Saya tidak berpikir bahwa berat badan adalah sebuah indikator yang menunjukkan kesehatan seseorang. Saya juga tidak berpikir, kita dapat mengetahui seberapa sehat atau tidaknya seseorang hanya dengan  skala tertentu saja, terutama saat menurunkan berat badan.

Ada orang yang tubuhnya bagus, langsing, namun memiliki penyakit tertentu. Ada pula sebaliknya, bertubuh tambun namun sehat, makan apa saja bisa, tidak ada keluhan sama sekali (atau belum?).

Atau kita balik pernyataan di atas. Orang yang bertubuh besar atau gemuk, rentan dengan kolesterol, diabetes atau jantung (naudzubillahi min dzalik, deh ya ). Sementara orang yang berbadan langsing, untuk aktivitas seperti olahraga, senam, jogging, aerobic, dan lain-lain. mungkin tidak mudah lelah atau capek.

Saya baru saja menemukan akun Instagram seorang wanita yang penampakan lahiriahnya masih seperti perempuan usia 25 tahunan, namun ternyata usia sebenarnya sudah 50 tahun. Lalu saya mencari tahu dari feed Instagramnya. Wanita ini pasti melakukan sesuatu yang enggak dilakukan kebanyakan dari wanita lain pada umumnya.

Benar saja. Dia begitu menjaga asupan makanan. Selalu mengkonsumsi makanan sehat serta rajin olahraga (aerobic, zumba, dll). Ya ampun , saya sungguh iri (iri yang positif ya) karena dia begitu menghargai tubuhnya dengan menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Dulu, saya berpikir : “Biar saja gemuk yang penting sehat.” Tapi setelah saya setahun ini “menyandang” predikat gemuk seperti yang pernah saya ungkapkan di tulisan Titik Terberat dalam Hidup Saya, saya menyadari bahwa “Gemuk itu nggak enak, Jendral!”

Saat ini BB saya 64 kg. Padahal setahun lalu berkisar 50-52 kg. Artinya dalam setahun, kenaikan BB saya mencapai 14 kilogram. Ini melebihi rekor kenaikan berat badan saya selama ini. Dua kali hamil saja hanya naik 5-7 kg. Dampak negatifnya banyak sekali, salah satunya saya ngantukan (dikit-dikit ngantuk, dikir-dikit lemas), dan mager alias malas gerak.

Apa sebab bisa terjadi kenaikan drastis seperti ini? Pertama, saya suka makanan manis. Kedua, saya suka sekali yang namanya roti. Ketiga, saya masih suka makan roti menggunakan mentega, suka menghabiskan sisa susu anak saat mereka tidak menghabiskannya. Iya! gaya hidup saya tidak teratur.

Maka dari itu, saya ingin melakukan challenge 365 hari tanpa gula dan tepung —mulai tahun depan tapi ya. #ehgimana ?

Dari pengalaman saya melakukan diet menurunkan berat badan dan pernah berhasil, berikut adalah tipsnya.

Jika kita ingin menurunkan berat badan, kita hanya perlu berusaha menghindari 3 macam bahan makanan. Seperti yang dikatakan oleh Dokter David Budi Wartono, tiga bahan makanan tersebut  yaitu tepung, gula, dan dairy.

  • Tepung

Kenapa makanan yang terbuat dari tepung sebaiknya dihindari? Karena tepung merupakan karbohidrat sederhana. Karbohidrat sederhana adalah sumber energi yang cepat diolah tubuh. Sehingga membuat makanan lebih cepat dicerna tubuh. Karena lebih cepat dicerna tubuh, karbohidrat sederhana dapat meningkatkan kadar glukosa darah seseorang dengan cepat beberapa saat setelah dikonsumsi. Jadi mudah sekali merasa lapar dan lemas.

Contohnya begini, makan sesuatu dari beras boleh, tapi tepung beras jangan. Makan singkong boleh, tapi tepung singkong jangan. Gandum boleh, tapi tepung gandum jangan. Waaah, padahal makanan dari tepung-tepungan hampir setiap hari kita temui. namun justru berat badan naik dengan drastis.

Apa saja makanan yang dihindari? Roti, kue,  dan semua yang terbuat dari tepung-tepungan seperti biskuit, cireng sampai bala-bala.

  • Gula.

Gula juga merupakan karbohidrat sederhana. Gula akan membuat tubuh memproduksi insulin lebih banyak sehingga otak tidak akan mengirim sinyal ke tubuh : “Sudah kenyang. Perut sudah penuh. Sudah cukup makannya.” Makanya orang yang suka makan makanan atau minuman manis akan makan lebih banyak lhawong belum kenyang. Padahal lambung sudah penuh.

Contoh makanan yang mengandung karbohidrat sederhana antara lain gula pasir, gula merah, sirup jagung, madu, sirup maple, selai, jelly, soft drink, permen, roti tawar, cake, yogurt, susu, cokelat, buah, jus buah, biskuit, dsb.

  • Dairy

Dairy adalah jenis bahan makanan bahan makanan yang berbasis susu serta produk turunannya, termasuk di antaranya adalah susu itu sendiri, cream, butter, dan keju. Bahan-bahan ini banyak digunakan untuk pembuatan makanan atau campuran minuman karena rasanya yang gurih akan membuat suatu sajian lebih bernilai.Kemudian kandungan yang ada dalam produk olahan susu,mentega, dan keju apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar (normal) maka dairy product ini bisa menjadi sumber energi didalam melaksanakkan aktivitas sehari-hari. Namun jika dikonsumsi secara berlebih makan ini akan menjadi timbunan lemak perut.

Sebenarnya sederhana ya, hanya menghindari tiga bahan di atas jika tidak ingin kelebihan berat badan. Sederhana, namun pada penerapannya? “Godaannya tidak mudah, Jendral!”

Coba saja terlebih dahulu mengurangi sedikit demi sedikit konsumsi bahan makanan yang saya sebutkan di atas. Tidak usah sekaligus, namun sedikit demi sedikit agar tubuh juga tidak sakau karena tiba-tiba tidak mendapat asupan gula, tepung, dan dairy.

***

Ingin Menurunkan Berat Badan? Hindari 3 Jenis Makanan ini ditulis oleh Uwien Budi sebagai post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Maudya Ayunda.

Uwien Budi pengelola www.uwienbudi.com seorang blogger yang tinggal di Kota Bandung, Jawa Barat