Hati orangtua mana yang tak patah hati melihat anaknya sedih, marah, kecewa dan emosi lainnya yang membuat murung berhari-hari, berbulan-buan bahkan puluhan purnama? Seperti itu yang terjadi antara ayah dan anak yang diceritakan dalam film 27 Steps of May, yang masing-masing diperankan oleh Raihaanun sebagai May dan aktor kawakan Luman Sardi yang menjadi bapaknya.

Film 27 Steps of May, Kegelisahan yang Meleleh

Review Film Bertema Keluarga: Replicas 

 

Delapan tahun silam, sedikit mundur dari plot utama film ini, May mengalami pemerkosaan secara beramai-ramai setelah pulang dari pasar malam.  Kejadian traumatis ini bukan hanya berpengaruh terhadap psikologis May, tapi juga bapaknya.

May tiba-tiba jadi menarik diri, pendiam dan selalu melakukan tindakan repetitif seperti bermain skipping atau menyileti lengannya (iya betul, nyiletin) sampai meninggalkan luka parut berderet-deret.

Luka siletan di lengan May itu nggak ada apa-apanya dengan luka hati yang dialami oleh May dan merembet juga pada Bapak.  Ibaratnya nih ada dua orang dalam satu ruangan. Salah satunya lagi flu. Cepat atau lambat orang lainnya yang sehat itu juga bakal ikutan kena flu karena terus-terusan barengan. Ya, kan?

Memang sih,  Bapak selalu tenang dan penuh kelembutan saat bareng May. Bapak tak pernah marah atau memaksa May untuk bercerita. Saat terjadi kebakaran pun, Bapak begitu panik dan sedihnya ketika ia tidak berhasil membujuk May untuk keluar.

Bapak bukan cuma nggak bisa membujuk May keluar untuk menyelamatkan diri dari ancaman terkurung api, tapi Bapak juga bener-bener nggak berdaya untuk untuk membawa May move on dari masa lalu.  Masa lalu May memang bener-bener kelam gitu, sih. Nggak semudah itu juga kita ngomong sama orang lain dalam kehidupan nyata untuk bilang gini:

“Yaelah, May. Kamu mau sampai kapan kayak gini?”

Enggak, kan?

Memang dengan ngomong gitu bisa membuat May jadi ceria, terus punya semangat 45 untuk memulai hari barunya?

Alih-alih bersikeras memaksa May untuk membuka diri, Bapak melampiaskan emosinya dengan menjadi petinju bayaran. Nah, saat jadi petinju (illegal) ini Bapak benar-benar melampiaskan emosinya. Kalau orang lain bertinju secara professional (ya meski bukan dalam kancah resmi sih) Bapak tuh bener-bener ngeselin.

Dia tinju sesukanya dia mau. Kalau emosinya lagi numpuk di ubun-ubun, dia bakal terus mengepalkan lengannya, menyiksa lawan tandingnya tanpa ampun. Seolah-olah lawan mainnya itu adalah gambaran dari para pemerkosa May.

Di lain waktu, Bapak berhenti begitu saja bertinju tidak mau melanjutkan. Bener-bener nyebelin dan bikin gemes pemilik sasana tinju, promotor dan temen deketnya yang diperankan oleh Verdi Solaiman.  Penonton pun bakal merasakan kekesalan Verdi Solaiman – yang sampai-sampai manggil dukun atau tukang fenghsui untuk mengubah  aura murung di dalam rumah Bapak dan May.

Film 27 Steps of May berdurasi 112 menit besutannya Ravi Bharwani ini lebih dari cukup bikin penonton merasa gelisah. Ya bukan cuma dialognya yang super irit (kecuali interaksi bapak dengan aktor lainnya yang lebih banyakan ngobrol), tapi juga menunggu gimana May dan bapak menemukan penyelesaiannya dari masalah mereka masing-masing.

May dengan trauma masa lalunya atau Bapak yang berusaha memaafkan dirinya dari belitan rasa bersalahnya karena merasa gagal melindungi anak semata wayangnya. Jahatnya kekerasan seksual bukan hanya mengacak-ngacak emosi dan psikis korban, tapi juga membuat orang-orang di sekitarnya merasakan akibatnya.

Satu hari, entah gimana caranya, May menemukan lubang di dalam rumahnya. Lubang ini  makin lama, makin membesar dan membuat May terpesona. Lewat dialog  gesture, May berkenalan dengan tetangga sebelah (Ario Bayu) yang jago main sulap.  Dialog lewat sorot mata atau gesture tangan antara mereka  terasa mengalir.  Walau May nggak pernah ngomong, pesona si tukang sulap ini mengubah hari-hari May yang monoton.

May punya kesibukan lain di luar kebisaan hariannya membantu Bapak menyelesaikan pesanan boneka. May yang mengalami sedikit perubahan sikap, seakan menemukan harapan hidup ketika menemukan si tukang sulap.  Lewat akting bahasa tubuh dan mimik wajahnya, kita juga bakal merasakan suasana hati May yang akhirnya bisa jatuh cinta dan patah hati (lagi) dengan tetangga barunya.

Emosinya kembali labil dan lagi-lagi membuatBbapak semakin terbenam dalam perasaan bersalah. Merasa semuanya sia-sia dan terlambat.

Wajar sih kalau saat menonton film 27 Steps of May ini kita dibuat gelisah. Buka hanya karena film seperti orang lagi sariawan yang nggak banyak ngomong tapi juga semiotika alias tanda-tanda film seperti alur yang lambat atau tone film yang kelam.

Kerennya,  justru dengan cara seperti itu, film ini membuat kita ikut hanyut ke dalam film. Nggak sampai dua jam kita harus menunggu bagaimana 27 Steps of May menemukan penyelesaiannya. Bandingkan dengan penantian Bapak yang harus nunggu delapan tahun gitu, kan? Dan yes, film ini menutup cerita dengan adegan yang bikin touchy alias meleleh.

Mumpung belum puasa dan masih bertahan di tengah gempuran ganknya Avenger, buruan deh nonton film ini yang sudah mendapat apresiasi dari penonton di  berbagai ajang seperti Busan International Film Festival, A Window on Asian Cinema, Festival film internasional di Cape Town atau di ajang local juga seperti Jogja Netpac Asia Film Festival 13 dan Plaza Indonesia Film Festival.