Name tag holder adalah salah satu pernik event, terutama workshop yang sering didapatkan blogger atau emak blogger jika menghadiri event tersebut. Berbeda dengan pernik event lainnya, ternyata agak sulit daur ulang name tag holder itu.

3 Ide Daur Ulang Name Tag Holder

Makin hari makin banyak himbauan tentang less waste events atau event minim limbah, yaitu event yang meminimalkan pengadaan pernak-pernak yang tidak terpakai setelah event. Namun masih banyak event yang menyediakan berbagai pernak-pernik tersebut semata-mata karena sudah dari dulu begitu.

Berbeda dengan tas goodie bag atau pensil yang bisa tetap bermanfaat setelah event, name tag holder sulit digunakan untuk keperluan lain. Karenanya, artikel ini tidak hanya memberikan tip daur ulang, tapi juga pencegahannya agar tidak bingung jika menumpuk kemudian.

Baca juga: Dari Goodie Bag Jadi Shopping Bag 

 

Artikel ini tidak hanya ditujukan kepada Emak-Emak Blogger sebagai peserta event, tapi juga untuk Emak-Emak jika suatu waktu menjadi penyelenggara event.

Name tag holder adalah wadah name tag peserta event untuk dikenakan di dada, bisa dijepitkan atau dikalungkan. Biasanya terbuat dari bahan mika yang kaku. Name tag diberikan agar panitia mudah mengenali dan sesama peserta bisa saling kenal untuk menambah jejaring kerja atau pertemanan.

Untuk less waste event, name tag holder ini jadi masalah besar dibandingkan dengan pernak pernik event lainnya. Mau dijadikan apa setelah pulang ke rumah, hayo? Apalagi jika sering ikut event, bakal menumpuk saja di laci kan?

Di luar negeri, banyak yang menggunakan name tag sticker sehingga tidak perlu holder atau tempatnya yang dari mika itu. Tapi di Indonesia, paling banyak yang menggunakan holder yang dilengkapi dengan penjepit. Ada juga yang dilengkapi tali dan dikalungkan. Umumnya di tali itu tercetak brand dari sponsor event tersebut.

Saya sudah mencari apa yang bisa dilakukan penyelenggara dan peserta event untuk meminimalkan limbah event berupa name tag holder ini selama berhari-hari di internet. Hasilnya tidak banyak.

 

Mari kita obrolkan satu per satu tentang daur ulang name tag holder

1. Name Tag Holder Dikumpulkan Kembali

Ide ini sudah dilaksanakan di beberapa event asing, terutama oleh event organizer (EO) besar. Jadi, ketika membagikan name tag dan holdernya, penyelenggara memberitahukan bahwa peserta tersebut harus mengembalikan holdernya ke tempat yang telah disediakan. Sedangkan name tag-nya boleh dibawa pulang. Ketika acara selesai, penyelenggara segera mengingatkan peserta untuk mengembalikan holder dari name tag mereka.

Holder tersebut akan digunakan untuk event berikutnya. Ya, peserta event berikutnya tidak akan mendapatkan holder baru. Jika event hanya berlangsung 2 hari, bukankah holdernya masih terlihat sangat bagus? Kecuali jika ada aktivitas ektrem yang mengakibatkan holder rusak atau tidak sengaja tertarik sehingga jepitannya lepas. Itu pun kalau masih bisa diperbaiki, masih bisa dipakai lagi. EO besar umumnya punya agenda yang berkelanjutan meski dengan klien yang berbeda sehingga sangat mungkin holder tersebut dipakai lagi.

Jangan lupa memasukkan ide tersebut ke dalam perjanjian dengan klien agar tidak terjadi kericuhan selama pelaksanaan. Walaupun kesannya ribet untuk masalah kecil seperti itu, tapi dampaknya besar kok. Katakanlah holder tersebut bisa bertahan selama 10 kali event dengan masing-masing peserta 50 orang, maka ada 450 holder yang bisa dihemat dan terhindar dari menjadi limbah.

 

Daur Ulang Name Tag Holder

Foto dari account Pinterest Kay Gardiner

 

2. Dipajang

Meski pemakaian ulang adalah ide terbaik, namun tak sedikit peserta yang punya jiwa sentimentil sehingga mengumpulkan name tag dan holdernya dengan maksud untuk dijadikan kenang-kenangan. Praktiknya? Holder tersebut hanya dimasukkan kedalam laci dan tak pernah dilihat lagi.

Jika ingin menjadikan name tag holder sebagai kenang-kenangan, mengapa tidak dipajang saja? Manfaatnya:

  • Bisa menjadi hiasan ruangan.
  • Emak akan takjub melihat perjalanan Emak dari event ke event setelah menjadi blogger selama bertahun-tahun.
  • Emak bisa instropeksi melihat ketrampilan yang sudah Emak dapatkan dari berbagai workshop. Apakah semua sudah dipraktikkan?
  • Emak juga bisa instropeksi melihat jejaring yang sudah Emak dapatkan dari berbagai event tersebut. Apakah masih saling berhubungan? Apakah masih punya kontak mereka?

Cara menjadikan nama tag holder sebagai pajangan itu tergantung kreativitas Emak. Berikut dua contohnya.

  • Emak cukup membeli selembar styrofoam di toko buku, lalu tempel name tag holder di sana. Posisinya tak harus jejer dan berurutan, tapi bisa juga berbentuk hati atau lainnya. Jika ada tali untuk mengalungkan, bisa dilepas dulu supaya rapi.
  • Dijepit di tali seperti foto diatas. Tali yang digunakan bebas, bisa tali kur atau tali rami. Kalau mau bagus, beli saja tali goni untuk dekor foto di toko kerajinan. Harganya cukup murah, tidak sampai Rp 15.000,- sudah mendapatkan tali yang panjang dan sudah termasuk penjepit kayunya.

 

3. Untuk Party Signs

 

Daur Ulang Name Tag Holder

Foto dari https://newlywedsurvival.com

 

Barangkali Emak suka menjamu tamu atau membuat open house, name tag holder bisa dimanfaatkan sebagai penanda makanan dan minuman. Kalau istilah mahasiswa KKN itu plangisasi.

Daripada Emak kerepotan menerangkan makanan atau minuman apa yang dihidangkan, kasih saja tulisan misalnya rawon, rendang, cupcakes, es campur, dan sebagainya. Ini biasa pula dilakukan di prasmanan pernikahan atau hotel. Tulisan tersebut bisa ditulis tangan atau diprint, lalu dimasukkan ke name tag holder.

Jika dibelakang holder tersebut ada pin, tinggal diletakkan saja di meja. Kalau kurang stabil bisa diganjal. Tapi jika tanpa pin bisa ditempelkan pada penyangga, contohnya penyangga besi yang diperuntukkan sebagai tancapan kertas kwitansi atau bisa membuat sendiri dari lidi. Atau bisa juga dengan penjepit kertas besar yang dibalik seperti foto di atas.

 

Memang tak mudah menerapkan event yang minim limbah. Menjadi penyelenggara event saja sudah repot. Acara lancar saja sudah syukur. Buat apa menambah pekerjaan mengurusi hal-hal remeh begini?

Gaya hidup sadar lingkungan itu butuh pembiasaan. Jika sudah terbiasa, tidak ada lagi hal yang merepotkan. Semua akan mengalir sejalan dengan semua kegiatan dalam hidup kita.

 

***

Lusi Trisnasari

Narablog di https://www.beyourselfwoman.com