Setiap blogger itu pasti punya metode sendiri-sendiri saat menulis konten blog, yes? Kadang metode-metode tersebut jugalah yang memberikan ciri khas pada tulisan di blog kita yes (lagi)? *iyesin aja, biar fast* Halah.

Metode penulisan konten tersebut biasanya sih juga tergantung pada tujuan kita nulis. Misal, kalau nulis cerita traveling pastinya berbeda dengan menulis tentang tip-tip parenting. Iya nggak? Iya.

Nah, tapi tahu nggak sih, Mak, di antara beberapa perbedaan metode menulis itu, sebenarnya ada beberapa prinsip dasar menulis konten blog yang sebenarnya sama, Mak, meski tipe, jenis dan tujuan nulisnya beda-beda.

Yang … kalau kita nulisnya dengan selalu berpedoman pada prinsip ini, PASTILAH hasil tulisannya akan berkualitas. Hohoho. Mau tahu nggak nih, prinsip penulisan konten apa sajakah itu?

 

5 Prinsip Menulis Konten Blog yang Irresistible

1. Judul dan paragraf pembuka itu adalah “pertaruhan nyawa”

Halah. Lebay nih, Makcar. 😆

Etapi bener lo, Mak. James Scherer, kontributor situs Wishpond, saja mengatakan seperti ini.

“Recent studies show that while 80% of people will read headline copy, only 20% will read the rest.”

Jadi, kita mesti bener-bener memahami prinsip pertama ini nih, Mak. Bahwa judul itu sangat-sangat penting. Orang akan mau datang ke artikel kita, kalau judulnya triggering enough. Kalau judulnya cuma “Aku” gitu ya … ya gimana ya? Emang ketahuan gitu bahas apaan, dari baca judulnya doang? Kecuali ngehnya kalau itu puisinya Chairil Anwar sih.

Bahkan judul “tip mendidik anak” gitu saja juga kurang triggering, Mak. Mendidik anak untuk apa? Nah, ini harus ada nih, supaya pembaca tahu apakah artikel kita memang artikel yang mereka cari dan perlukan infonya.

Nah, habis judul, berikutnya yang merupakan bagian terpenting dari sebuah konten (terutama artikel blog) adalah paragraf pembuka.

Dalam paragraf pembuka itu harus ada:

  • Permasalahan atau topik utama yang akan dibahas.
  • “Janji” apa yang kita (sebagai penulis artikelnya) berikan pada pembaca, bahwa mereka akan mendapatkan “apa” setelah membaca artikel kita sampai selesai.

Contoh aja deh. Misalnya begini.

Si kecil tiba-tiba saja berbohong! Wah! Dari mana ia mendapatkan jurus ini? Bagaimana ya, cara mengetahui kebenarannya? Juga gimana cara mendidiknya agar tak berbohong lagi?

Nah, mari kita bahas satu per satu ya.

Nah, itu adalah paragraf pembuka untuk artikel tip mendidik anak supaya nggak berbohong. Ini misalnya, Mak. Jadi, di situ ada pokok masalah, dan pembaca “dijanjikan” tip cara mendidik anak supaya nggak berbohong lagi.

Kalau seumpama nulis review destinasi wisata ya, janji apa yang mau ditawarkan ke pembaca? Mereka bakalan enjoy suasananya? Atau trip murah? Nah, pastikan hal-hal ini diungkapkan di awal ya.

Ini adalah sedikit trik juga untuk memancing pembaca agar mau tinggal dan baca artikelnya sampai selesai.

 

2. “Talk” to your reader

Sejauh ini, dari pengamatan saya, tulisan yang mengalir dan seakan ngajak pembacanya ngobrol pasti lebih disukai. Iya apa iya?

Ini mungkin akan berkaitan dengan gaya ngeblog seseorang sih. Ada yang memang gaya ngeblognya serius dan kayak karya ilmiah. Ya, mungkin itu memang sudah diputuskan menjadi branding.

Salahkah yang demikian? Enggak dong. Boleh boleh saja. Adakah yang memang suka membaca tulisan yang serius dan ilmiah? Nggak salah kok, Mak.

