Pendidikan bukan hanya hal yang berbau tentang sekolah dan akademis. Dari mulai bayi hingga dewasa, ada banyak sekali life skill yang harus dipelajari. Dan tentunya, life skill ini akan berbeda di tiap tahap kehidupan. Untuk anak remaja,  ada  8 life skill yang wajib dipelajari dan tentu saja diajarkan oleh orang tua.

Sebagai orang tua, kita jelas kudu mengenalkan, mengingatkan, dan membimbing anak-anak remaja kita di dalam mempelajari life skill ini. Sebab jika tidak, mungkin saja kurang cakapnya mereka dalam menguasai life skill ini akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Apa sajakah 8 life skill ini?

  1. Pendidikan Seks

Memasuki usia remaja, seorang anak akan mengalami banyak sekali perubahan. Perubahan yang terjadi secara hormonal ini sering kali membingungkan mereka. Masa Puber dan Masa Perkembangan serta Pematangan Sistem Reproduksi. Life skill ini harus kita berikan. Apalagi di zaman milenial seperti sekarang. Di mana internet dan gaya hidup sudah sangat modern. Salah-salah mendapat pendidikan seks dari pihak yang tak bertanggung jawab, remaja bisa terperosok ke dalam kehidupan ‘bebas’. Hal-hal di bawah ini bisa menjadi acuan kita di dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja.

  • Remaja mengalami masa puber secara dramatis. Banyak dari mereka yang merasa ‘menderita’ dengan perubahan ini. Pendidikan seks yang diberikan bisa mengurangi kekhawatiran mereka tentang ini.
  • Anak-anak perlu tahu konsep dasar pendidikan seks, yaitu perbedaan laki-laki dan perempuan menurut kodratnya. Pengetahuan tentang ini akan membuat remaja lebih bertanggung jawab terhadap tubuh mereka sendiri.
  • Remaja memiliki banyak pertanyaan mengenai hal-hal yang berbau seks. Orang tua harus bisa menjawab semua pertanyaan ini. Dan malah, sebelum bertanya, di saat momen khusus, misalnya saat menonton film atau berita criminal (yang berbau seks), orang tua bisa memberi pengetahuan ini. Tentunya dengan bahasa yang tidak vulgar.
  • Pengaruh lingkungan dan teman-teman bergaul remaja sangatlah kuat. Pastikan kita tahu dengan benar siapa teman-teman remaja kita. Jangan sampai mereka terpengaruh dengan kehidupan seks bebas, yang riskan terhadap penyakit seksual dan juga kriminalitas. Pendidikan seks dari rumah, yaitu dari orang tua, bisa meminimalkan risiko itu.
  1. Media

Siapa sih orang di zaman sekarang yang ngak punya media sosial? Bahkan bayi yang baru lahir pun kini sudah banyak yang dibuatkan media sosial oleh orang tuanya. Tak terkecuali dengan remaja. Sudah mampunya membaca, menulis, dan bermain internet, tak jarang menjadikan mereka membuat akun media sosialnya sendiri. Ini sah-sah saja, asalkan semua terpantau orang dewasa. Sebab tanpa pantauan dan arahan, remaja bisa tersesat di dunia virtual media sosial. Berikut ini catatan mengenai positif dan negatif media sosial.

  • Media sosial merupakan tempat bagi siapa pun untuk berkomunikasi. Dengan media sosial, remaja bisa belajar mengenai budaya, etika, atau apa pun dari teman media sosialnya.
  • Media sosial bisa menjadi tempat membangun kedekatan dan rasa peduli terhadap teman.
  • Media sosial banyak digunakan sebagai alat untuk berjualan dan politik. Mengarahkan mengenai hal ini akan membuat remaja mampu mengontrol berbagai isu. Termasuk hoax yang kini sedang booming.
  • Media sosial bisa menjadi tempat mengembangkan diri, yang mungkin berujung pada pemilihan karir di masa depan.
  • Tetapi media sosial sangat bersifat adiktif atau candu. Memberi pengarahan dan batasan bermedia sosial bisa menghindarkan dari hal ini.
  • Media sosial juga membuat cenderung konsumerisme. Banyaknya selebriti atau teman-teman remaja kita yang pamer kemewahan ini itu, bisa membuat mereka berkeinginan yang sama. Lagi-lagi, orang tua berperan besar di dalam mengontrol hasratnya.
  • Media sosial itu seperti etalase. Apa yang diumbar pemiliknya bisa dilihat siapa pun. Jangan sampai ini menjadi boomerang. Yang mungkin berujung pada kriminalitas atau bullying yang mengancam remaja kita.
  1. Hubungan dengan Orang Lain.

