Jadi orang tua ternyata harus bisa belajar banyak dari anak lo. Karena, memberikan pelajaran dan didikan pada si kecil, ya itu mah memang tugas kita ya, Mak. Tapi, sadar nggak sih, Mak, bahwa untuk jadi orang tua yang baik bagi mereka, itu berarti kita harus juga bisa belajar banyak dari mereka.

Coba deh, mulai hari ini, Emak amati si kecil, lalu cobalah menerapkannya pada diri Emak sendiri.

Hmmm, memangnya apa saja yang bisa kita pelajari dari mereka untuk jadi orang tua yang baik?

 

9 Hal untuk Menjadi Orang Tua yang Baik yang Dapat Kita Pelajari dari Anak

1. Gampang move on

“Aku nggak mau lagi main sama Adik!”

Wah, kayaknya sih kita sering banget mendengar kalimat ini dari si Kakak, setelah ia dan adiknya rebutan mainan. Biasanya sih Kakak lantas menyingkir jauh-jauh atau ngambek.

Tapi coba lihat, beberapa menit kemudian.

Kakak dan Adik sudah saling tegur, dan kemudian main bersama lagi. Yang tadi bikin ngambek? Auk ah glap.

Ini nih yang bisa kita pelajari untuk jadi orang tua yang sebenarnya. Ketika sedang berdebat dengan orang lain, bahkan dengan suami kita sekalipun, kita juga tak perlu memendamnya lama-lama, Mak. Ungkapkan saja amarah kita, agar mereka tahu bahwa kita sedang marah. Kemudian, segera maafkan.

Nggak sehat lho, Mak, menahan amarah terlalu lama, apalagi sama suami. Rugi sendiri juga kita.

 

2. Semua orang itu sama

Anak-anak cenderung tak peduli dengan perbedaan, baik itu perbedaan jenis kelamin, warna kulit, kaya miskin, usia, disability, bahkan agama ataupun ras.

Ya, mereka tak mengenal semua itu! (kalau enggak kita yang mengajari mereka!)

Bagi mereka, asal sesama ‘makhluk’, maka semua orang adalah teman. Mereka tak ragu menegur dan mengajak main teman barunya.

Pun balita lo. Kalau mereka diperlakukan dengan baik, maka mereka juga akan memperlakukan dengan baik pula. Mereka membalas cinta dengan cinta.

Menerima perbedaan memang menjadi isu krusial belakangan ini, bukan? Makin sedikit orang menyempit pikirannya, karena semakin mempermasalahkan perbedaan. Bahkan berbeda pandangan atau paham akan sesuatu saja, bisa membuat orang berkonfrontasi  hingga berakhir jadi permusuhan!

Dari anak-anak, kita bisa belajar jadi orang tua bijak yang dapat menerima perbedaan dan fokus pada kebaikan orang lain saja, bukan kejelekan, kekurangan atau keanehan orang lain.

 

3. Berani bertanya

Well, Mak, pernah coba hitung enggak? Berapa kali dalam sehari balita Emak yang serba ingin tahu itu bertanya tentang sesuatu? Belasan kali? Puluhan kali? Tak terhitung?

Hahaha. Ya, memang begitulah balita ya, Mak. Mau tahu bats.

“Itu apa? Ini apa? Mengapa begini? Mengapa begitu? Kok ada begitu? Terus bagaimana? Kalau begini, bisa?” … dan seterusnya.

Mereka nggak berhenti bertanya tentang segala sesuatu yang mereka ingin ketahui.

Sebaiknya kita pun tidak malu dan tidak takut untuk bertanya, meskipun terkadang pertanyaan itu kadang terasa konyol.

Misalnya, jika Emak nggak tahu bagaimana menangani si kecil yang sedang sakit tertentu. Emak seharusnya nggak malu bertanya, bagaimana penanganannya yang tepat, bahkan meski mungkin sudah lazim. Bukankah ilmu pengetahuan kedokteran makin berkembang? Bisa saja, ilmu Emak sudah nggak update lagi.

Memupuk rasa ingin tahu itu penting, Mak. Bukankah nggak ada sekolah untuk jadi orang tua?

 

4. Menikmati hidup

Setiap pagi, ritme si kecil adalah melompat di atas tempat tidurnya. Hanya beberapa kali lompatan, sudah tampak bahwa ia begitu bahagia. Lalu coba beri si kecil baling-baling kertas, Mak. Pasti sebentar kemudian, Emak akan mendengar gelak tawanya atau melihatnya berlari ke sana kemari sembari membawa baling-balingnya yang berputar.

Bahkan, saat jalan macet pun, mereka rasanya juga nggak keberatan. Mereka asyik mengomentari apa pun yang mereka lihat di luar jendela mobil, yang menurut Emak menyebalkan. Saat mati lampu? Coba saja, kasih senter. Wah, mereka pasti akan senang sekali! Bisa mainin cahaya.

Ya, dari mereka kita bisa belajar untuk jadi orang tua yang bisa menghadapi hidup dengan lebih santai. Lihatlah segala sesuatu yang tadinya mungkin menyebalkan dari sudut yang berbeda. Bisa kok, Mak. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang terjadi itu kan ada hikmahnya.

Betul nggak?

