Heilooo, Emak! Kita akan ngebahas soal beberapa kesalahan ngeblog yang sering dilakukan oleh para blogger pemula nih.

Iya, Mak, saya sendiri juga melakukan kesalahan-kesalahan ini dulu saat masih awal-awal ngeblog. So, kalau Emak merasa melakukan kesalahan, ingatlah … You are not alooone … *kemudian nyanyik* #anaklawas

Yah, memang sih. Setiap dari kita mulai ngeblog dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda, yes?

Well, tujuan berbeda sih nggak masalah, Mak. Tapi biasanya bloger pemula juga melakukan beberapa kesalahan saat mulai ngeblog. Kesalahan yang sebenarnya kalau nggak mereka lakukan sejak awal tuh, barangkali sudah bisa bikin mereka jadi bloger sukses sekarang ini.

Apa saja sih kesalahan yang biasa dilakukan oleh para blogger pemula ini? Coba kita lihat yuk. Jangan-jangan nih ya, kita juga masih melakukannya sampai sekarang, setelah beberapa tahun ngeblog. Duh.

 

7 Kesalahan blogger pemula, yang bisa bikin tertatih ngeblog

1. Ide menulis yang terlalu random

Memang betul sih, kita selalu disarankan untuk menulis hal apa pun yang kita pengin tuliskan saat mulai ngeblog.

Tapi …

Saking penginnya apa-apa ditulis, jadi random banget. Hobi ini ditulis, suka begitu ditulis, seneng ditulis, sedih ditulis …

Yah, ga salah sih. Kan, di beberapa titik, blog juga disebut sebagai diari online, iya ga sih?

Hanya saja, yang sering terjadi adalah semua pengin ditulis, tanpa kita pikirkan efeknya pada diri kita sendiri jauh ke depan. Tanpa memikirkan branding diri kita. Apa pun ditulis, sampai-sampai tak ada privacy, bahkan yang buruk-buruk juga ditulis.

Hingga kemudian, taruhlah kita mau melamar kerja di suatu tempat. Ternyata nggak diterima. Lebih pahit lagi, ternyata HRD calon kantor kita itu pernah “kesasar” ke blog, dan menemukan blogpost di mana kita jelek-jelekin tempat kerja yang lama. Nah lo.

Atau kasus yang lain lagi. Mau daftar ikut job review. Tapi yang diminta beauty blogger. Yah, nggak lolos deh, gara-garanya di blog, artikel kecantikannya cuma 1 dari 100 postingan. Nggak dianggap berkompeten dong ya.

Ya, kebanyakan bloger pemula memang menulis apa pun yang terlintas. Nggak terlalu salah juga sih. Tapi ada baiknya kita punya pemikiran panjang. Kita mau dikenal sebagai bloger yang bagaimana dalam 5 tahun mendatang, mungkin?

Kalau kita punya target dan objektif panjang ke depan, pastinya kita lantas bisa merencanakan blog kita dengan lebih terarah. Iya nggak sih?

 

2. Menulis konten yang tak reader-friendly

Gaya menulis orang memang boleh saja berbeda-beda. Tapi gaya menulis yang berbeda seharusnya tetap harus memperhatikan pembacanya.

Apalagi kalau kita menuliskan hal-hal yang tak semua orang awam mengerti ya. Pastinya harus dipikirin, ini orang banyak ngerti nggak ya dengan istilah yang dipakai, dengan kata-kata yang dipergunakan ini?
Jangan-jangan yang ngerti cuma kita sendiri … sebagai penulisnya.

Kan nganu …

So, cobalah untuk menempatkan diri kita sebagai pembaca saat kita membaca ulang draf artikel kita di blog, Mak. Kira-kira pesannya sudah dapet belum nih? Kata-katanya mudah dicerna belum? Atau diksinya perlu disederhanakan lagi?

 

3. Self-centered

Nah, ini ada hubungannya dengan poin kedua di atas sih. Kita jadi bloger narsis. Biasanya sih kita berkilah dengan, “Ah, nggak apa2, nggak ada yang baca. Yang penting saya puas.”

Yakin enggak apa-apa? 🙂 Nanti kalau pembaca blognya sedikit juga nggak apa-apa? 😀 Nggak femes seperti teman-teman yang lain juga nggak apa-apa nih? Nggak “kecipratan” job juga nggak apa-apa?

Ya, kalau enggak apa-apa, ya enggak apa-apa juga, Mak. Lanjutkan!