Tapi dari pengamatan saya yang alakadarnya ini, kebanyakan sih suka tulisan yang mengalir dan seakan ngajak ngobrol pembacanya gitu. Maka, ini jadi prinsip kedua dalam memasak konten blog.

Kita bisa nyontek cara Stephen King menulis, Mak, untuk ini. Saya pernah menuliskannya di Medium, boleh dibaca-baca kalau belum pernah baca yah 🙂

Stephen King itu kalau menulis, ia sambil ngebayangin istrinya (yang dibayangkan sebagai “wakil” pembacanya) duduk di depannya untuk “mendengarnya” bercerita.

Jadi, misal nih mau nulis tip mendidik anak supaya nggak berbohong tadi ya, ya bayangkanlah ada buibu duduk di depan kita dan siap diajakin ngobrol soal anak berbohong.

It works everytime, Mak!

 

3. Show, not tell

Kalau yang biasa nulis fiksi, tahu betul nih prinsip satu ini. Siapa nih yang suka nulis fiksi?

Saya suka, dulu, Mak. Sekarang huhuhu 😥 … nggak sempat lagi. Kangen sih. Ah, udah, curhatnya. Balik ke menulis konten blog lagi aja yuk.

Prinsip ini biasanya berhasil banget untuk membuat pembaca merasa dilibatkan dalam tulisan kita. Seperti apa prinsip “show not tell” ini kalau di artikel blog yang notabene adalah tulisan nonfiksi?

Ya, misalnya, masih pakai contoh artikel tip mendidik anak tadi ya, lukiskan perasaan kita saat kita tahu si kecil berbohong. Marah? Iya, tapi marah yang seperti apa? Sedih? Sedih yang seperti apa?

Misalnya kita bisa menuliskannya begini.

Duh, dada ini rasanya nyesek aja gitu begitu tahu si kecil mulai lancar berbohong. Rasanya mau nangis, tapi kan nanti dia malah makin memberi jarak ya dari kita?

Nah, itu misalnyaaa.

Kalau mau menuliskan tentang keindahan alam destinasi wisata, ya deskripsikanlah dalam kata-kata. Nggak cuma “indah”, gitu aja. *lalu Makpuh Indah Juli merasa dipanggil*

Jadi, ceritakan yang bisa dideskripsikan ya, Mak. Misalnya tempat, kondisi sesuatu, perasaan, dan lain sebagainya. Tentunya ya jangan berlebihan juga sih.

 

4. Optimasi

Nah, setelah tulisan sudah lengkap, jangan lupa untuk melengkapi checklis optimasinya untuk Google ya, alias ceki-ceki SEO-nya.

Apa saja yg perlu dioptimasi? Ya, kalau yang basic ya antara lain:

  • Judul dan URL harus ada keywords atau topiknya.
  • Meta search description diisi, juga harus ada keywords atau topiknya.
  • Gambar-gambarnya juga mengandung keywords atau topik dalam nama file, title tag, dan alt tag

Untuk tip-tip optimasi alias SEO lainnya, bisa Emak pelajari dari banyak tutorial yang bisa disearch di Google ya.

 

5. Call to action atau kesimpulan

Ini adalah bagian closing dalam menulis konten blog ya, Mak. Kesimpulannya apa nih, dari tulisan yang sudah dibuat?

Misal, bahwa memang mendidik anak itu susah, tapi sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Yuk, kita sama-sama belajar, terutama belajar dari anak kita.

Atau, ajak pembaca blog untuk melakukan sesuatu. Misal, punya pengalaman lain soal anak berbohong enggak? Kalau ada, yuk, sharing. Minta pembaca untuk menuliskan pengalaman mereka di kolom komen, atau mungkin ajak teman-teman bloger untuk menuliskannya di blog masing-masing, terus nanti bisa ditautkan. Ya, mirip collaborative post itu deh.

 

Nah, itu dia, Mak. 5 prinsip menulis konten blog yang kalau selalu diterapkan, pasti akan membuat kontennya jadi menarik. Selain tentunya, topik dan ide kita yang juga menentukan ya. Itu mah sudah hukum wajib banget, kalau topik dan ide mesti menarik. 😀

Okeiii. Semoga sharing saya kali ini bermanfaat ya! Kalau ada tambahan, kuy, langsung ditambahkan di komen ya, Mak!