Kalau dengar atau baca kata arisan, ingatan saya langsung terkoneksi pada film lawas besutan Nia Dinata. Film dengan judul yang singkat padat dan jelas : Arisan! Emak-emak yang dulu nonton, masih ingat ceritanya? Hihi, saya sudah lupa sih detail filmnya. Yang masih saya inget banget dari film itu adalah wajah ganteng Tora Sudiro. Saat itu kan doski masih muda. Arisan, entah dari mana dan bagaimana budaya ini bermula menjadi ajang kumpul-kumpul. Arisan perekat silaturahmi?

Saya sendiri sudah mengenal arisan sejak kecil. Saat mengekor emak ikut pertemuan ibu-ibu di lingkungan rukun tetangga. Arisan bukanlah agenda utama pertemuan. Pun uang yang dikumpulkan tidak banyak. Sekedar cukup untuk biaya bikin kue-kue atau makanan lain pada pertemuan berikutnya. (Yang dapat uang arisan otomatis jadi tuan rumah untuk pertemuan selanjutnya).

Arisan model seperti itu, mungkin masih banyak juga dilakukan sampai sekarang. Arisan perekat silaturahmi.  Arisan untuk tolong menolong antar anggota. Di arisan model ini, biasanya antar anggota saling mengenal, bahkan mungkin berkerabat atau bersahabat. Skema arisan model ini sangat simpel. Jumlah uang arisan yang disetor maupun diterima tiap-tiap anggota dari awal hingga akhir tetap sama (kalau ada perubahan akan disepakati bersama).

Pentingnya Ikut Arisan

 

Kini, arisan memiliki beragam skema pembayaran. Arisan yang bukan sekedar gula-gula hubungan sosial tetapi untuk tujuan investasi/bisnis. Sesama anggota bisa tidak saling bertemu, bahkan tidak saling mengenal. Selain sistemnya yang beragam, obyek arisannya pun bermacam-macam. Ada arisan uang tapi dengan peluang mendapatkan hadiah kejutan. Ada juga arisan sepeda motor, arisan alat rumah tangga, arisan perhiasan, arisan buku dan lain sebagainya.

Perkembangan media sosial juga membuat arisan bisa dilakukan lewat dunia maya. Kemudian muncul istilah arisan online atau sering disingkat arisol. Kalau dengar/baca kata arisol, otak saya justru langsung terkoneksi ke makanan bernama risol(es). Soalnya, dulu saya sering mendengar kata risol(es) diucapkan tanpa es alias risol saja. Ada emak-emak di sini yang pandai bikin risol(es)? Kalau saya sih pandai makannya aja.

Saya mungkin termasuk lambat update soal arisan. Bukan penggemar arisan sih. Saya baru tahu soal arisan online ketika telah berkembang menjadi berita kriminal. Ada pihak yang merasa ditipu dan ada pihak yang dituduh menipu. Yang merasa tertipu gigit jari, sedangkan yang dituduh menipu hilang bak ditelan bumi (sukur-sukur bisa ditangkap polisi).

Arisan Perekat Silaturahmi

(Insert foto tersangka arisan. Credit foto : www.okezone.com)

Yang belakangan heboh adalah beberapa arisan online berlabel mama-mama. Duh, labelnya kok ya mama-mama gitu lho. Seakan-akan jadi pengesahan cap negatif untuk kegiatan arisan emak-emak. Kalau bukan sekedar hepi-hepi ya tipu-tipu. Bukan lagi arisan perekat silaturahmi.

Di satu sisi saya takjub dengan nilai total arisan para mama yang bisa mencapai miliaran rupiah. Di sisi lain, saya miris karena kejadian serupa masih terulang dan terulang lagi, jatuh korban lagi dan jatuh korban lagi.  Kan banyak arisan yang bermula dari facebook dan grup chatting. Korban biasanya bikin status galau hingga sumpah serapah. Pada nggak baca atau terbuai bayangan keuntungan yang akan didapat? Tapi memang, bagi sebagian orang, arisan semacam ini mungkin mengasyikkan.

Dalam sebuah artikelnya, Financial Planner Prita Ghozie  menyatakan, ada korban yang berulang kali tertipu investasi ala arisan online. Kalau kejadian begini sih pas banget dengan istilah “kapok lombok” (lombok = cabai). Saat sudah hilang rasa pedasnya, makan pakai lombok lagi. Saat sudah hilang rasa kecewa dan sedihnya, ikut arisan lagi.

