Belakangan ini saya mendapat curhatan dan curcolan dari sejumlah emak yang mirip dengan keadaan saya beberapa waktu lalu, yaitu ketegangan otot punggung sampai leher, pusing, asam lambung, gampang ngambek dan sering lupa dengan jadwal keluarga. Saya jadi terpanggil untuk sedikit berbagi tip sehat khusus untuk para emak blogger nih.

Dulu, saya mengira ngeblog itu cuma mengetik saja di laptop, lalu unggah di blog.  Ternyata, makin lama ngeblog itu menumbuhkan jiwa kompetitif dari berbagai arah, mulai dari pageview, DA, PA, lomba blog, giveaway, branding diri hingga merembet ke jumlah followers di media sosial.

Semua itu membutuhkan jam belajar yang tak sedikit, berjejaring tanpa kenal lelah, dan mempertahankan eksistensi dengan bermacam-macam cara.

Ada harga yang harus dibayar dari semua usaha untuk menjadi blogger yang mumpuni, yaitu terganggunya fokus dan kesehatan.

Kesalahan utama saya dulu sebagai blogger adalah anggapan bahwa kalau sibuk berarti saya sukses. Padahal perlu diurai lagi, sibuk yang seperti apa?

Dalam hitungan harga pokok penjualan produk jahit sudah ada komponen UMR dan THR dibandingkan dengan jam kerja untuk menyelesaikan produk tersebut. Bahkan komponen iuran BPJS bisa dimasukkan ke dalam produk tersebut.

Sementara sebagai blogger, harga ditentukan berdasarkan pageview, DA, PA, negosiasi dengan klien atau malah jumlah followers media sosial. Jadi, jam kerja sebagai blogger memang sulit diukur. Tahu-tahu migrain.

Lalu saya mulai menyingkirkan kegiatan-kegiatan yang tidak penting agar bisa hidup lebih fokus sehingga ada lebih banyak waktu untuk istirahat demi kesehatan.

Hasilnya, ketegangan leher saya sembuh, saya tidak pernah pusing lagi, lambung kalem, dan masih punya waktu mengembangkan hobi tanpa mengurangi produktivitas ngeblog. Paling-paling merasa tidak karuan kalau sedang PMS saja.

 

4 Tip sehat hidup sebagai emak blogger, agar fokus dan nggak lupa diri

Tetapkan Tujuan

Ada berbagai tujuan orang ngeblog, antara lain untuk catatan, branding, komunikasi dengan followers, marketing, beriklan, atau bersenang-senang. Kalau tujuan tidak jelas, waktu akan terbuang untuk kegiatan yang tidak jelas juga.

Misalnya sudah memutuskan untuk bersenang-senang saja di blog karena aktivitas lain yang padat, tapi kok pengin juga mendapat uang dari blog. Ketika tidak terpilih untuk mengerjakan suatu job lantas kepikiran, mencari-cari apa yang kurang, lalu uring-uringan.

Contoh sebaliknya, sudah menetapkan tujuan untuk menjadi blogger profesional tapi ketika mendapat tugas reportase malah penginnya hore-hore, sehingga tidak menyimak jalannya acara. Giliran kewajiban ditagih, baru deh heboh cari bahan atau banyak alasan.

Saya pernah melihat dua orang blogger traveller ternama yang  menyelesaikan kewajiban postingnya selama perjalanan di Bali. Tiap ada jeda kegiatan, mereka mengedit foto dan mengunggahnya di media sosial atau membuka laptop dan sibuk ngeblog. Jadi sampai rumah, selesai pula urusan dengan klien.

Mungkin karena sudah profesional, sikap mereka sama dengan karyawan yang sedang dinas luar kota dan tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Makanya, jika tidak sedang travelling mereka terlihat sangat santai kumpul dengan keluarga atau teman-temannya.

Sebaliknya, ada juga blogger yang mengeluh terus dikejar deadline setelah event. Padahal jarak event dan deadline cukup lama, yaitu seminggu.

Jadi, tip sehat pertama adalah kita tahu dulu, kita ngeblog buat apa, baru kemudian kita sesuaikan kegiatan kita.

 

Batasi Media Sosial

Sama seperti ngeblog, kita pun harus tahu buat apa punya akun media sosial. Apakah untuk mendukung blog, untuk dimonetasi menjadi endorser, atau untuk bersosialiasi dengan teman-teman dari berbagai kalangan?

Media sosial itu seperti candu. Sekali kita merespons, tahu-tahu kita sudah terlalu banyak berkomentar di sana-sini dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk tertawa-tawa, menyindir, atau menyumpahi.

Apalagi di zaman orang-orang senang berpendapat secara terbuka tapi tidak mau menerima pendapat yang berbeda sekarang ini. Potensi drama selalu ada, tapi sebenarnya bisa kok dihindari.

Media sosial itu juga ibarat jalan raya bebas hambatan yang sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan berkecepatan tinggi, sehingga tak perlu mengomentari semua kejadian viral atau tren di luar tujuan bermedia sosial jika tak mau emosi dan waktu kita kacau.

Jika mudah tergoda, sebaiknya mute atau hide akun-akun di luar minat kita.

Jadi tip sehat keduanya adalah kita tidak hanya perlu menghindar dari akun-akun provokatif, tapi juga dari akun-akun yang memancing respons yang tidak sejalan dengan tujuan kita bermedia sosial.

