Hai, Mak! Ketemu lagi nih sama saya. Hehehe. Kita akan ngomongin tip menulis reportase nih sekarang.

Ha? Menulis reportase kan gampang, ngapain mesti baca tip-tipnya? Kan udah ada press release.

Yha, justru itu, Mak. Kadang kita, sebagai bloger kekinian ini, Sebagai blogger, kita sudah dianggap sebagai partner media untuk banyak pihak ya, Mak. Makanya nggak heran kita sering juga diundang untuk menghadiri event atau acara yang membutuhkan publikasi.

Dan, kalau sudah diundang sebagai salah satu media, maka kita pun lantas punya kewajiban untuk membuat artikel reportase yang kemudian kita tayangkan di blog.

 

Jangan Asal Kayak Reportase

Nah, di sana biasanya kita akan mendapatkan selembar dua lembar kertas berisi press release saat datang memenuhi undangan acara. Seperti halnya rekan-rekan wartawan yang lain.

Ya kita bisa saja sih, asal datang memenuhi undangan, terus ikut acara alakadarnya. Sampai di rumah langsung saja upload press release. Toh, kan sudah dirangkum dalam press release semua inti acaranya kan?

Tapi, kalau semua orang nulisnya cuma mengopas press release, ya apa bedanya kita sama rangorang? Ngapain pembaca blog kita mesti baca artikel reportase kita? Orang di mana-mana juga ada kan?

Tapi, Mak, kita kan blogger kan? Bukan wartawan untuk media kan? Keunggulan kita dibandingkan dengan rekan jurnalis lain adalah kita punya personality. Kita menulis untuk “rumah” kita sendiri, bukan rumah orang. Yes? Maka, tentu saja, kita harus meramu reportase kita itu dalam “karakter” kita sendiri. Bukan karakter orang lain. Apalagi hanya sekadar ngopas press release. Aduh, itu mah bukan blogger banget!

Lagian, kalau semua hanya sama aja dengan press release, bisa jadi kena jebakan double content dari Google loh. Dibilang plagiat. Padahal mah sama-sama ngopas press release 😆 Gimandong?

Makanya, coba yuk, kita bikin artikel reportase yang nggak cuma mengandalkan press release dari penyelenggara. Press release itu sekadar bantuan aja, Mak. Bukan materi utama untuk bahan tulisan kita. Mesti diolah lagi.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, Mak, supaya menulis reportasenya jadi lebih menarik, lebih personal dan lebih … ya, pokoknya lebih dari sekadar press release.

 

5 Langkah Menulis Reportase yang Menarik

1. Persiapan Sebelum Acara

Yes, tugas kita untuk menulis reportase ini dimulai sejak sebelum kita berangkat ke acara. Bahkan sudah mulai sejak kita menerima undangan untuk menghadiri acara tersebut.

Yang pertama, Emak harus kenali benar-benar acaranya. Terutama temanya. Misalnya, kalau acaranya adalah peluncuran smartphone, maka Emak bisa melakukan riset dahulu. Googling dahulu, mengenai produk yang akan diluncurkan.

Hasil riset Emak ini nantinya bisa menjadi “bekal” Emak selama di acara. Setidaknya, Emak pasti sudah tahu apa yang akan dibahas. Ya, kurang lebihlah ya.

Malahan, dengan riset pendahuluan ini bahkan Emak mungkin sudah tahu nanti gimana nyambunginnya ke niche Emak (kalau blognya berniche, sedangkan acaranya rada-rada nggak nyambung).

Dari hasil riset pendahuluan, Emak bisa membuat alternative angle untuk reportase nantinya. Pastinya angle tersebut adalah angle ala Emak ya. Angle yang sesuai dengan blog Emak.

 

2. Baca Press Release-nya Lebih Dulu

Setidaknya untuk nyambungin yang tadi Emak peroleh dari hasil riset pendahuluan. Sebagai proses cek dan ricek yang pertama. Misalnya bener nggak nih data yang Emak dapatkan selama riset pendahuluan tadi.

Nah, jika ada yang berbeda atau malah bertolak belakang, berarti hal tersebut bisa jadi catatan Emak nih. Nanti pas sesi tanya jawab, barangkali bisa ditanyakan tuh. Jadi ada bahan kan?

Selama membaca press release itu, Emak bisa seharusnya sudah bisa semakin fokus pada topik bahasan sebelah mana yang akan diambil.