Mengapa sih masih saja banyak orang tergiur investasi bodong dengan modus arisan? Dari baca sana-sini, saya meringkasnya menjadi beberapa poin sebagai berikut :

  • Tawaran pokok arisan yang tergolong ringan. Tapi karena ikut beberapa slot, jumlah yang seringan ini jadi terakumulasi banyak juga.
  • Iming-iming hasil arisan yang menggiurkan. Secara logika, imbal hasil minimal 10 persen per bulan saja sudah cukup menggiurkan lho. Apalagi kalau 20, 30, 40, bahkan 50 persen? Macam punya pohon uang varietas hibrida saja yaa.
  • Terpengaruh teman/orang yang dikenal. Referensi positif dari orang yang dikenal, apalagi kenal dekat, membuat seseorang tergiur tanpa meneliti lebih dulu.
  • Agresifitas promosi anggota arisan. Terlebih untuk arisan online yang menggunakan sistem piramida atau skema ponzi, di mana peserta akan mendapatkan keuntungan jika berhasil mengajak member baru untuk bergabung.
  • Rendahnya literasi finansial sehingga seseorang kurang bisa mewaspadai modus-modus investasi. Selain itu juga tidak mengetahui alternatif investasi yang juga potensial menguntungkan tapi lebih aman dan dijamin hukum, seperti reksadana.
  • Enggan repot dan malas belajar. Investasi resmi biasanya membutuhkan pengisian berbagai formulir dan dokumen, juga beberapa pengetahuan dasar tentang investasi tersebut. Semisal untuk nabung saham, seorang investor harus mendaftar di perusahaan sekuritas lalu setidaknya mengenal nama-nama saham dan bagaimana cara transaksi saham. Bagi sebagian orang, langkah-langkah ini terasa ribet dan rumit. Arisan dirasa lebih praktis dan tidak bertele-tele.

Kalau memang tetap tertarik mengikuti arisan online maupun offline dengan tujuan investasi, setidaknya teliti terlebih dulu. Dilansir dari situs www.cermati.com, ada empat tips untuk menghindari penipuan arisan online (yang bisa juga diterapkan pada arisan offline), yakni :

  • Kenali identitas usaha serta pemiliknya. Usahakan identitas selengkap-lengkapnya. Banyak orang merasa cukup hanya dengan mengetahui nama, alamat, nomor kontak, dan media sosial bandar arisan. Padahal, data-data itu bisa saja palsu.
  • Cari tahu sistem arisannya. Jangan terburu-buru dengan iming-iming keuntungan besar. Kita berhak tahu detail sistemnya, juga bagaimana langkah yang akan diambil pengelola arisan seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan (misal ada anggota yang berhenti sebelum selesai membayar).
  • Waspada dengan iming-iming keuntungan besar. Kalau menurut sistem aslinya, arisan tidak bisa disebut investasi karena tidak menjanjikan keuntungan. Jika arisan yang kita ikuti menjanjikan keuntungan, apalagi jumlahnya besar, segera mainkan logika. Andai pengelola investasi memberikan beberapa jawaban tentang asal-usul keuntungan, dalami terlebih dulu. Apakah jawaban-jawaban itu masuk akal?
  • Lapor pada Pihak Berwajib. Jika merasa menjadi korban sebuah arisan, jangan ragu untuk lapor pada pihak berwajib atau bisa langsung melapor melalui situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan demikian, tidak akan jatuh korban lebih banyak lagi.
  • Oh ya, saya menambah satu poin : ikut dengan nominal kecil. Jadi, kalaupun terjadi persoalan, kita tidak mengalami kerugian besar dan menyesakkan.

Ada emak-emak yang ikut arisan online ataupun offline? Semoga arisannya benar-benar amanah dan terpercaya ya. Yuk sharing tentang arisan yang diikuti, arisan online atau pun arisan perekat silaturahmi.

***

Arisan Perekat Silaturahmi? adalah post trigger #KEBBloggingCollab Kelompok Anggun C Sasmi yang ditulis oleh Lisdha, emak rumahan yang tinggal di Medan. Kontak Lisdha di :

Blog : www.daily-wife.com

FB : Lis Lisdha Dhaniati

IG : Lis-dha