Manusia merupakan makhluk sosial. Termasuk remaja kita. Mereka tak bisa hidup sendiri. Karenanya, ada life skill yang harus dipelajari oleh remaja, yaitu kemampuan berhubungan dengan orang lain. Dengan saudaranya, kakek-neneknya, keluarganya, temannya, gurunya, tetangganya, hingga orang-orang yang berada di lingkungan dia.

Di Indonesia, adab dan sopan santun masihlah dipegang teguh. Jika saat kecil anak-anak masih dimaklumi dalam bertingkah, berteriak, atau bahkan berkata kasar, memasuki usia remaja, hal ini harus sudah diatur.

Apalagi di dalam berhubungan dengan lawan jenis. Selain tata krama, juga harus diperhatikan batasannya, etikanya, larangannya, serta konsekuensinya.

  1. Talenta dan Menggali Kemampuan

Kesuksesan tak selalu diukur dari kemampuan akademik. Banyak tokoh di luar sana yang bahkan sukses tanpa pendidikan tinggi, atau bahkan mendapat nilai buruk sewaktu di bangku sekolah. Yang mereka lakukan adalah menemukan bakatnya dan menggali kemampuan secara maksimal untuk bakatnya ini.

Untuk remaja, alih-alih stres dengan masa puber, ada baiknya diarahkan pada hobinya yang konstruktif. Misalnya saja olahraga main basket, bermain piano, atau mungkin memasak. Memfasilitasi hobi mereka akan membuat talenta dan kemampuannya tergali secara maksimal.

  1. Manajemen Keuangan

Saat kecil, anak-anak sering kali dibiarkan untuk jajan atau beli apa saja yang mereka mau. Memasuki usia remaja, hal tersebut sudah harus mulai dihentikan. Remaja mesti tahu bahwa mencari uang itu tidak gampang. Untuk itu, melatih mereka untuk berhemat; menantang mereka untuk menabung terlebih dahulu jika ingin membeli sesuatu; hingga mungkin membukakan rekening tabungan di bank agar mereka rajin menabung, bisa kita lakukan di dalam mendidik remaja mengatur keuangan.

  1. Tentang Transportasi

Anak-anak remaja tentu sudah ingin mandiri. Pergi sekolah, main ke tempat teman, atau bahkan jalan-jalan bersama teman-temannya, pasti sudah tak mau lagi diantar orang tua. Untuk yang satu ini, remaja wajib punya pengetahuan soal transportasi. Dari mulai jalanan, kemacetan, trayek angkutan, hingga ojek online atau taksi online yang kini sedang naik daun. Jangan sampai remaja kita nyasar, atau mungkin berada di dalam situasi berbahaya hanya karena tidak tahu soal transportasi ini.

Baca juga yuk: Angkutan Kota dan Kejujuran

  1. Isu Politik dan Pemerintahan

Anak-anak remaja di zaman sekarang wajib punya skill ini. Sifat remaja yang masih labil bisa diambil keuntungan oleh berbagai pihak. Ditambah dengan media sosial dan internet yang semakin berkembang. Jika tidak diarahkan, remaja bisa tersesat dan salah langkah. Yang mungkin bisa menyebabkan remaja kita bertindak subversive, anarkis, atau bahkan menjadi teroris. Kita sudah sering mendengar bukan dengan banyaknya dalang teroris yang memanfaatkan kepolosan remaja? Jangan sampai itu terjadi lagi. Terutama kepada remaja kita.

  1. Berdandan dan Berbicara

Memasuki masa remaja, apalagi saat mulai menyukai lawan jenis, anak-anak kita akan suka sekali berdandan. Tentunya supaya mereka tampil menarik di depan lawan jenisnya. Tak hanya pada anak perempuan, anak laki-laki pun sama. Bentuk dan cara berdandannya saja yang berbeda.

Sebagai orang tua, kita wajib memberi arahan akan kebiasaan baru ini. Memberi pengertian bahwa dandan yang memberi mereka rasa percaya diri dan menjadi lebih dihargai oleh orang lain secara luas akan lebih baik. Daripada sekadar tampil cantik atau tampan di depan lawan jenis.

Selain dandan, mengajarkan mereka cara berbicara di depan umum juga tak kalah penting. Supaya mereka percaya diri dan dihargai oleh orang lain.

Itu dia 8 life skill yang wajib diajarkan orang tua kepada anak remajanya. Yuk, Bu, Pak, kita ajarkan mereka untuk menjadi manusia yang dewasa. Yang bisa bertanggung jawab kepada kita, kepada dirinya sendiri, dan juga kepada Tuhan YME. Semoga bermanfaat.

***

Nia Haryanto 

Ibu empat orang anak, lulusan Departemen Biologi ITB, yang kini berprofesi sebagai pekerja lepas di bidang kepenulisan.