Psikolog Pendidikan dari College of William & Mary , Virginia, AS, Kyung Hee Kim, Ph.D pernah melakukan riset terhadap 300.000 murid kelas 12, dan menyatakan bahwa skor kreativitas murid memprihatinkan dan mengalami penurunan yang cukup nyata sejak tahun 1990. Lebih menyedihkan lagi, ternyata yang mengalami kemunduran skor kreativitas tersebut adalah murid-murid TK hingga kelas 3 SD. Waduh! Lebih waduh lagi ketika disebutkan, bahwa salah satu sebabnya adalah banyaknya pelajaran hafalan yang harus dilakukan oleh anak-anak.

Wah.

Pelajaran Hafalan, Benarkah Merusak Kreativitas?

Menurut Bobby Hartanto, M. Psi, seorang psikolog dan dosen tak tetap di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ancaman dari kreativitas ini adalah kemalasan untuk menemukan sesuatu atau cara memecahkan masalah secara berbeda dan baru. Kemalasan ini bisa berasal dari diri sendiri ataupun karena pengaruh dari luar. Jika lingkungannya tak mendukung upaya-upaya kreatif, maka anak pun akan enggan mengembangkan kemampuan kreativitasnya.

Guru juga menjadi salah satu faktor eksternal yang sangat menentukan pengembangan kreativitas ini. Jennifer Keys Adair, Ph. D, seorang pakar pendidikan anak usia dini dari University of Texas, mengemukakan bahwa kebanyakan sekolah di AS kini berfokus pada hafalan.

Menurut Jennifer, terlalu banyak materi pelajaran hafalan dapat merusak kreativitas anak karena mereka tak diberi kesempatan untuk mencari solusi atau pemecahan masalah menurut ide masing-masing. Ini diperkuat lagi dengan soal ujian yang hanya berupa pilihan jawaban A, B, C dan seterusnya dengan hanya satu jawaban yang benar.

Untuk itu, Jennifer juga menyarankan kepada para orang tua agar sebelum memasukkan anak-anak ke kelompok bermain, TK ataupun SD, orang tua perlu melakukan survei secara mendetail mengenai program-program pendidikan yang dilaksanakan dalam sekolah tersebut. Pertanyaan pokok yang harus dicari jawabannya adalah, apakah sekolah tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk aktif mengekspresikan diri? Apakah ada program-program yang dapat memicu kreativitasnya, seperti menggambar, menari atau bermain musik? Usahakan agar si kecil tak hanya membaca, menulis dan menghafal saja selama di sekolah.

Pendidikan dari Rumah

Nah, bagaimana nih menurut Emak? Apakah memang Emak juga berpendapat bahwa pelajaran anak-anak sekarang memang terlalu banyak pelajaran hafalan?

Kalau ya, maka kita sendiri sebagai orang tua, juga harus menciptakan kondisi kreatif di dekat anak-anak, Mak. Saat si kecil berhasil menyelesaikan gambar pemandangannya, misalnya, jangan hanya mereaksikan, “Wah, bagus sekali!” dan sudah. Namun, coba ajak dia mengobrol mengenai hasil karyanya tersebut. Tanyakan padanya nama pohon yang ada di gambarnya, atau rumah siapakah itu yang digambarnya.

Jika dia menggambar sapi, tanyakan mengapa dia menggambar sapi dan bukan binatang yang lain, bagaimana dia membuatnya, dan juga menanyakan padanya apa ciri-ciri seekor sapi, dan seterusnya. Obrolan santai semacam ini akan mengarahkan dia untuk lebih berani mengekspresikan diri.

Keinginan untuk berkembang memang kembali pada individu masing-masing, Mak. Namun, pihak-pihak lain, terutama orang tua-kayak kita-kita ini–memang wajib untuk selalu memberikan stimulasi. Di samping itu juga kita harus menjaga kreativitas ini tetap berkembang ke arah yang positif dan bukan sebaliknya.

Jangan patah semangat untuk mendampingi anak-anak belajar ya, Mak! Bersama mereka, kita juga bisa belajar banyak hal kok. Nggak hanya mereka yang tambah pintar, kita sendiri pun juga tambah pintar.

Semangat!