Hai Mak. Ketemu lagi sama aku di review film.  Kali ini yang mau dibahas adalah film Five Feet Apart. Bercerita tentang dua remaja yang menderita kelainan lendir dalam tubuh mereka, cystic fibrosis atau Bahasa Indonesianya Fibrosis Kistis.

Wait! film tentang penyakit itu banyakan bikin mewek kan?

Iyes, emang mayoritas gitu, tapi aku punya pengalaman beda. Ya pengen ketawa, ya kesel, ada gemesnya pula. Kayak gado-gado deh. Jadi yang anti mewek apalagi malu ketauan nangis kalem aja. Nggak bakal banyak berurai air mata, kok.

Review Film Five Feet Apart, Cinta Berlabuh di Rumah Sakit

Di awal film Five Feet Apart, diceritakan seorang remaja perempuan bernama Stella (diperankan oleh Haley Lu Richardson) yang harus tinggal terus di  rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Stella udah biasa menjalani kesehariannya di sana dan udah akrab dengan para dokter dan perawat di sana.

Bahkan sama perawat Barb (Kimberly Hebert Gregory) pun, udah cuek becanda seperti sama temen sendiri. By the way, namanya nanggung banget nggak sih? Barb gitu saja. Kenpa enggak Barbara kek atau siapa gitu. Entahlah. Yang jelas di beberapa situs dan di film pun dia emang cuma dipanggil Nurse Barb, Perawat Barbara. Gitu aja. Nggak ada lebihnya.

Biar nggak bosen karena harus tinggal di rumah sakit, Stella punya setumpuk buku buat dibaca dan suka ngevlog kesehariaannya di rumah sakit. Di vlog-vlognya dia ceritakan semua treatment yang harus dijalaninya termasuk hobinya jungkir balik pake hammock.

Bukan cuma buat kebugaran tubuhnya saja, tapi agar lendir-lendir kental di dalam tubuhnya nggak mengganggu sistem pernafasan terutama paru-parunya.

FYI,  Fibrosis Kistis ini adalah penyakit genetika yang langka, dimana lendir-lendir yang harusnya jadi pelumas dalam tubuh jadi kental dan lengket. Akibatnya, lendir-lendir ini malah menyumbat berbagai saluran, terutama saluran pernapasan dan pencernaan. Makanya, di film ini Stella dan teman pasien lainnya, Poe (Moises Arias) sesama penderita Fibrosis Kistis suka pake masker atau selang (meski nggak setiap saat juga, sih).

Awalnya, semuanya biasanya saja. Stella nrimo banget dengan takdirnya sebagai penderita Fibrosis Kistis. Sampai kemudian Stella ketemu pasien lain, Will (Cole Sprouse) yang mukanya ngingetin aku sama aktor Dimas Beck.Tanpa disangka kedua pasien sepantaran anak SMA ini jatuh cinta.  Ya wajar dan manusiawi aja, kan? Memang sesama orang sakit nggak boleh jatuh cinta?

Baca review film yang lain yuk

Perawat Barb yang mengendus aroma cinta yang menguar di antara keduanya langsung keluar tanduknya. Saban ngeliat keduanya berdekatan jarak, dia langsung rewel dan memisahkan. Inget, jaga jarak 6 kaki!”  Beuh, galak bener. Tapi dia bukan asal galak, karena keduanya emang udah jadi tanggung jawab Barb.  Sesama penderita Fibrosis Kistis dilarang keras berdekatan karena akan saling menulari dan bikin ketahanan tubuh jadi menurun.

Setelah sebelumnya jaim-jaiman, akhirnya berkat insiprasi dan  ‘kompor’ dari Poe, Stella dan Will akhirnya mendeklarasikan diri mereka sebagai Pacar 5 Langkah! Buahahaha… kayak lagu dangdut ga, sih?   Jadi ke mana-mana mereka barengan terus dibatasi tongkat yang panjangnya 5 langkah untuk saling membatasi melindungi.  1 langkah lagi ke mana? Jawabannya ada di Film Five Feet Apart ya, Mak.

Kalau Stella sama Will nggak boleh deketan,  Perawat Barb atau dokter mereka, yaitu Dokter Hamid lebih deket kurang dari 6 kaki malah nggak masalah. Ya bedalah ya ketahanan tubuhnya. Stella dan Will jadi benci, kesel dengan nasib hidupnya. Di lain waktu mereka bisa tegar dan pede dengan luka-luka sayatan operasi yang bikin tubuh mereka jadi ga mulus.

Biasanya tuh film-film yang berurusan sama dunia medis selalu identik dengan istilah kedokteran yang bikin mbulet. Mbuhlah ini apaan. Itu apa maksudnya? Yekan?  Tapi film arahan Justin Baldoni ini bisa merangkum istilah-istilah medis di filmnya jadi mudah dicerna.

Kita nggak usah cape-cape mengunyah istilahnya sementara scene demi scene di layar terus berganti. Suka kesel aku tuh kalau filmnya terlalu banyak istilah asing dan ga ada waktu buat memahaminya.

Lebih dari setengah film Five Feet Apart, alurnya bercerita keseharian pasien rumah sakit yang gokil dan suka becanda. Bikin birthday surprise malam-malam,  ngegym bareng,  Will dan kucing-kucingan sama perawat yang bikin kita geli atau minimal tersenyum lah. Aku sampe ikutan deg-degan lho waktu mereka balapan sampai kamar biar ga diomelin Barb.

Sampai kemudian, Stella punya ide gila dan nekat. Simpatiku sama Stella langsung berubah 180 derajat saking sebelnya. Nih cewek gila. Pengen banget deh nyubit dia dan delikin dengan tatapan judes. Ya untung aku ngga main di situ, ya hahaha. Perawat Barb aja yang gemes gitu masih selow dan tenang meskipun dongkolnya setengah mati. Barb sih sayang, aku? Ya kesel aja!  Hahaha…

Treatment penyelesaian yang dikasih film ini akhirnya berhasil meluluhkan hatiku dan memaafkan kenekatan Stella. *cemen emang*. Ya sudahlah, dengan sedikit mewek, aku keluar dari studio film dan ga segitunya misuhin film ini.

Yang aku suka dari film ini adalah bikin kita bersyukur dan menyadari hal-hal kecil yang kita anggap biasa saja jadi kemewahan buat mereka yang sakit-sakit. Sampai-sampai Stella rela bertukar posisi untuk merasakan kebebasan yang tidak dimilikinya, bahkan hanya untuk lebih dekat dengan orang yang disayangi.

Ya mungkin itu juga yang bikin dia nekat (sampe ngajak Will segala), dan berisiko jatah hidupnya berkurang lebih cepat dan banyak.

Virus Fibrosis kistis ini emang segitu jahatnya. Sampai saat ini belum ada obat buat menyembuhkan penyakit yang sifatnya genetik ini, kecuali untuk meredakan gejala-gejalanya.

Sudah lebih dari dua pekan filmnya wara-wiri di bioskop dan masih bertahan bahkan bisa bersaing sama film hero macam Kapten Marvel, film-film horor yang banyak umatnya itu juga film romance remaja yang punya penggemar setia. Makin lama bertahan filmnya di bioskop biasanya menunjukkan makin bagus apresiasi penontonnya, makanya punya nafas lebih panjang untuk bertahan.