Menitipkan anak ke kakek nenek merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan oleh masyarakat kita. Terutama, jika kedua orang tua sama-sama bekerja di luar rumah. Kakek dan nenek pun sepertinya senang-senang saja menjaga cucunya.

“Lebih bisa dipercaya” merupakan salah satu alasan mengapa orangtua yang lebih percaya menitipkan anak ke kakek neneknya daripada dititipkan kepada pengasuh atau daycare. Kemungkinan besar karena kakek dan nenek ini bukan orang asing ya? Kecil kemungkinan kakek dan nenek akan melakukan sesuatu yang bisa melukai cucunya sendiri.

Apalagi zaman sekarang, susah sekali menemukan pengasuh atau daycare yang bisa dipercaya. Belum lagi, berita-berita kriminal tentang penculikan anak atau penyiksaan anak oleh pengasuh di media, makin membuat orangtua khawatir menitipkan anaknya kepada orang asing.

Sementara, berhenti bekerja di luar rumah sepertinya bukan opsi terbaik, terutama buat ibu. Mengingat kebutuhan hidup juga makin banyak. Akhirnya, pilihan terbaik ya menitipkan anak ke kakek nenek.

Kalau menurut saya pribadi, menitipkan anak ke kakek nenek itu sah-sah aja sih. Saya pun kalau ada kesempatan menitipkan anak ke kakek dan neneknya, akan saya lakukan. Sehingga, saya bisa lebih tenang meninggalkan anak untuk bekerja di luar rumah atau pada saat pergi ke event-event blogger, misalnya, hehe. Namun, sayangnya hal itu mustahil saya lakukan karena orangtua dan mertua saya sama-sama tinggal di luar kota.

Menurut saya, menitipkan anak ke kakek dan neneknya itu ada dampak positif dan negatifnya. Berikut adalah dampak positif dari menitipkan anak kepada kakek dan neneknya:

Anak diasuh oleh orang yang bisa dipercaya

Seperti yang sudah saya tuliskan di awal blogpost ini. Bagaimanapun juga anak yang mereka jaga adalah anak dari anak mereka yang berarti juga darah daging mereka sendiri. Sehingga kakek dan nenek sudah pasti akan mengurus dan mengasuh cucu mereka, sebagaimana mereka menangani anak-anak mereka sendiri.

Pola pengasuhan kakek dan nenek biasanya mirip

Kakek dan nenek adalah orangtua atau mertua kita. Kita atau pasangan bisa menjadi seperti sekarang ini juga berkat pengasuhan mereka. Bahkan, tanpa kita sadari pasti pola pengasuhan yang kita terapkan sebagai orangtua kepada anak pasti mirip dengan pola pengasuhan kakek nenek.

Ya, meskipun zaman berubah dan ada gaya pengasuhan mereka yang mungkin sudah kita anggap kita kurang relevan, sih. Tapi, menurut saya biasanya masih banyak persamaan gaya pengasuhan.

Meringankan secara finansial

Kalau saya perhatikan, biasanya orangtua yang menitipkan anak ke kakek nenek tidak perlu mengeluarkan biaya seperti biaya pengasuhan, biaya makan, biaya jajan atau beli mainan untuk anak. Kakek dan nenek biasanya juga akan dengan senang hati akan menyenangkan hati cucunya dengan memberikan segala kebutuhannya.

Anak lebih mengenal kakek dan neneknya

Anak yang kesehariannya dititipkan dan diasuh oleh kakek dan neneknya biasanya menjadi sangat dekat dengan kakek dan neneknya. Anak akan lebih memahami peran kakek dan neneknya dalam keluarganya. Bahkan, bisa jadi “lebih sayang” kepada kakek dan neneknya.

Kakek dan nenek akan merasa lebih bahagia

Mengasuh cucu itu merupakan kebahagiaan tersendiri buat kakek dan nenek. Ketika anak-anak mereka sudah dewasa dan berumah tangga sendiri, menyusul kemudian mereka pensiun dari pekerjaannya, biasanya kakek dan nenek jadi kurang aktivitas. Akibatnya, mereka merasa kesepian  dan kurang semangat hidup.

Sehingga, saat mereka dititipi dan dipercaya membantu pengasuhan cucu, biasanya kakek dan nenek pun tidak merasa terbebani. Sebaliknya justru merasa senang karena aktivitas mengasuh cucunya membuat mereka merasa hidup kembali.

Sedangkan dampak negatif dari menitipkan anak ke kakek nenek antara lain:

Menitipkan Anak ke Kakek Nenek

Stamina kakek dan nenek biasanya menurun jadi kurang fokus mengasuh anak

Bagaimanapun juga kakek dan nenek fisiknya enggak sekuat dulu seperti saat masih mengasuh kita, anak-anaknya sendiri. Kakek dan nenek pun biasanya sudah mengalami kemunduran dalam hal stamina, bahkan mungkin kesehatan dibandingkan dulu.

