Di tengah ramainya perkembangan media sosial yang informasinya campur aduk antara benar dan salah, masihkah kita bisa menggunakannya dengan bijak? Apa sih sebenarnya manfaat media sosial ini?

Hmmm, kadang rasanya kok dunia maya terlihat lebih seperti medan perang. Apalagi ketika ada momen pilkada, pilpres dan semacam itu ya, Mak. Betapa hot-nya timeline kita. Betul nggak?

Media sosial memang bisa jadi bermanfaat, tapi bisa juga menjadi bumerang. Saling nyinyir dan berujung unfriend. Alhamdulillah, nggak sampai unfriend di kehidupan nyata kan ya?

Platform media sosial itu juga banyak banget, dengan ciri khasnya masing-masing. Twitter, Facebook, Instagram, Path, LinkedIn, dan masih segudang lagi. Sibuk deh kalau semuanya diurusin, bisa-bisa kerjaan lain nggak kepegang.

Tapi, sebagai seorang blogger juga seorang ibu yang masih sering galau besok masak apa, media sosial itu seperti tools. Saya merasa terbantu sekali, dan seakan nggak bisa terpisahkan.

Ketika publish artikel, biasanya kita juga sharing link ke beberapa media sosial yang kita punya, lalu memberi like, komen, dan share. Semua aktivitas tersebut jadi satu kesatuan yang menunjang.

Ada yang bilang sih, “Ini ibu rumah tangga, mainan handphone melulu deh!” Pernah ada yang digituin? Hihi, mereka kurang paham Emak-Emak Blogger sudah banyak yang berpenghasilan. Say alhamdulillah bareng-bareng yuk, Mak.

Jadi, menurut Emak, apa saja sih manfaat media sosial itu? Kalau saya sih, media sosial punya 6 manfaat berikut ini.

 

Manfaat media sosial

 

Iming-iming Kecantikan Instan

Buat saya pribadi, media sosial itu lebih ke arah hobi. Syukur-syukur bisa menghasilkan 🙂 Menulis atau sharing foto lewat Instagram, yaa mengusahakan sharing url blog atau informasi yang positif dan jujur. Saya paling sering buka Instagram, Facebook lalu Twitter.

Well, berikut beberapa manfaat media sosial yang positif yang masih saya rasakan:

 

1. Mencari Ide dan Informasi

Entah gimana kalau nggak bisa bermedia sosial.

Biasanya saat bingung besok mau masak apa, saya meluncur ke akun Instagram beberapa food blogger yang resepnya mudah dan Indonesia banget.

Dan ketika suntuk, saya buka Pinterest sebentar sambil menunggu anak, sering muncul ide di sana. Sesederhana itu, dan I’m happy.

 

2. Berbagi Hal yang Positif

Mak, berbagi cerita merupakan hal yang biasa kita lakukan ya di blog. Tujuannya supaya memberikan informasi kepada orang lain. Dan, salah satu manfaat media sosial juga nih untuk mengabadikan momen.

Ketika selesai bercerita, terasa plong! Tapi tetap bijak menyaring cerita yang sifatnya positif saja. Sedangkan kalau lagi kesal atau marah, sebisa mungkin menahan diri untuk nggak membuat status-status negatif.

 

3. Connection

Katanya, medsos itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ah, nggak juga kok, semua balik lagi ke user-nya.

Saya senang melihat saudara, kerabat atau teman yang sudah jarang ketemu. Melihat bagaimana perkembangan anak-anaknya, kehidupan keluarganya. Cerita teman-teman lagi liburan ke mana atau apa pun.

Intinya, turut berbahagia kalau atmosfer medsos pun bahagia, dalam arti yang tidak merugikan atau menyakiti perasaan orang lain.

 

4. Memiliki Support Group

Media sosial telah mempertemukan kita ya, Mak. Karena sama-sama memiliki kesukaan atau kecintaan terhadap menulis di blog.

Dengan begitu, hal ini membuat kita semakin semangat untuk konsisten menulis. Saling dukung satu sama lain, menyemangati dalam hal apa pun. Dan yang nggak kalah seru adalah saling mention ketika ada job #eh hihi.

 

5. Baper yang Positif

Terbawa perasaan yang positif ketika melihat postingan teman dengan gaya hidupnya yang sehat. Kok dia bugar ya, lalu jadi tersentil untuk berusaha bisa bugar dan sehat. Terjadilah baper yang positif.

Penting banget, kalau ada status orang lain yang baik dan rasanya memang kita perlu evaluasi diri, ya just do it. Bukan malah jadi tersindir.

 

6. Monetize

Sambil menyelam minum air. Mungkin kalimat itu cocok untuk yang ber-media sosial sebagai hobi tapi juga mendapat fee.

Saya nggak ngoyo tapi lumayan serius untuk maintain media sosial. Misalnya dibilang tertekan dengan mengatur foto sharing di Instagram, nggak juga. Itu balik lagi ke pilihan masing-masing 🙂

 

Iya, media sosial itu seperti mulut. Apa pun yang telah kita posting, itulah cerminan diri kita. Iya nggak sih? Jadi, betul-betul dipikirkan apa yang mau dibagi.

Tahu kapan harus berhenti, kapan harus mem-forward informasi.

Finally, sama halnya dengan kehidupan nyata, sopan santun dalam media sosial pun sangat penting, karena jarimu adalah harimaumu.

**

Blogpost Social Media Untuk Apa? merupakan tulisan pertama #KEBloggingCollab untuk kelompok Siti Nurbaya

ditulis oleh Suciati Cristina (www.cigrey.com)
Suciati Cristina adalah seorang emak blogger 2 anak balita