Sekarang ini, kehidupan tidak bisa dilepaskan dari televisi. Ini terlihat hampir setiap rumah minimal memilki satu televisi, yang awalnya sebagai hiburan berubah menjadi media atau sarana edukasi, informasi maupun isu terkini. Dengan berbagai acara yang ditayangkan di televisi, tak heran jika ada yang keranjingan dan menghabiskan sebagian waktunya untuk melihat televisi.

Saya jarang melihat televisi. Sederhana saja alasannya,  kurang suka dengan acara yang ada di televisi.  Di waktu luang, lebih banyak saya gunakan untuk membaca atau melakukan hal lainnya. Kebiasaan membaca buku ini ingin saya tularkan kepada anak. Untuk itu saya tidak ingin memiliki televisi di rumah, bisa menjadi alasan malas membaca buku.

Tak selamanya rencana berjalan sesuai yang diharapkan. Apalagi dalam pernikahan yang menyatukan dua jiwa yang berbeda. Termasuk dalam keluarga saya, ada perbedaan pendapat mengenai televisi. Suami saya suka melihat televisi. Mau tak mau, televisi menjadi benda yang wajib ada dan saya pun menerima keputusannya.

Kebiasaan suami yang menonton televisi ternyata berimbas pada anak kami. Dari awalnya ikutan nonton dan sekarang bisa menginginkan acara televisi yang ingin ditontonnya.  Usianya yang menginjak dua tahun mulai paham apa yang dilihatnya. Dan sekarang ada beberapa film kartun favorit yang setiap harinya ia lihat di televisi.

Saya paham, kalau tontonan memberi pengaruh dalam kehidupan anak sehari-hari. Karena anak banyak meniru dari apa yang ia lihat dalam proses imitasi, tanpa menyaring baik buruk tingkah lakunya. Anak belum mengerti bahaya tidaknya yang dilakukan serta efek baik buruk terhadap dirinya sendiri juga orang lain. Sehingga selain mendampingi anak untuk melihat acara di televisi, memilih program atau film yang ramah anak juga diperlukan dan juga sebagai sarana edukasi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam film anak di televisi.

  1. Tidak mengandung konten kekerasan. Ada beberapa film kartun yang dibuat dengan cerita tentang pertarungan. Maka tak jarang dalam adegan di filmnya banyak yang menedang memukul dan lainnya. Jika anak melihatnya bisa saja menereka meniru adegan film seperti yang dilihatnya. Sehingga saya meminimalkan untuk tidak memberikan tontonan film meskipun berbentuk kartun kpada anak jika mengandung konten kekerasan.
  2. Ada cerita dalam film yang bisa diambil pelajarannya. Selain sebagai hiburan televisi juga sebagai sarana edukasi. Dengan memberikan tontonan yang baik, secara tak sadar memberikan teladan bagi anak untuk melakukan hal yang sama.
  3. Memberikan batas waktu untuk melihat televisi. Usia anak merupakan golden Age yang maksudnya usia keemasan untuk belajar serta mengembangkan kecerdasannya. Perkembangan tubuhnya bisa dilakukan dengan melakukan aktivitas gerak badannya. Begitu juga dengan kecerdasannya akan mendapatkan stimulus melalui aktifitas bermain. Melihat televisi merupakan kegiatan pasif dimana anak cenderung menyimak saja. Maka agar dunia anak tak habis hanya melihat televisi serta anak menjadi pasif maka perlu memberikan batasan waktu untuk melihatnya. Jadi ketika acara televisi yang biasa anak melihatnya, kami tak akan mengganti dengan program baru yang dia belum pernah diketahui sehingga tak menambah daftar acara televisi yang anak lihat. Idealnya anak
  4. Mendampingi anak ketika melihat televisi. Sejak anak saya mengerti melihat televisi mau tak mau saya pun harus ikut serta melihatnya. Ikut menemani anak melihat televisi selain sebagai bonding ibu dan anak juga bermanfaat untuk menjelaskan jalan cerita. Secara tak langsung anak bisa belajar dari film tersebut. Sehingga bisa dikatakan sekarang saya lebih hapal cerita film yang dilihat anak saya dari pada gosip artis ternama.

Sebenarnya apapun dapat menjadi alat edukasi bagi anak, tak terkecuali dengan televisi. Yang terpenting bagaimana mengarahkan serta membimbing anak agar acara atau film yang dilihatnya bermanfaat untuk perkembangannya.

***

Anak, Televisi dan Sarana Edukasi ditulis oleh Anis Khoir sebagai post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Mira Lesmana.

Anis Khoir atau Anis Khoiriyah, seorang freelance blogger, ibu dari baby Wan dan full time mother. Anis, pengelola blog www.aniskhoir.com tinggal dan menetap di Tuban, Jawa Timur.