Bayangkan kalau kakek dan nenek masih harus mengasuh anak kecil atau balita yang sedang aktif-aktifnya? Kemungkinan besar, kakek dan nenek bisa kelelahan, sehingga menjadi kurang fokus saat mengasuh anak.

Anak jadi lebih dimanjakan

Pernah tidak kita merasa kok rasa-rasanya, “rasa cinta” kakek dan nenek ke cucu-cucunya itu lebih besar kalau dibandingkan ke kita, anak-anaknya sendiri ya? Hehe.

Mengasuh cucu sepertinya membuat kakek dan nenek bernostalgia ke masa lalu, saat anak-anaknya masih kecil-kecil. Kadang apa yang belum bisa mereka berikan kepada anak-anaknya dulu, misal karena kondisi ekonomi, kini mereka berikan ke cucu-cucunya. Jadi, kelihatannya seperti memanjakan gitu.

Anak jadi lebih lengket dengan kakek dan neneknya

Mungkin karena terlalu sering menghabiskan waktu dengan kakek dan neneknya. Apalagi, segala keinginannya dipenuhi oleh kakek dan nenek. Sedangkan, orang tua biasanya lebih disiplin dan menetapkan aturan kepada anak. Sehingga anak merasa lebih bahagia jika bersama kakek dan nenek.

Sering terjadi konflik karena pola pengasuhan

Ini adalah hal yang paling sering terjadi. Meskipun masih satu keluarga dan memiliki pola pengasuhan yang mirip, namun kakek dan nenek mungkin enggak se-update kita dalam mencari informasi mengenai pola pengasuhan atau gaya parenting.

Kakek dan nenek percaya bahwa pola pengasuhan atau gaya parenting yang mereka terapkan selama ini ya itulah yang terbaik. Buktinya kita, anak-anaknya, bisa sesukses sekarang, bukan?

Pasalnya, zaman kan berubah. Kita sebagai orangtua selalu berusaha belajar bagaimana cara menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita sesuai dengan kebutuhan zaman. Tapi, kakek dan nenek tetap suka pola pengasuhan atau gaya parenting lama. Inilah yang sering menimbulkan konflik tersendiri.

Meskipun demikian, kalau menurut saya dampak negatif itu masih bisa diredam, kok. Kuncinya cuma satu, yakni “komunikasi”. Bagaimana cara mengkomunikasikan keinginan dan harapan kita kepada kakek dan nenek dalam hal pengasuhan anak-anak, tanpa menyinggung perasaan kakek nenek?

Menurut saya, begini caranya:

Buat kesepakatan mengenai pola pengasuhan atau gaya parenting

Kalau bisa di awal kita membicarakan hal ini dengan kakek dan nenek. Kita beri tahu kakek dan nenek bagaimana pola pengasuhan atau gaya parenting yang sebaiknya diterapkan untuk cucu mereka. Buat poin-poin kesepakatan, misalnya mengenai makanan apa yang boleh dan enggak boleh dimakan, kapan waktunya bersentuhan dengan screen atau gadget, dll.

Sebaliknya, kita juga jangan terlalu memaksakan pola pengasuhan yang kaku banget. Kalau menurut saya sesekali mengalah dan menerapkan pola pengasuhan orangtua juga enggak apa-apa sih. Asalkan enggak terlalu membuat anak jadi manja aja.

Agar tidak menyusahkan maka pekerjakan pengasuh atau asisten rumah tangga

Terkait dengan fisik kakek dan nenek yang enggak sekuat dulu, saran saya pekerjakan pengasuh atau asisten rumah tangga untuk membantu mengawasi si kecil atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah kakek dan nenek.

Supaya enggak ada konflik antar pengasuh anak dan kakek/ nenek, sebaiknya buat kesepakatan pula di awal seperti poin pertama tadi.

 Setiap menitipkan anak bawa bekal dan uang saku sendiri

Sebagai seorang anak sebaiknya kita “tahu diri” lha ya? Saat menitipkan anak kepada kakek dan neneknya usahakan bawa bekal, seperti makanan, minuman, dan kebutuhan anak lainnya sendiri. Bawa pula uang saku sendiri khusus jajan anak.

Bahkan kalau keuangan kita berlebih, sebaiknya kita mengirimi orangtua uang bulanan. Kalau orangtua menolak, minimal kita sering ajak piknik atau pelesir bersama, pokoknya bagaimana caranya membahagiakan orangtua kita.

Itulah teman-teman dampak positif dan negatif, serta win-win solution-nya apabila kita menitipkan anak kepada kakek dan neneknya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan kalau mau menitipkan anak ke kakek dan neneknya ya?

 Nah, bagaimana? Masih mau menitipkan anak kita ke kakek nenek atau malah memilih enggak sama sekali? Yuk, sharing!

***

Menitipkan Anak ke Kakek Nenek, Yay or Nay? Merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Retno Marsudi, yang dituliskan oleh April Hamsa

April Hamsa, blogger tinggal di Jakarta, dan pengelola blog http://keluargahamsa.com/