Agar anak berkembang menjadi anak yang mandiri, tahan uji, tidak takut gagal, punya daya lenting terhadap kegagalan dan memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasi segala masalah, orang tua disarankan untuk menerapkan growth mindset untuk anak sebagai bekalnya di masa depan.

 

Apa itu Growth Mindset?

Growth Mindset adalah suatu mindset atau pola pikir yang percaya bahwa potensi kecerdasan atau kemampuan seseorang akan terus berkembang, tidak statis.

Anak-anak yang punya growth mindset yang baik tidak akan minder atau rendah diri ketika mereka mendapatkan nilai buruk. Karena mereka tahu, apa yang mereka dapatkan sekarang ini tidaklah menjadi cerminan yang akan datang. Gampangannya, mereka akan menerima kegagalan dengan baik, sebagai proses belajar.

Nah, inilah yang penting, karena dengan adanya kerja keras, ketahanan, dan ketekunan, maka kesuksesan bisa diraih dan akan menjadi hasil nyata.

Sering kali orang tua atau guru kurang paham bagaimana menumbuhkan “Growth  Mindset” ini. Mereka memarahi anak didiknya atau anak sendiri karena malas belajar sehingga mendapatkan nilai jelek. Ada pula yang anaknya sudah belajar dengan baik, tetapi tidak mendapatkan hasil yang baik lalu dimarahi juga.

Growth Mindset untuk anak mengajarkan kita, bahwa potensi kecerdasan yang terus berkembang itu perlu dilatih sedini mungkin.

 

Mengapa Growth Mindset ini Harus Dilatih?

Seperti layaknya otot, maka otak pun perlu dilatih terus menerus agar makin terlatih dengan hal-hal buruk  dan tidak pernah putus asa atau merasa minder.

Yang perlu kita perhatikan adalah memberi pemahaman, bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Anak harus mengerti dan memahami, bahwa setiap ia mungkin sudah melakukan usaha maksimal namun hasilnya saja yang belum optimal. Ia perlu didampingi untuk mencari cara lain, agar hasilnya lebih baik.

Dengan begini, seperti yang sudah disebutkan di atas, anak tidak akan  minder ketika mendapat nilai jelek karena toh dia sudah belajar dengan baik. Ia pun akan lebih menghargai sebuah proses usaha, tidak melulu melihat pada hasil.

Anak juga akan memahami penuh, bahwa nilai yang sekarang mereka peroleh bukanlah jaminan hidup mutlak di masa yang akan datang.

Dari sebuah riset yang dilakukan oleh Prof Carel Dweck,  growth mindset akan menimbulkan suatu daya lenting, atau resiliensi (kekuataan daya tahan) yang begitu besar ketika anak menghadapi hal yang buruk di dalam kehidupannya. Daya lenting atau resiliensi anak yang punya growth mindset akan jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tak memiliki konsep growth mindset.

Nah, jadi benar ya, growth mindset ini sangat penting dilatihkan pada anak-anak untuk bekal mereka di kemudian hari?

 

Bagaimana Melatih Mengembangkan Growth Mindset untuk Anak?

Ada dua tip bagi guru maupun orang tua untuk melatih anak-anak menerapkan “Growth Mindset”, yaitu:

1. Pujian

Berikan praise (pujian),  compliment (kekaguman), pada saat anak berhasil melewati tahap perseverance dalam menghadapi saat buruk.

Contohnya:

“Adi, kamu sudah kerja keras”

“Adi, kamu memang hebat telah berjuang mencapai nilai ini dengan belajar cukup keras!”

 

2. Kerja keras

Pola pikir atau ketahanan itu dilatih dengan kerja keras.

Betul, kerja keras dan latihan jadi kuncinya. Sehingga anak memahami bahwa kesuksesan itu hanya dapat dicapai hanya dengan kerja keras.

Anak yang terbiasa bekerja keras akan mempunyai daya juang yang tinggi, untuk mencapai mimpi dan cita-citanya.

 

Nah, berbicara mengenai daya juang, ada seorang psikolog yang menjelaskan bahwa ketahanan itu sebenarnya sudah ada sejak bayi pada setiap anak. Seorang bayi berjuang agar dapat lahir ke luar dari rahim ibunya, ia juga akan berjuang untuk mendapatkan makanan saat IMD dilakukan. Bagian dari perjuangan itu dilanjutkan ketika dia sudah lahir, balita sampai dewasa.

Lalu, bagaimana cara memupuk daya juang yang benar untuk anak? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  1. Orang tua tidak perlu mengasihani anak ketika anak itu meminta sesuatu yang bukan untuk kebaikannya.
  2. Ibu atau orang tua harus tega untuk tidak memberikan apa yang diminta oleh anak. Tega bukan berarti kejam. Tega berarti dia mengasihani anak agar anak bisa melewati kesulitan dirinya sendiri.
  3. Ibu atau orang tua harus teguh hatinya agar anak dapat melewati proses untuk visi anak di masa depan. Ketika anak itu baru belajar jalan, dia jatuh. Biarkan anak itu bangkit kembali supaya dia bisa jalan dan akhirnya berlari.
  4. Ibu atau orang tua mendampingi anaknya dalam kesulitan:
  • Katakan kepada anak bahwa orangtua tidak mematok angka untuk suatu pelajaran yang tidak disukainya. Tetapi berikan support agar dia berusaha sebatas yang maximal saja, sebatas KKM.
  • Jangan membuat frustrasi anak, tetapi berikan dorongan sesuai dengan kepribadian anak
  • Disiplin menjadi bagian dari suatu proses kemandirian. Pola disiplin dibentuk oleh orangtua dengan membangun relasi lebih dulu, dan menjalankannya secara sinkron

 

Demikian sedikit sharing mengenai pentingnya melatih growth mindset untuk anak. Semoga anak-anak kita semua bisa terbentuk menjadi pribadi dewasa yang tahan uji, yang selalu bisa mengatasi kesulitannya sendiri apa pun bentuknya. Amin!

 

***

Sumber:

  • Francisca Febriana Sidjaja, Psikolog Anak Universitas Katolik Widya Mandala
  • Charolette, Nara Sumber Tanam Benih Foundation

Disarikan oleh Ina Tanaya

Narablog inatanaya.com