Holah, Emak-emak bloger di mana pun berada! Bahas konten blog lagi yuk! Kali ini, kita akan bahas mengenai kerangka berpikir atau outline nih, Mak.

Gimana sih caranya membuat outline artikel blog yang baik itu? Outline yang bisa benar-benar bantu kita membuat konten (artikel) blog yang renyah dan krispi, nggak garing dan kentang?

Sebelumnya nih, outline yang kayak gimana sih yang mesti kita buat tuh?

Kayakya yang kayak gini ya, Mak:

1. Poin utama 1
-poin pendukung
– poin pendukung
2. Poin utama 2
– poin pendukung
– poin pendukung
3. Poin utama 3
dst?

Hmmm. Memang itu sih, yang kita pelajari di SD dulu. Tapi, hmmm …. Ngebosenin enggak sih, Mak? 😀 Lagi pula, model kerangka pikir kayak gini tuh, nggak membuat kita terhindar dari konten yang nanggung, yang kurang informatif.

Alih-alih, mending Emak bikin kerangka berpikir atau outline yang lebih bisa membantu Emak merumuskan dan merencanakan konten yang oke. Caranya gimana?

 

Kerangka Berpikir dengan Mind Mapping

Nih, kalau Emak bingung bagaimana membuat kerangka berpikir untuk membantu kita menulis artikel di blog, maka cobalah dengan membuat outline mind mapping.

Pikirkan satu ide besar (the big idea) yang menjadi topik artikel yang ingin ditulis. Dalam 1 artikel, hanya ada 1 ide besar ya, Mak. Jangan sampai ada 2. Kalau ada 2 ide besar, ya pecah saja menjadi 2. Ide besar ini juga seharusnya hanya berupa frase tak lebih dari 3-4 kata saja. Ide besar belum pasti menjadi judul ya. Ingat nih, Mak.

Nah, kemudian breakdown si ide besar ini dengan 5W 1H–yaitu What, Where, When, Who, Why, dan How.

Ilustrasinya yang sederhana begini, Mak.

Membuat kerangka berpikir dengan 5W1H

Tentu saja tak perlu semua elemen terjawab, karena tergantung dengan si ide besarnya sendiri. Tapi mindmapping dengan 5W 1H ini bisa banget membantu kita utk membuat konten yang komprehensif, lengkap, dan informatif.

Hayuk, kita lihat satu per satu.

 

Unsur 5W 1H dalam Kerangka Berpikir

What

Biasanya mengacu pada definisi. Jadi misalnya nih, ide besarnya adalah tentang Postpartum depression. Nah, kita bisa mulai dari apa sih postpartum depression itu? Yang ngalamin tuh bakalan melakukan apa, atau merasakan apa?

Dari poin WHAT ini bisa saja kita pecah lagi, Mak. Misal, postpartum depression adalah depresi pascamelahirkan. Lalu, apa itu depresi sendiri? Karena depresi kan ada banyak jenisnya. Boleh saja kalau Emak mau menjelaskan juga mengenai depresi ini. Tapi jaga supaya jangan terlalu banyak. Sekilas saja, agar nggak OOT. Segera balik ke PPD-nya.

Itulah salah satu fungsi kerangka berpikir, Mak. Bisa melengkapi tulisan kita, sekaligus menjaga kita supaya stay on track, nggak OOT ke mana-mana.

 

Where

Ini bisa berkaitan dengan efek nih, Mak, kalau soal PPD. Misalnya kalau mengalami PPD, efeknya ke mana saja? Apa saja yang terpengaruh?

Kalau si ide besarnya ttg hal lain, bisa saja berupa tempat. Misalnya di mana awal kejadian berlangsung? Atau, ke mana tujuan kita melakukan hal-hal yang akan dibahas?

 

When

Kapan PPD bisa mulai terjadi? Sejak balita usia berapa, kita bisa mulai mendidiknya untuk toilet training? Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Bromo? Tanggal berapa biasanya perayaan adat dilaksanakan?

Yes, ‘when’ adalah soal waktu; waktu terbaik, maksimal waktu atau batasan waktu, jangka waktu atau durasi juga termasuk di sini.

 

Who

Misalnya kalau di PPD ya, siapa yang bisa mengalaminya? Siapa yang bisa menolongnya?

Untuk hal lain, bisa saja pertanyaannya berupa siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang melakukan? Siapa objeknya?

 

Why

Di sini diuraikan sebab-sebab suatu hal terjadi atau dilakukan. Misalnya, apa penyebab terjadinya PPD?

Atau, bisa juga mengapa penting bagi kita utk tahu mengenai si ide besar tadi? Apa perlunya pembaca ikut andil dalam suatu hal, misalnya?

 

How

How ini kaitannya dengan cara, atau mungkin ada tip dan trik khusus untuk membuat atau merawat, mencegah, memperbaiki, hingga mengatasi … banyak deh ya.

Nah, yang perlu untuk diperhatikan, bahwa di setiap poin 5W 1H yang sudah dirumuskan dengan mindmapping ini, bisa berkembang juga menjadi 5W 1H yang lain, Mak.

Misalnya nih. Siapa yang bisa dimintai bantuan utk mengatasi PPD? Seorang profesional A, misalnya. Mengapa profesional A ini bisa membantu? Apa yang akan ia lakukan? Di mana ia bisa ditemui? Bagaimana cara ia membantu? Dan seterusnya.

Jadi, memang saat kita membuat kerangka berpikir dengan mindmapping ini kita harus mempertimbangkan apakah bisa mengembangkan tiap-tiap poin 5W 1H. Untuk apa? Pastinya untuk memastikan informasi kita lengkap.

Gitu, Mak.

Nah, ada lagi nih versi mindmapping 5W 1H yang lebih lengkap nih, kalau mau, Mak. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam mindmapping ini, bisa banget bantu kita untuk membuat kerangka berpikir yang lebih lengkap nih.

Membuat kerangka berpikir dengan 5W1H

Nah, kalau setiap poin pertanyaannya sudah terjawab dengan lengkap, kita bisa deh mulai menulis artikel kita–mau bentuk how to, listicle, atau storytelling …. Sesuaikan dengan tujuan kita menulis tadi.

Lalu, apakah kerangka berpikir atau outline ini mutlak harus ada atau dibuat setiap kali kita menulis artikel?

Nggak juga sih. Makmin pikir sih, tergantung topik dan tujuan menulisnya. Untuk topik yang cukup serius, butuh dirinci, harus detail, dan bahasannya harus tuntas, maka mungkin akan butuh kerangka berpikir ini, Mak.

Sedangkan, kalau curhat-curhat bebas sih, sepertinya nggak perlu kerangka berpikir ya, Mak. Muntahkan saja, Mak, sebebas-bebasnya. Sampai lega~

Yang pasti, kerangka berpikir ini bisa banget membantu kita untuk fokus, untuk bisa menulis detail, informatif namun tetap ringkas.

Namun, juga harus diingat, outline ini pada dasarnya adalah tools, yang seharusnya membuat kita lebih ringan menulis. Kalau ternyata untuk beberapa bahasan dan jenis tulisan akan lebih lancar tanpa outline, ya sudah nggak usah dipakai juga enggak apa-apa.

Jadi, disesuaikan saja dengan kebutuhan 😉

Nah, begitu cara membuat kerangka berpikir atau outline untuk artikel blog, Mak, spesial dari saya. Uhui. Ada tambahan enggak nih? Kalau ada, boleh ditulis di kolom komen ya! :-*