Hai, Mak! Siapa nih yang suka makan ramen? Tahu nggak sih, bahwa mi khas Jepang itu punya beberapa variasi yang sangat tergantung pada kuahnya.

Beberapa ada yang mengusung gaya Hakata, dan ada pula yang berkiblat ke racikan wilayah Hokkaido. Tak terhitung berapa banyak pengulas yang nggak paham akan latar belakangnya, selain hanya soal rasanya yang memang endeus bingit.

Nah, kali ini, mari kita bongkar asal usul makanan khas Jepang ini untuk Emak yang memang suka banget makan ramen, supaya bisa semakin menikmatinya, tentu saja.

Kaldu

Ada beberapa jenis kaldu yang menjadi basis dari beberapa macam mi Jepang ini.

  • Tonkotsu, diracik dari tulang dan lemak babi yang direbus selama kurang lebih 12 – 60 jam. Memang tidak halal ya, Mak, karenanya di Indonesia, jenis kaldu ini kurang populer. Visual akhirnya adalah kaldu kental berwarna putih, dengan rasa creamy. Ramen yang identik menggunakan kaldu ini adalah yang dari Hakata.
  • Miso, dikembangkan di Hokkaido, dengan bahan dasar miso (bumbu olahan dari fermentasi kedelai). Ciri khas dari rasa kuah ini adalah kental, nutty, beraroma tajam, dengan sedikit rasa manis. Miso ini dimasak bersama kaldu ayam atau kaldu ikan. Kalau memang di resto nonhalal, terkadang ditambahkan tulang babi beserta lemaknya.
  • Shoyu, terdiri atas kaldu jernih hasil rebusan ayam, ikan, sayuran atau sapi. Shoyu ditambahkan kala matang agar asin. Mi Jepang berkuah ini biasanya disajikan dengan daging sapi, menma, kamaboko, nori, telur rebus, dan taoge.
  • Shio, diracik dari garam yang beradu dengan kaldu yang diracik dari ayam, ikan, sayuran, dan rumput laut. Visual akhir dari kaldu yang asin ini adalah jernih kekuningan. Tulang babi boleh ditambahkan, jika hendak menyediakan menu nonhalal, asal tidak direbus lama agar hasilnya tetap jernih dan encer.

Isi

  • Menma shinaciku, yaitu produk Tiongkok dan Taiwan berupa rebung yang difermentasikan melalui proses jamur.
  • Chashu, termasuk menu nonhalal, yaitu daging babi bagian perut yang dipanggang atau direbus bersama shoyu, sake, bawang putih dan jahe. Daging ini lantas dicincang atau diiris tipis. Chashu boleh juga disertakan dalam piring terpisah.
  • Tamago, atau telur terdiri atas versi rebus (yude) atau mentah (nama). Tamago khas dibelah dua, memperlihatkan bagian kuningnya yang masih setengah matang , mirip tekstur jeli. Tingkat kematangan khas ini beristilah onsen tamago.
  • Kikurage, yaitu jamur kuping hitam iris. Biasanya digunakan pada ramen gaya Hakkata dan Kumamoto.
  • Moyashi, yaitu taoge tumis atau rebus yang khas ditambahkan pada banyak miso ramen.
  • Kamaboko, yaitu sosis dari fillet ikan berdaging putih atau kemerahan, seperti ikan tuna. Biasanya dibuat dalam warna putih atau merah muda.

Pelengkap

Sama dengan cara kita makan bakso kuah, makan tamen juga nggak lengkap rasanya tanpa kondimen. Ini dia beberapa kondimen yang populer.

  • Goma, atau wijen putih. Tersaji utuh atau sudah dihaluskan.
  • Rayu, minyak cabai berbasis minyak wijen dengan jenis merah.
  • Gari, selain dinikmati sebagai pelengkap sushi, acar jahe ini juga merupakan pelengkap ramen
  • Shichimi togarashi, cabai bubuk tujuh rasa. Dikemas botolan dari cabai bubuk, merica szechuan bubuk, kulit jeruk, wijen hitam, wijen putih, noti dan jahe bubuk.
  • Ninniku, atau bawang putih. Biasa digunakan mentah dan dihancurkan mendadak ke dalam kuahnya (biasanya kedai menyertakan penghalus bawang di meja santap). Ada pula ninniku goreng. Cocok dicampur ke dalam kuah yang kental dan berminyak semacam tonkotsu.

Racikan Ramen Berdasar Wilayah Asalnya

Secara garis besar, berkembang 4 gaya racikan. Agar Emak nggak bingung saat mengenali jenis yang ditemui, ini dia beberapa wilayah yang populer dengan ramennya.

  • Gaya Hakata, wilayah Pulau Kyushu di kota Fukuoka. Khas terbuat dari kuah tonkotsu dan isi chashu, acar jahe dan bawang daun.
  • Gaya Kumamoto, letaknya di tengah-tengah Pula Kyushu. Kuah tankotsu yang merendam mi memiliki ciri khas lebih light, dengan mi yang lurus. Bahan isinya adalah chashu, kikurage, dan bawang putih panggang.
  • Gaya Kitakata, kuahnya berbasis shayu, dengan isian melimpah.
  • Gaya Sapporo, wilayah Jepang Utara atau Hokkaido. Terkenal dengan sebutan “kota ramen”, saking banyaknya kedai mi Jepang yang ada di sepanjang jalan. Miso ramen menjadi signature dish-nya.

Nah, udah laper? Sekarang kita ada resep ramen nih. Lebih istimewa lagi, kali ini kita padukan dengan bumbu kari. Yummy? Jelas!

japanese curry ramen

sumber: pixabay

Resep Japanese Curry Ramen

Bahan:

  • 300 gr ramen kering
  • 100 gr kol putih, iris tipis

Kari bahan 1:

  • 2 sdt minyak sayur
  • 300 gr bawang bombay, iris tipis
  • 200 gr udang, kupas, buang kepala, biarkan ekornya
  • 300 gr kentang, kupas, iris dadu 2 cm
  • 250 gr wortel, potong dadu 2 cm
  • 100 gr kacang polong segar
  • 4 liter air

Kari bahan 2:

  • 3 sdm mentega tawar
  • 30 gr tepung terigu serbaguna
  • 2 sdm kari Jepang
  • 1 sdt merica hitam bubuk
  • ½ sdt cayenne pepper
  • 2 sdm sake (bisa diskip)
  • 1 sdm tomato sauce
  • 1 sdm saus worcestershire
  • 150 gr apel merah, kupas, haluskan.
  • 1 sdt garam

Cara membuat:

Rebus ramen hingga setengah matang. Angkat, sisihkan dalam lemari es.

Kari 1:

Panaskan minyak, tumis bawang bombay hingga harum. Masukkan udang, masak hingga udang berubah warna.
Tambahkan kentang, wortel, kacang dan air. Didihkan di atas api kecil hingga sayuran matang.
Matikan api. Sisihkan.

Kari 2:

Panaskan mentega hingga meleleh. Masukkan tepung terigu dan kari Jepang. Aduk hingga mengental.
Tambahkan merica hitam dan cayenne pepper. Aduk rata.
Masukkan tomato paste dan saus worcestershire, aduk rata.
Angkat, masukkan ke dalam kuah kari 1 di atas. Masukkan apel dan garam.
Aduk rata, angkat. Sisihkan.

Penyajian:

Susun ramen di dalam mangkuk saji. Siram dengan kuah kari, taburi dengan kol. Sajikan panas.

Nah, gimana Mak? Mau mencoba resep  di atas? Have fun ya!