tangan
  • Memberi dan menerima sesuatu dari orang lain

Nah, bebaskanlah anak untuk menggunakan tangan kirinya saat beraktivtas di luar hal-hal tersebut di atas. Seperti menulis, berolah raga, bermain, dan lain-lain.

Hal-hal yang orangtua harus perhatikan dalam melatih anak kidal

1. Jangan memaksa

Mengingat ada norma-norma masyarakat dan norma-norma agama yang menuntut anak untuk menggunakan tangan kanan, maka anak tetap harus dilatih untuk menggunakan tangan kanannya. Tetapi latihlah dengan sabar, jangan paksa anak untuk bisa beralih ke tangan kanan dalam waktu yang singkat Karena pergerakan tangan kiri pada anak kidal itu sifatnya refleks, maka dibutuhkan waktu yang lebih untuk anak bisa melakukannya dengan tangan kanan.

2. Gunakan trik

Melatih anak yang kidal sebaiknya jangan menggunakan metode yang kaku. Orangtua harus kreatif mencari cara agar anak tidak merasa rendah diri ketika orang-orang memandangnya berbeda. Di sini orangtua harus memahami karakter anak agar mengetahui cara yang tepat untuk mengarahkan anak. Kalau saya selalu yakinkan anak, bahwa keistimewaannya itu datangnya dari Allah, dan banyak orang-orang sukses di dunia yang bertangan kidal.

3.  Berkerjasama dengan sekolah anak

Ini penting dilakukan agar semua pihak yang bertanggung jawab terhadap anak saat di sekolah mengetahui kondisi anak dan bisa memberikan dukungan kepada anak yang kidal dengan cara yang sepatutnya. Penting juga menemukan sekolah dan guru yang tepat dan bisa memahami anak. Dan sebaiknya orangtua tidak memaksa anak untuk bersekolah di tempat yang tidak memahami dirinya.

4. Puji anak ketika berhasil

Sebenarnya hal ini berlaku untuk semua anak, ya. Tetapi untuk anak yang kidal harus dilebihkan porsinya dibandingkan anak yang biasa. Mengapa demikian? Karena, anak yang kidal cenderung memiliki perasaan yang sensitif, sehingga membutuhkan perhatian yang lebih agar kepercayaan dirinya tetap terjaga.

5. Orangtua yang memiliki stok sabar yang banyak

Berhadapan dengan orang banyak yang pastinya menuntut anak untuk selalu menjunjung tinggi tata krama, membuat orangtua terkadang jadi hilang kendali ketika anak kidal ‘lupa’ menggunakan tangan kanannya. Biasanya orangtua akan bereaksi dengan memberikan teguran keras, memarahi, bahkan membentak anak karena merasa malu. Menurut pakar kesehatan, jika anak kidal dimarahi dengan keras saat melakukan sesuatu dengan tangan kiri, hal ini bisa menghambat aktivitas otak kanannya. Bersabarlah, tahan diri untuk tidak memarahi atau membentak anak saat dia lupa menggunakan tangan kanannya. Tanamkan pada hati dan pikiran, bahwa anak melakukannya tidak dengan sengaja, hal itu semata-mata karena otak kanannya.

Nah, itu sedikit cerita dari saya, orangtua dari anak bertangan kidal. Ada yang punya cerita serupa dengan saya ?

***

Anak Kidal? Cara Bijak Melatih dan Menyikapinya merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Raissa, yang ditulis oleh Merry Meirida.

Merry Meirida adalah emak blogger pemilik blog http://www.meirida.my.id Ibu satu anak yang menyukai K-Drama.