“I know my daughter”

Berkali-kali kalimat ini muncul di trailer film Searching. David Kim (John Cho) yang frustasi ketika ia tidak berhasil menemukan  putrinya Margot (Michelle La) yang tiba-tiba menghilang.  Ternyata David sebenarnya tidak benar-benar mengenal putrinya seperti yang ia duga. Kurang lebih seperti itu gambaran cerita film Searching yang saya tonton beberapa waktu lalu.

Film Searching Versi Saya

Ketika  masih ada mendiang Mrs Kim, keluarga David adalah tipikal keluarga harmonis  yang  melek teknologi. Video-video kenangan keluarga dan aktivitas lainnya tersimpan dengan rapi dalam folder-folder di komputer, sejak antivirus Norton masih ngehits  di awal tahun 2000an, sebelum media sosial jadi bagian dari kehidupan seperti sekarang.

By the way, hari gini masih ada yang pake antivirus Norton? *Seriusan nanya, nih*

Kita kembali ke film, ya.

Berbekal dari data-data teman-teman Margot yang didapatkan, David kemudian mencari jejak putri semata wayangnya.  Setelah membuka laptopnya Margot, David menghubungi semua teman-teman Margot. Dari nomor telepon sampai lingkaran pertemanannya di media sosial.

Margot yang seolah-olah popular di media sosial ternyata tidak memiliki sahabat yang benar-benar dekat di dunia nyata.  Sedihnya, saat media-media gencar memberitakan hilangnya Margot, teman-temannya terkesan memanfaatkan situasi dengan membuat postingan atau status mengungkapkan simpati dan jadi viral.

Apakah ini tulus membantu mencari keberadaan Margot,  atau hanya numpang beken di atas musibah orang lain, ya? Sementara di saat yang bersamaan David nyaris patah arang ketika detektif yang membantu mencari keberadaan Margot tidak banyak membantu.

Selama  102 menit nonton, beberapa kali twist di film muncul. Saling mematahkan teori keberadaan Margot: mulai dari hubungan Margot dengan pamannya, adiknya David  sampai sahabat virtualnya lumayan bisa mengecoh. Walau plot filmnya agak lambat, situasi menegangkan yang dihadapi David membuat mata saya tetep melek. Sayang sekali kalau sampai ada clue alias petunjuk yang terlewat.

Sebagai penonton, nonton film-film thriller model begini lumayan menantan. Ya, kan? Tebakan yang kita punya, kira-kira sama ga, dengan ending/penyelesaian yang disajikan di film?

 

Baca Yuk Review Film Kafir

 

By the way, hubungan antara ayah dan anak yang digarap dalam film Searching ini punya moral story yang menarik.

Face time-an dengan frekuensi yang intens tidak menjamin seorang ayah (atau ibu) benar-benar tau apa, siapa dan bagaimana keseharian anaknya. Contohnya ya  Si  David ini. Ternyata, ia  baru mengetahui kalau putri semata wayangnya sudah lama mangkir dari les piano yang diikutinya. Padahal, David yakin banget kalau Kim itu cinta mati dengan permainan pianonya itu. Margot malah lebih terbuka dan percaya pada orang asing dibanding ayahnya sendiri. Jadi, balik lagi ke pembuka tulisan ini di atas. David tuh, enggak benar-benar tau Margot sepenuhnya.

Kebalikannya dari David (dan juga kita), orang asing dalam kehidupan kita sangat mungkin memiliki celah untuk mengakses sisi lain dari kehidupan kita. Efeknya emang mengerikan. Memacu adrenalin para ortu dan deg-degan setengah mati. Apapun akan dilakukan demi menemukan anak kita. Hidup atau mati. Bahkan di hadapkan harus berkonflik dengan saudara kandung dan penegak hukum sekali pun.

Sebenarnya kalau memperhatikan dengan detil dari awal film, harusnya kita sudah bisa menebak siapa pelaku utama dibalik hilangnya Margot. Tapi skenario yang rapi dan arahan mumpuni dari sutradara Aneesh Chaganty berhasil membelokan perhatian. Walau sebenarnya, secara pribadi saya rada kesel juga karena dengan banyak twist yang muncul. Soalnya penyelesaian filmnya jadi terasa kurang wah. Pas endingnya,  saya rada ngomel  dalam hati: “Hah, gitu aja?”

Eh tapi jangan memutuskan untuk batal nonton dulu. Karena kesukaan, persepsi,  dan latar belakang  penonton kan, ga sama, ya? Siapa tau lho, teman-teman malah punya pandangan  lain setelah nonton. Sebagai informasi aja,  film Searching mendapat apresiasi positif bukan cuma di Indonesia saja (sampai hari ini masih banyak layarnya), situs data fim internasional IMDB pun ngasih rating 7.9/10. Nah, lho emang kayak gimana filmnya?  Yaudahlah, mumpung masih nangkring di bioskop dan belum kegusur sama film lainnya, ga akan rugi kok nonton film ini.

Kalau sudah nonton filmnya, boleh deh sharing juga opini dan pengalaman nontonnya di komentar, ya.