 

5. Tersenyum setiap pagi

Coba Emak lihat, bagaimana ekspresi si kecil setiap ia dibawa ke depan cermin. Ia akan tersenyum, bahkan menertawakan dirinya sendiri bukan?

Sepertinya si kecil sangat bahagia ya, atau bangga pada dirinya sendiri. Ia pun nggak mau dibawa pergi dari depan cermin.

Kita bisa belajar untuk selalu tersenyum setiap hari darinya, Mak. Kita  bisa memulai hari dengan memberikan senyum yang terbaik untuk diri kita sendiri melalui cermin. Yakin deh, mood-nya akan terbawa bagus.

Bukankah dunia selalu terlihat cerah di balik sebuah senyuman?

Bahasa tubuh yang dipercaya dapat mengubah suasana hati ini akan membawa kita menjalani hari-hari menjadi lebih berwarna dan bahagia.

Hal ini pun akan berpengaruh pada bagaimana kita menghadapi suami dan si kecil seharian ini lo.

 

6. Berani mencoba

Balita lekat dengan fase eksplorasi, fase di mana ia selalu mencari dan mencoba sesuatu yang baru.

Ia berani menuruni mainan seluncur dengan ketinggian yang cukup menantang bagi ukuran anak-anak. Ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, asalkan bisa bermain. Dan sering kali, keberaniannya justru berbuah kebaikan untuknya sendiri. Ia bisa merasakan keseruan bermain seluncuran.

Untuk jadi orang tua yang baik, kita pun harus selalu berani mencoba sesuatu yang baru, Mak. Meski mungkin sempat terpikir, bahwa anak-anak memang lebih berani mengambil risiko karena mereka belum memahami konsep sebab akibat.

Well, buat kita, mungkin itu berarti adalah berani mengambil kesempatan dengan risiko yang diminimalkan. Betul? Meskipun Emak pasti juga menyadari, bahwa biasanya peluang dengan risiko yang besar pastinya juga punya dampak positif yang lebih besar pula.

So, ayo, Mak, jangan ragu mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

 

7. Gampang tertawa

Menertawakan momen memang sepertinya sudah jadi dunia anak-anak ya, Mak. Apa pun itu, mau lucu, maupun yang garing, mereka selalu tertawa.

Seperti halnya Charlie Chaplin. Begini kata beliau.

A day without laughter is a day wasted

Well, sepertinya kita lagi-lagi diminta untuk menikmati setiap momen kehidupan dengan tawa. Maka, tertawalah jika ada yang mengundang tawa, nggak perlu ditahan.

Nggak perlu jaga image! It’s so yesterday!

Menurut Lee Berk, Associate Professor dari University School of Medicine, California Amerika Serikat, tertawa itu dapat meningkatkan kemampuan tubuh dalam menghadapi tekanan dan melawan penyakit lo. Bahkan tertawa juga merupakan bentuk latihan olahraga menurut beberapa penelitian. Tertawa 100 kali sama sehatnya dengan 15 menit bersepeda!

 

8. Spontaneous

“Aku mau main sepak bola ya!”

Ha? Bukankah tadi sepulang sekolah, ia bilang mau main sepeda?

“Aku mau pakai jaket sama boots ya! Biar keren kayak Ayah!”

Ha? Bukankah hawanya panas dan terik?

“Emak, aku sayaaaaang deh sama Emak!”

Ha? Jangan-jangan ada maunya nih.

Hahahaha. Anak-anak memang ekspresif dan spontan, iya kan, Mak?

Mengapa kita tak mencontoh mereka? Spontanlah dan ungkapkan saja yang ingin Emak katakan. Anak-anak itu jujur dan apa adanya. Kita juga bisa seperti mereka, Mak.

Sesuatu yang spontan biasanya juga akan membawa kejutan yang istimewa, bahkan untuk suami dan si kecil.

“Ayo, hari ini kita piknik di taman! Emaka akan masak bekal yang enak!”

Wiii, asyiiik!

 

9. Jago bermimpi

“Aku mau jadi penjelajah galaksi!”
“Besok kalau gede, aku mau punya hotel. Biar Emak sama Ayah kalau nginep bisa gratis!”

Ya ampun. Asyiknya jadi anak-anak ya. Bisa saja setiap hari bermimpi begitu, ganti-ganti lagi! Nggak peduli seabsurd apa pun. Mereka memang punya mimpi dan imajinasi yang luar biasa. Dan, mereka percaya, mimpinya akan terwujud. Selanjutnya, ya mereka akan bikin mimpi yang lain lagi.

Apa kabar kita, yang katanya sudah jadi orang tua yang penuh dengan pengalaman dan kepahitan hidup? Tsah. Begitu khusyuknya sama hidup, jadi lupa bermimpi. Padahal, memiliki mimpi dan percaya bahwa suatu hari mimpi terwujud, itu penting. Pastinya harus diikuti dengan usaha ya. Berbeda dengan anak-anak yang sering kita bantu untuk mewujudkan mimpi mereka.

Sekarang, mengapa kita tak menggunakan imajinasi kita untuk menggali kembali impian yang selama ini mungkin sudah terkubur.

 

Nah, Mak, sudah melek belum nih, bahwa anak-anak kita itu luar biasa? Percaya kan, bahwa jadi orang tua itu enggak cuma bisa ngajarin anak juga. Tapi, kita juga harus belajar dari mereka.

Happy parenting ya!