Hanya saja perlu diingat, bahwa pembaca blog datang ke artikel kita tuh bukan karena pengin tahu/kenal lebih dekat dengan kita. Karena jujur saja, kita-kita nih bukan Raisa yang sudah ngartis duluan.

Pengunjung datang karena mereka MEMBUTUHKAN sesuatu untuk diri mereka sendiri. Mereka datang, karena kita punya yang mereka butuhkan. Jadi, ada baiknya–sesekali saja, mungkin? Lebih sering lebih baik–tulislah yang berfaedah buat orang lain.

Bukan berarti nggak boleh menuliskan tentang diri kita sendiri sama sekali juga sih. Tapi sisipkan manfaat juga yg bisa pembaca petik. Gitu, Mak.

 

4. Malas membaca, malas riset

Duh, ini kesalahan yang cukup parah sih, termasuk bagi blogger pemula. Kita malas memperdalam bahasan, malas riset, bahkan malas membaca.

Adalah misi setiap penulis–terutama bloger, yang blognya bisa diakses dengan bebas–untuk bisa memberikan tulisan yang berkualitas dan lengkap pada pembaca blognya.

Seandainya kita menulis opini–misalnya–tentu kita harus mempertimbangkan banyak sisi yang bisa membentuk argumen kita tersebut. Ada data ini itu, statistik misalnya.

Ini penting untuk kita menyajikan tulisan yang lengkap. Bahkan topik yang terlihat sepele sekalipun.

Misalnya nih, kita bikin tip mengajak anak-anak membaca. Oke, kalau hal ini adalah cara mendidik anak yang baik. Tapi pastinya argumen kita akan lebih kuat kalau disertai dengan data misalnya, data UNESCO yang menunjukkan bahwa dari 10.000 anak Indonesia hanya 1 orang saja yang suka membaca. Lalu diikuti dengan beberapa akibat kalau sampai anak tak suka membaca.

Nah, pastinya data seperti ini akan membuat argumen kita lebih kuat kan? Sehingga pembaca pun yakin, bahwa tip kita bermanfaat.

Data-data seperti ini tuh hanya bisa kita dapatkan kalau kita riset, dan banyak membaca. Jadi, berikan tulisan yang lengkap pada pembaca, supaya begitu selesai membaca tulisan kita, mereka sudah tak perlu cari referensi lain lagi.

 

5. Nggak melakukan self editing

Kebanyakan blogger pemula sih melupakan proses ini ya, sehingga setelah tulisan selesai terus langsung publish.

Padahal setelah dibaca tuh banyak saltik alias typo, ada banyak kalimat yang nggak nyambung, atau kalimat yang ambigu–yang bisa saja disalahartikan oleh pembaca hingga pesannya jadi bias, dan seterusnya.

Yak, kita memang harus bisa benar-benar memastikan bahwa pesan yang ingin kita sampaikan itu tertangkap dengan baik oleh pembaca ya, Mak. Salah satu caranya ya dengan memastikan tak ada saltik atau kalimat nggak nyambung.

 

6. Menganggap setelah publish lalu tugas sudah selesai

Padahal enggaaaaak~ 😆

Masih banyak PR yang mesti dilakukan oleh blogger pemula setelah publish tulisan, apalagi kalau pengin tulisannya dibaca. Bener kan, Mak? Hehehe.

Setelah publish, pasti kita mesti mempromosikan tulisan kita dong yah. Dishare di media sosial, dishare di komunitas, … bahkan setelah publish pun kadang kita masih memoles-moles lagi tulisan kita itu supaya lebih lengkap. Yekan?

Terus, kalau ada komen-komen ya mesti diurusin. Kalau ada yang butuh jawaban ya dijawab. Terus, selain itu, tugas bloger itu nggak cuma bikin tulisan juga, tapi kita juga harus siap belajar macam-macam demi meningkatkan performa blog kita.

Betul? Ini bisa dilanjut ke poin berikutnya nih.

 

7. Mengira ngeblog itu hanya menulis saja

Padahal, banyaaaak sekali yang perlu kita pelajari seiring perjalanan kita ngeblog. Pastinya ini kalau kita mau blog kita melejit ya ada banyak hal yang mesti dipelajari. Dari mulai belajar SEO, belajar fotografi, belajar sedikit tentang bikin video … dan seterusnya.

Blogger pemula biasanya belum sadar akan hal ini, sampai beberapa tahun setelah ngeblog.

 

Naaah, itu dia beberapa kesalahan yang biasa dilakukan oleh para blogger pemula yang bisa saya sampaikan kali ini.

Ada tambahan? Atau mau diskusi? Cus, ke kolom komen ya. Saya tunggu!