Ingat, Mak. Keunggulan kita sebagai blogger adalah kita boleh banget hanya memilih satu fokus topik bahasan saja. Berbeda dengan rekan jurnalis, yang menulis laporan pandangan mata secara keseluruhan.

Jadi, Emak nggak harus menulis semuanya. Justru kalau Emak bisa fokus ke satu angle unik dan bisa mengangkatnya dengan baik, itu justru akan bagus bagi penyelenggara.

 

3. Acara Dimulai, Singkirkan Press Release

Selama acara berlangsung, fokuslah pada pembicara dan narasumber yang ada. Juga pada tuan rumah.

Catatlah hal-hal yang sekiranya penting dan berhubungan dengan rencana angle dan topik bahasan yang sudah disusun tadi. Jadi, nggak perlu semuanya direkam.

Dengan cara sudah menyempitkan angle dan topik dan fokus begini, Emak akan lebih mudah menyerap materi yang diberikan. Nggak “ngambang” ke mana-mana. Boleh juga mencatatnya di notes, atau bisa juga melakukan live tweet (meski tidak diwajibkan). Berikan tagar yang spesial, supaya lebih mudah ditemukan lagi nanti. Akan bagus lagi, jika ngetweet dalam bentuk thread. Bakalan bantu banget untuk menulis reportase.

Setelah sempat kemudian, bisa juga mewawancarai narasumber atau pembicara secara lebih khusus, atau menanyai panitia juga bisa, jika memang memungkinkan. Untuk menambah data yang diperlukan.

 

5. Deadline H+2

Karena lebih dari itu, percaya deh, otaknya udah nggak “panas” lagi, Mak Udah ganti mood. Hahaha. Iya apa iya, Mak?

Selama menulis reportase, tuliskan seperti yang sudah Emak rencanakan sebelumnya. Didukung dengan press release. Tapi nggak usah semuanya. Sekali lagi, fokus ke angle yang sudah direncanakan. Gunakan pola 5W 1H dalam reportase Emak, agar tulisan Emak lebih in-depth dan menyeluruh.

5W 1H tahu kan ya, Mak? Yes, who, what, when, where, why dan how.

 

Contoh Proses Menulis Reportase

Nah, sekarang coba saya kasih contoh deh. Misalnya, saya diundang ke sebuah peluncuran produk kopi.
*yeeee, mentang-mentang coffee-addict* 😆

Nah, sebelum datang, saya akan googling dulu deh soal produk kopi ini. Biasanya sih kita akan sudah mendapat clue kurang lebihnya deh di brief atau undangannya kan ya? So, cari deh keunggulan kopi ini di antara kopi yang lainnya.

Misalnya nih, ternyata kopi ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil juga. Wah, ini kan menarik ya kalau diangkat sebagai angle penulisan? Kebetulan juga–misalnya–blog saya juga pas, bahasnya segala macam problema ibu-ibu, termasuk bumil.

Tapi dari riset yang saya lakukan itu, nggak ada dijelaskan, ada apa saja dalam produk kopi tersebut yang membuatnya aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Nah, ini bisa jadi bahan untuk dikorek nanti pas acara nih, Mak. Gali informasi ini lebih dalam saat acara berlangsung. Kita bisa tanyakan dalam sesi tanya jawab, misalnya, kalau memang belum dibahas oleh narasumbernya.

Dari situ saja, biasanya kita akan kepikiran juga hal-hal lain yang nyambung juga ke angle yang sudah kita pilih.

Setelah acara, segera tulis sesuai dengan angle yang sudah kita pilih. Tuangkan temuan-temuan kita dalam reportase tersebut. Bahkan mungkin yang tidak ada di acara tapi data yang mendukung, bisa saja kita masukkan, Mak.

Tentunya sumbernya harus terpercaya ya, Mak. Jangan asal comot juga ya. Misalnya, kita bisa ambil dari website brand yang bersangkutan.

 

Kesimpulan

Yes, itu tadi sedikit tip menulis reportase yang oke, yang “rasa” bloggernya kerasa. Nggak sekadar kopas dari press release. Yang mau nambahin tip, atau mau diskusi lebih lanjut, boleh yukkk. Langsung tulis di kolom komen ya!

Semoga next time diundang ke event, Emaks sudah nggak datang dengan kepala ngeblank lagi ya, Mak. 😀 Rencanakan tulisan Emak bahkan sebelum datang ke acara.

Semoga bermanfaat 🙂