Kalau media sosial tidak dibatasi, sudah pasti punggung akan nyeri, mata cepat rusak, dan emosi terombang ambing, karena terus-menerus memandang layar memantau notifikasi dan postingan-postingan baru.

Kalau ternak akun untuk menjadi endorser bagaimana? Kan lumayan tuh pendapatannya jika tiap akun dapat job?

Itu pilihan juga. Yang penting, usahakan untuk seefisien mungkin dengan menguasai berbagai tools dan otomatisasi, agar waktu kita tidak habis untuk bekerja.

 

Rapikan Grup Chat

Blogger adalah salah satu hobi atau profesi yang punya kemungkinan memiliki banyak grup chat. Selain grup kompleks, alumni, dan keluarga, tambahan terbanyak adalah dari grup komunitas dan job.

Tak semua grup komunitas sesuai dengan temanya, meski sangat aktif. Misalnya, tema grup adalah sharing tentang teknis ngeblog tapi yang dibicarakan malah gosipnya, uangnya melulu, atau malah nyepam link blog sendiri. Sebaliknya, ada grup yang mati suri.

Mute memang merupakan jalan tengah yang sering dipilih, tapi lebih baik keluar saja dari grup-grup tersebut.

Rapinya daftar grup di smartphone akan memengaruhi atmosfer ponsel setiap kali kita membukanya. Untuk menjaga jejaring, pertahankan keanggotaan grup di media sosial, misalnya Facebook group. Karena tidak terhubung langsung, group di media sosial tidak terlalu mengganggu.

Yang sering membuat susah beranjak adalah grup yang berkaitan dengan job. Apalagi jika sudah merasa kompak dan mengharapkan kelanjutan job tersebut. Bila grup tersebut menjadi cikal bakal sebuah forum, baik brand maupun sebuah gerakan, lanjutkan saja bertahan di grup tersebut. Meski tidak ada janji akan ada job baru, tapi setidaknya bisa mendapatkan informasi atau akses yang mungkin berguna di kemudian hari.

Jika grup tersebut dibuat oleh agensi atau koordinator blogger, tunggu beberapa saat dulu. Jika tidak ada tanda-tanda positif, tak apa pamit keluar. Umumnya agensi dan koordinator tidak otomatis menawarkan job berikutnya ke grup tersebut, karena mereka memiliki klien yang sering berganti sehingga harus selalu menyesuaikan dengan kemauan klien.

Namun demikian, jangan absen untuk terus menjalin hubungan baik dengan mereka. Siapa tahu dimasukkan lagi ke grup job yang baru.

 

Batasi Minat

Tip sehat bagi emak blogger keempat adalah: Pembatasan minat bukan semata-mata untuk fokus pada personal branding, tapi yang lebih penting lagi adalah agar tubuh dan pikiran punya waktu untuk istirahat yang cukup.

Banyak yang ragu membatasi minat karena takut cepat kehabisan ide konten. Padahal jika tidak dibatasi, justru akan membuang banyak waktu untuk bengong memikirkan kira-kira tema apa yang sedang ramai dibicarakan. Mungkin tema tersebut akan ketemu setelah lama membuang waktu, tapi karena tidak benar-benar memahaminya, konten tersebut tidak bisa mengikat batin para pengunjung setia.

Blogging memang menawarkan kesempatan yang sangat luas untuk mendapatkan popularitas dan penghasilan. Tapi manusia punya keterbatasan fisik dan pikiran. Jika melihat orang lain sukses sebagai blogger niche tertentu, jangan buru-buru menambahkan niche tersebut dengan mengatakan, “Ah, cuma gitu saja, aku bisa!”

Coba ukur diri dulu sebelum menambah niche. Apakah kita sempat mengerjakan beberapa niche sekaligus? Apakah kita sempat berkembang jika semua niche membutuhkan perhatian? Ingat bahwa menjadi blogger zaman sekarang itu tidak hanya menulis konten, tapi juga hadir di event, menjalin jejaring, dan belajar di workshop atau internet. Satu niche saja sudah sibuk.

Lalu, kapan istirahatnya? Kapan ke arisan RT? Kapan ikut kerja bakti?

Salah satu problem yang dihadapi banyak blogger adalah menerjemahkan bersosialiasi sebagai punya banyak mutual maya.  Lantaran segala informasi mudah didapatkan secara online, kita sering merasa lebih keren, karena menghabiskan waktu hanya dengan teman-teman maya.

Padahal ada bentuk sosialisasi lain untuk menjaga keseimbangan, yaitu bersosialiasi dengan sekitar secara nyata. Ada banyak hal hebat di luar sana selain jumlah followers dan page views.

Rezeki dan prestasi yang diposting teman-teman sangatlah menggiurkan. Tapi semua itu sama sekali tidak berarti jika fokus terhadap keluarga, pekerjaan, lingkungan dan diri sendiri terganggu.

Jadi, inti dari tip sehat yang saya bagikan kali ini adalah cobalah untuk mengukur diri sendiri, agar semua rezeki dan prestasi yang didapat bisa dinikmati.

Sehat dan fokus akan membuat kita bertahan lama sebagai blogger.

***

Lusiana Trisnasari, narablog di https://www.beyourselfwoman.com