Hae, Mak! Sudah mengenal beberapa jenis konten, sekarang kita masuk ke soal membuat konten yuk, Mak!

Well, saya sendiri sih suka menyebut proses membuat konten ini dengan memasak konten. Kenapa? Ya, karena prosesnya tuh persis dengan kalau kita masak, Mak.

Ada proses persiapannya–kita belanja ide, mengumpulkan data, meriset ini itu, dan lain-lain–yang sama kayak kita belanja bahan masakan, lalu milih-milihin sayuran, nyiapin ini itu. Terus ada kita yang meracik bumbu-bumbunya, lalu ada ditumis, digoreng, diapainlah ya. Terus, habis itu ada koreksi rasa. Jadi deh masakan yang enak.

Sama, Mak, dengan membuat konten.

Kita meracik bahan-bahan yang sudah ada. Dimasak dengan tambahan opini kita sendiri, dengan data-data pendukung. Dikasih bumbu juga, Mak. Ada video, images, infografis.

Terus terakhir ada koreksi rasa juga, yang berupa self editing.

See? Kayak masak kan?

Nah, seperti halnya masakan juga, ada masakan yang enak karena dimasak dengan baik, tapi ada juga masakan yang nggak enak. Dagingnya keras, bumbunya kurang, kaldunya encer, dan sebagainya.

Konten juga sama, Mak. Ada konten yang “nggak enak” untuk dibaca; nggak mudah dipahami, garing, flat, kurang bumbu, bacanya bikin bosen dan seterusnya.

Tapi ada juga konten yang enak dibaca; bikin kita terhanyut dengan ceritanya, kita juga mudah paham dengan pesan yang tersirat. Bahkan kita bisa ikutan emosi juga.

So, Emak sebagai bloger mau membuat konten yang kayak gimana nih? Yang pertama; yang daging dan sayurannya keras, nggak bisa dicerna, kurang bumbu? Atau yang kedua; yang enak dicerna, enjoyable, bikin kita tercerahkan?

Terus, apa nih yang bisa kita lakukan untuk bisa membuat konten yang enak ini?

Ya, seperti masak juga, membuat konten yang enak itu ada tahapannya. Apa saja?

 

Tip Menulis Konten RoundUp yang Bisa Memperkaya Blog

1. Ide yang unik

Unik, yang berarti original. Meskipun pasti Emak juga paham, there’s nothing new under the sun. Tapi kalau kita bisa mengemas secara berbeda, pasti jadinya unik.

Ide kadang sama satu sama lain ya. Tapi cara memrosesnya yang berbeda, maka pasti akan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Dan, bagaimana caranya membuat ide kita unik? Cobalah untuk riset ke artikel lain yang sejenis. Temukan sesuatu yang belum ada untuk kita tambahkan dalam konten kita.

Cara lain lagi, tambahkan personality kita di konten tersebut. Dengan menulis sesuai dengan kepribadian kita, maka sudah pasti deh akan timbul rasa yang unik dalam ide tulisan kita.

2. Buat kerangka berpikir

Kerangka berpikir, atau outline, merupakan satu tahapan persiapan memasak konten yang penting. Karena dalam proses pembuatan outline, kita akan merencanakan, bahan apa saja yang mau ditumis, digoreng, dikukus dan lain-lain hingga menjadi konten yang enak

So, buatlah kerangka berpikir dengan menuliskan subjudul-subjudul yang akan digunakan atau poin-pon pokok pikiran. Kalau perlu bikin juga rencana “bumbu” konten, foto-foto atau infografis yang harus dibuat. Dan sebagainya.

Percaya deh, Mak, dengan membuat kerangka berpikir, kita akan jauh lebih cepat menyelesaikan proses membuat konten ini. Karena kita nggak bingung lagi, mau nulis apaan.

3. Buka dengan sesuatu yang bikin pembaca jatuh hati

Nah, ini nih. Proses masak yang pertama kali ini menentukan banget nih. Opening atau pembuka bisa menjadi penentu, apakah pembaca mau tinggal lebih lama untuk membaca atau pergi aja.

Bayangkan nih, Mak. Kita menyuguhkan hidangan ke suami. Suapan pertama kan bakalan menentukan tuh, suami suka masakan kita atau enggak. Kalau dia suka, maka dia akan lanjut makan sampai habis. Mungkin akan nambah. Iya nggak?

Kalau nggak enak? Ya, mungkin terus sendoknya diletakkan. Terus dia ngeloyor ke dapur, dan bikin mi instan sendiri.

Aduduh. Sakitnya~

Etapi bisa aja sih, masakan kita nggak enak, tapi suami tetap makan sampai habis. Ya soalnya dia sayang sama kita. #eaaaaaa Atau mungkin suami takut kita bawelin. 😆 Ya, kalau itu sih lain persoalan yahhh~

Makanya, pilih opening dengan hati-hati. Jangan sampai nih, opening malah ke mana-mana, udah 300 kata lebih eh belum juga nyampe ke inti persoalan. Hvft!

4. Tulis dalam struktur tulisan yang benar dan ramah dibaca

Emang ada tulisan yang enggak ramah dibaca? Ada, Mak! Yang strukturnya bikin bosan, bikin ngantuk.

Nah, kita akan bahas lebih dalam di artikel yang lain aja deh, karena panjaaang ….

Kita lanjut dulu yuks!

5. Lanjutkan ke bumbu!

Apa saja nih bumbunya? Bisa berupa image-image, foto-foto, memes, infografis, ini itu, yang bisa bikin tulisan lebih hidup dengan pesan yang lebih jelas.

Ingat ya, Mak. Bahwa otak manusia itu bisa mencerna visual jauuuh lebih baik ketimbang teks. Jadi, perjelas pesan Emak secara visual, Mak.

Setelah ada bumbu-bumbu, maka saatnya koreksi rasa, yaitu self editing. Supaya kontennya makin gurih dan renyah dicerna, yes?

Nah, begitulah tahapan membuat konten yang lezat dicerna ini, mulai dari menyiapkan bahan–outlining–sampai dengan koreksi rasa–self editing.

Kita akan bahas satu per satu di artikel-artikel yang akan datang ya!

Stay tuned!