Hola, Emak! Pa kabar nih? Kali ini, saya akan masih membahas mengenai cara monetasi blog, lebih khusus lagi kita akan menggali kesalahan monetasi blog yang umum dilakukan oleh bloger.

Sharing soal kesalahan monetasi blog ini saya rangkum dengan penuh cinta ya, Mak. Nggak maksud menyindir atau sebangsanya. Tujuannya hanya ingin bikin reminder saja, karena kesalahan monetasi blog ini masih banyak ditemui di mana-mana. Artinya, banyak bloger yang masih melakukannya, pun berkali-kali.

Ssstttt … bahkan saya sendiri juga sesekali dan masih saja melakukan kesalahan monetasi blog ini lo. Jangan salah deh ya 😆

Makanya, kita bikin list nih dalam sesi sharing kali ini, supaya kita bisa berusaha untuk menghindari beberapa kesalahan monetasi blog yang sering kita lakukan ini.

 

Nah, mari kita lihat satu per satu kesalahan monetasi blog yang biasa terjadi

 

Pengin Memonetasi Blog? kesalahan monetasi blog

1. Terburu-buru memonetasi padahal belum siap

Yes, ini adalah kesalahan monetasi blog pertama yang sering banget terjadi ya. Jadi, harus ada persiapan dulu ya sebelum blog mulai dimonetasi? Iya dong. Ibarat mau buka toko, kita perlu persiapan kan? Nyiapin produknya, riset pasar, survei lokasi, dan sebagainya kan?

Ya, sama saja dengan monetasi blog, Mak. Sebelum mulai mengomersilkan blog, kita mesti melakukan beberapa persiapan. Supaya apa? Ya supaya tujuan monetasinya tepat, dan langkah-langkah kita memonetasi juga sesuai dengan tujuan monetasinya.

Lalu, apa saja persiapan yang harus kita lakukan sebelum mulai memonetasi? Nah, ini sudah saya tulis dalam artikel sebelumnya nih, Mak.

 

2. Fokus ke angka, alih-alih engagement

Memang ya, Mak, modal sebuah blog untuk bisa dimonetasi adalah angka–entah itu angka subscriber, pageview, DA/PA, follower, dan seterusnya.

Tapi bukan berarti, kita lantas pengin gampang aja dengan jalan instan dan pintas. Membeli follower, misalnya, demi bisa memonetasi. Mungkin alasan pemicu kita menempuh jalan pintas ini adalah seperti poin pertama di atas ya? Terburu-buru, tapi sebenarnya belum siap.

Padahal yang namanya cara instan, itu biasanya juga efeknya kurang bagus. Misalnya beli follower nih. Para klien itu bisa ngelihat lo, mana akun yang followernya real dan mana yang fake. Alih-alih, lebih baik fokus ke engagement saja. Memang butuh waktu lebih lama sih, tapi jumlah followers dan subscribers akan mengikuti dengan pasti. Pastikan saja konten kita memang berkualitas.

Mungkin memang butuh waktu lama, tapi saat waktunya tiba, kita sudah benar-benar siap memonetasi blog. Hasilnya akan lebih baik.

Jangan cuma mengejar naiknya jumlah follower/pageview/subscribers. Tapi luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka dalam artian yang sebenarnya.

Nah, ini ada hubungannya dengan kesalahan monetasi blog yang berikutnya nih.

 

3. Tidak mengenal demografi pembaca blog sendiri

Mengapa ini bisa menjadi kesalahan monetasi blog?

Demografi pembaca ini penting, Mak. Karena kalau kita nggak peduli dengan demografi pembaca blog, bisa saja kita salah monetasi. Misalnya, demografi pembaca kita adalah laki-laki yang dominan, terus kita menerima job review untuk lipstik. Tetot!

Yaaa, kan jadinya nggak masuk deh targetnya (meski kita bisa ngeles sih, kan mungkin saja para cowok ini pengin ngebeliin lipstik untuk ceweknya atau istrinya. Yha!) Padahal udah susah-susah dikirimin sampel, misalnya. Atau kita sudah beli dulu produknya. Ya, jadinya target marketingnya meleset dong.

Mengenali pembaca blog itu penting, agar kita bisa engage dengan lebih baik, kita juga berbicara dengan “bahasa yang sama” dengan pembaca.

Padahal, kalau kita bisa mengenali pembaca dengan baik, kita akan lebih mudah “membujuk” mereka untuk “membeli” apa yang kita “jual” lo. Dengan mengenali pembaca blog, kita pun tahu kebutuhan informasi apa yang mereka punya, dan apakah kita bisa menyediakannya untuk mereka.

 

4. Hanya mengandalkan satu cara monetasi saja

Misalnya nih, hanya menerima sponsored posts saja. Atau hanya afiliasi saja. Padahal ada banyak sekali cara monetasi blog yang bisa kita gabungkan dan integrasikan dalam blog lo, Mak.

Misalnya nih. Selain menerima sponsored posts, Emak juga menjual ebook resep kumpulan yang sudah pernah tayang di blog. Sekaligus juga afiliasi ke ecommerce yang sesuai dengan demografi.

Tuh, Mak. Dapat 3 monetasi kan? Mau ditambah Adsense? Boleh juga tuh.

Nah, saya pernah baca nih di blognya Melyssa Griffin–dia ini salah satu bloger moncer dari US. Beliau nih menyarankan, jangan hanya mengandalkan produk orang lain sebagai materi jualan di blog kita. Justru, kita tuh mesti berusaha untuk bisa menjual “produk” kita sendiri. Melyssa menyebutnya sebagai e-products, macamnya banyak: ada ebook, workshop online, webinar, jualan template, coding, dan lain-lain.

Karena, kalau kita terlalu mengandalkan produk orang, ketika suatu saat nanti perubahan kebijakan, misalnya, maka bisa jadi kita akan tergagap-gagap utk meneruskan monetasi blog kita.

Misalnya saja, algo Google berubah. Wuaaah, yang nge-Adsense pasti sedikit banyak terpengaruh kan?
Atau misalnya ecommerce-nya tutup. Terus, gimana nasib afiliasi kita? Demikian seterusnya. Dengan kita bisa membuat produk sendiri, kita akan cenderung bisa survive lebih lama, Mak.

Begitu penjelasan Melyssa Griffin.

 

5. Gampang menyerah begitu hasilnya tak nampak juga

Nah, ini nih. Kesalahan monetasi blog kita banget ini ya. Yang namanya usaha itu selalu butuh kerja keras, konsistensi dan persistensi. Mau di mana pun itu, offline maupun online.

Ngeblog–bahkan yang tujuannya nggak dimonetasi pun–butuh konsistensi untuk melakukannya. Hanya yang benar-benar passionate yang bertahan, karena seleksi alam berbicara.

Apalagi kalau mau dimonetasi. Mesti siap kerja keras, siap untuk selalu update info terbaru, dan selalu siap belajar terus, karena perkembangan di dunia blogging tuh luar biasa banget! Dan, hasil itu nggak ada yang instan, Mak. Yang instan sih biasanya juga nggak bertahan lama, soalnya. Yang dibangun dengan sepenuh hati dan cinta, pasti akan lebih survive deh.

 

Nah, itu dia 5 kesalahan monetasi blog yang sering terjadi. So, Emak masih suka melakukan yang mana nih, Mak? Hehehe. Kayaknya sih, kalau saya nih ya, masih suka ngelakuin yang terakhir deh 😆

Ada yang mau diskusi sama saya soal kesalahan monetasi blog ini? Kuy! Ditulis di kolom komen ya!