Halo Maks! Bagaimana libur Lebarannya, seru? Bagaimana kondisinya, fit, lemas atau malah sakit? Jangan sampai ya. Setelah bergembira bersama keluarga, sahabat dan handai taulan, masa malah tumbang. Tapi, ini ternyata cukup umum terjadi. Pasca Lebaran, ada saja yang pegal-pegal, batuk pilek, demam, sakit gigi atau kambuhnya berbagai penyakit seperti asam urat, kolesterol, dan lain-lain. Yang paling sering dikeluhkan emak-emak, bergeraknya jarum timbangan ke kanan ya, hihihi. Dan, itu yang membuat emak bersemangat menjalankan berbagai metode diet. Biasanya emak diet pakai cara apa? Sudah terbukti berhasil atau dijalankan secara konsisten? Atau melakukan diet dengan puasa kembali?

Diet ala Brad Pilon

Mumpung baru lepas dari suasana Lebaran, saya mau merekomendasikan salah satu cara diet yang disarankan oleh Brad Pilon dalam buku elektroniknya yang berjudul Eat Stop Eat. Cara diet ini sebenarnya sudah sangat akrab kita jalani di bulan Ramadan kemarin. Yaitu dengan berpuasa.

Dalam bukunya, Brad Pilon banyak membahas tentang perjalanannya menemukan cara diet yang paling ilmiah di antara berbagai teori tentang penurunan berat badan. Dan akhirnya, Beliau menemukan bahwa cara diet paling alami dan sehat adalah diet dengan puasa. Beliau juga memaparkan berbagai manfaat puasa terhadap kesehatan. Di samping juga menerangkan berbagai pandangan yang salah tentang puasa.

Brad Pilon menyarankan kita berpuasa 24 jam, 2 kali seminggu. Sesederhana itu. Kita diminta untuk tidak makan dan minum asupan yang mengandung kalori selama sehari semalam. Kalau makanan/minuman itu tidak mengandung kalori, maka kita tetap boleh mengonsumsinya selama masa puasa.

Setelah waktu puasa usai, kita bisa berbuka dengan memakan apa saja tanpa pantangan. Tentu saja, tetap diusahakan agar asupannya sehat dengan nilai gizi yang lengkap dan seimbang, ya. Bukannya pakai menu balas dendam. Hehehe… Dengan cara ini, rata-rata kita bisa menurunkan 5% berat tubuh kita dalam sebulan.

Kalau sebelumnya kita sering mendengar jargon puasa itu menyehatkan, maka di buku ini semuanya jadi semakin gamblang. Aku jadi bersemangat nih, untuk menerapkannya. Emak-Emak mau juga?

Menerapkan Diet dalam Puasa

Bagi umat Islam, sesudah Lebaran disunnahkan untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal, ya? Asyik juga nih, kalau kita bisa menjalankannya sambil mendapat manfaat berupa berat badan yang ideal. Syukur-syukur jika diteruskan, maka kita jadi terbiasa berpuasa di bulan-bulan berikutnya. Yang penting, niat utamanya tetap untuk beribadah. Sedangkan badan sehat dan langsing sekadar bonus yang mengikutinya.

Baca juga yuk: Balada Diet

Dalam menjalankan langkah-langkah diet dengan puasa yang dipaparkan oleh Brad Pilon, tentu saja ada beberapa penyesuaian yang perlu dilakukan agar tetap bisa beriringan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Beberapa penyesuaian itu, antara lain:

1. Cara Memenuhi Kebutuhan Cairan

Eat Stop Eat mengizinkan kita untuk makan dan minum apa pun yang tidak mengandung kalori selama masa puasa. Bahkan menyarankan kita banyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi. Kalau dalam aturan ibadah puasa, tentunya tidak bisa kita jalankan, dong.

Tapi sebenarnya kita tetap bisa terhindar dari dehidrasi kok walau berpuasa. Kuncinya, penuhi kebutuhan cairan kita sebanyak 2 liter atau 8 gelas di waktu berbuka hingga sahur.

2. Menu Sahur

Eat Stop Eat hanya menyarankan pemenuhan kebutuhan kalori dilakukan sekali dalam 24 jam. Artinya, kita hanya akan makan dengan menu lengkap saat berbuka. Sedangkan di waktu sahur, kita hanya diizinkan minum air putih atau mengonsumsi asupan apa pun yang tidak mengandung kalori. Eh tapi, ini kan masih sejalan ya, dengan anjuran untuk sahur walau hanya dengan air putih? Yes!

3. Frekuensi Berpuasa

Eat Stop Eat menyarankan melakukan puasa 24 jam ini hanya 2x seminggu, jangan lebih. Karena manfaat puasa itu tidak hanya terasa saat berpuasa, namun juga setelahnya. Jadi, beri waktu bagi tubuh kita untuk juga merasakan manfaat setelah berpuasa.

Padahal, kalau puasa 6 hari di bulan Syawal kan lebih enak jika langsung berurutan selama 6 hari, ya. Selain cepat lunas, juga lebih mudah bagi tubuh karena masih terkondisi oleh suasana bulan Ramadan yang baru ditinggalkan.

Nah, kalau soal ini, pilihan sih. Silakan mau menjalankannya secara berurutan atau berselang-seling. Yang penting, perhatikan juga kekuatan tubuh kita, ya. Karena bisa jadi diet ini terasa lebih berat daripada ketentuan ibadah puasa yang hanya menahan diri dari makan dan minum selama seharian. Toh, syariat pun memberi kelonggaran terkait hari apa saja kita melakukan puasa Syawal ini.

Sebagaimana Brad Pilon yang menyebut Eat Stop Eat ini bukan diet melainkan gaya hidup, maka kita juga bisa menjadi puasa sebagai gaya hidup kita, lho. Dengan tetap rajin berpuasa di bulan-bulan selanjutnya. Kalau disarankan berpuasa 2x seminggu, mungkin kita bisa melanjutkannya dengan rajin berpuasa Senin-Kamis?

Akhir kata, sebelum terlambat, aku ucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Semoga Bulan Ramadan mampu meningkatkan derajat ketakwaan kita. Dan jangan lupa, jaga kesehatan, ya!

***

Diet dengan Puasa Pasca Lebaran merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Anne Avantie yang ditulis oleh Farida Zulkaidah Pane, emak blogger yang berdomisili di Semarang.

Sila berkunjung ke blog www.faridazp.info untuk membaca cerita-cerita keseharian ibu lima anak ini.