Hai, Mak! Apa kabar? Yuk, ngobrolin niche blog lagi! Nih ada satu niche yang termasuk dalam salah satu niche terpopuler nih. Yes, here is health blog, atau kadang juga disebut dengan fitness blog. Atau juga wellness blog, atau blog kesehatan. Ada yang berminat untuk menjadi bloger kesehatan, Mak?

Kesehatan memang menjadi masalah semua orang, iya nggak sih? Makanya topik-topik kesehatan merupakan salah satu topik yang paling banyak dicari di internet.

Apalagi kecenderungan sekarang, kan orang-orang pada lari duluan ke search engine kalau mereka butuh info-info, yekan? Nah, pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan memang termasuk tinggi nih kalau menurut statistik Google. Bahkan kayaknya yah, Google bisa dibilang sebagai “dokter” konsultan kita, lantaran apa-apa kita nanya dulu ke blio sebelum menghubungi tenaga medis beneran. Iya nggak sih?

Makanya, ya wajar aja, kalau lantas niche blog kesehatan, alias health, ini juga menjadi niche terpopuler sekarang.

Nah, meski sudah punya nama niche–yaitu kesehatan–tapi niche ini tuh masih bisa dibagi-bagi lagi menurut topik yang dibahas lo, Mak. Istilahnya microniche.

Coba kita lihat yuk, beberapa microniche atau subniche yang ada dalam niche health atau kesehatan ini–yang pastinya juga yang paling populer ya.

Beberapa Niche Blog Kesehatan yang Populer

Intermittent Fasting, Diet atau Puasa?

1. Diet blogs

Diet blog akan membahas seluk beluk dieting, baik itu untuk pengurangan/penambahan berat badan, atau diet karena alasan kesehatan (untuk penyembuhan penyakit). Biasanya juga dilengkapi jurnal nih, yang bisa didownload.

2. Healthy foodie blogs

Berbeda sih dengan diet blog ya, Mak. Healthy foodie ini lebih ke mengulas makanan sehat, yang biasanya dilengkapi dengan food science-nya. Bisa resep-resep dan contoh-contoh menu makanan sehat, terus bahas ingredients sampai mendalam.

3. Training blogs

Blog informatif yang berisi berbagai info dan tip-tip untuk melakukan olahraga sehari-hari, baik untuk menjaga kesehatan ataupun untuk body building.

4. Healthy living blog

Kalau yang foodie tadi lebih fokus ke makanan, kalau healthy living ini sepertinya lebih luas ya, Mak, cakupannya, karena membahas pola hidup sehat secara keseluruhan, meliputi makanan, istirahat, olahraga, dan sebagainya.

Selain 4 microniche tersebut, juga ada beberapa lagi sih yang lebih khusus lagi. Misalnya seperti running blog–biasanya berisi tip-tip untuk olahraga lari. Kadang, blog otomotif juga termasuk dalam niche blog olahraga, Mak, yang menjadi subniche blog kesehatan.

Ya begitulah niche blog ya. Kadang overlap. Kadang benar-benar bias banget batasan topik nichenya. Bisa jadi nyampur satu sama lain.

Masalah? Enggak. Asalkan navigasinya jelas.

Lalu, apa strateginya nih kalau kita pengin mulai ngeblog di niche blog kesehatan ini, atau mungkin buat yang sudah mulai memfokuskan diri ke kesehatan, apa yang mesti dilakukan untuk mengembangkan blog kesehatannya? Ada beberapa cara, Mak. Kita lihat satu per satu ya.

Sukses Mengelola Blog Kesehatan

Tip Sukses Mengelola Blog Kesehatan

1. Find your microniche

Tadi kita sudah bahas mengenai beberapa microniche kesehatan ya, Mak. Nah, tinggal pilih saja sih, sesuaikan dengan minat dan keahlian kita.

Dengan memilih microniche yang sesuai dengan minat atau keahlian, maka harapannya sih kita nggak pernah habis semangat untuk membahasnya.

“Tapi, kayaknya aku pengin bahas 2 microniche deh. Boleh nggak?”

Boleh dong~ Mau berapa pun bisa, asalkan–saran saua sih–navigasinya jelas, yang berarti pengategorisasiannya rapi ya, Mak.

Kenapa? Karena topik nyampur–meski dalam niche yang sama–kalau nggak dipisahkan dalam kategorisasi yang jelas, bisa nyampur aduk, dan akan lebih susah bagi pengunjung yang pengin baca-baca.

Lagi pula, Google suka blog yang navigasinya rapi.

2. Identifikasi pembaca

So, apa sih tujuan kita membuat blog kesehatan, Mak? Sharing pengalaman, pengetahuan, dan passion kita. Yes? Ya, umumnya sih gitu.

Nah, pertanyaannya.

Sharing ke siapa? Siapa yang akan terbantu dengan konten yang kita buat di blog? Kita nggak bisa nih menjawab, “Ya, siapa aja yang butuh deh, silakan baca.”

Mengapa? Karena itu berarti kita masih kurang fokus dan bakalan susah mengenal pembaca blog kita sendiri. Ini nanti erat kaitannya dengan gaya bahasa yang akan kita pakai, cara menyapa, topik yang diangkat, dan seterusnya. Akibatnya, Emak nantinya juga akan kesulitan untuk mengembangkan topik, pun susah juga mencari pembaca loyal.

So, tentukanlah target pembaca yang hendak disasar oleh blog keehatan kita, dan buatlah sespesifik mungkin.

Misalnya. Para generasi Z, yang baru lulus kuliah, baru punya gaji as first jobber pastilah punya kebutuhan yang berbeda dengan para generasi X, usia min. 40 tahun, dan sudah mapan. Gaya bahasa keduanya saja beda. Apalagi kebutuhannya.

Jadi, penentuan target pembaca ini penting kita lakukan di awal ya. Untuk menentukan konsep blog, gaya bahasa, dan konten-kontennya nanti.

3. Tentukan tone menulis

Nah, yang ini memang akan mengikuti poin no. 2. Pastinya harus sesuai dengan demografi pembaca yang ingin disasar yah.

Ini juga ditentukan oleh tujuan blog kesehatan ini dibikin. Kalau blog kesehatan ini nantinya adalah “public relation tool”, maka harus ada tone profesional dalam tulisan-tulisannya. Begitu juga kalau ditujukan untuk sharing opini, tip dan pemikiran pribadi, maka personal tone seharusnya akan lebih dominan.

Banyak2-banyaklah membaca untuk memperkaya wawasan dan juga kosa kata.
Coba lakukan riset pada blog-blog yang berniche sama yang lain, sebagai bahan untuk membentuk blog kesehatan milik kita.

Tone menulis ini akan menjadi branding kita juga lo, Mak, alongside dengan nama, judul blog, logo, dan elemen-elemen branding lainnya. Jadi, sepertinya sangat perlulah direncanakan sejak awal yah.

4. Planning!

Nah, ya, kita tahu nih kalau fokus ke satu atau niche yang sempit, maka tantangan terberatnya adalah soal ide tulisan.

Tapi, bloger itu pada dasarnya makhluk kreatif. Jadi, seharusnya sih, hal ini nggak terlalu jadi masalah. Percaya atau enggak, semakin banyak semakin sering kita mengulik ide tulisan, kepekaan dan olah rasa kita terhadap ide semakin terlatih.

Maka, bantulah diri sendiri dengan content planning, Mak. Setiap minggu atau bulan, buat waktu sejenak untuk duduk dan lakukan brainstorming ide tulisan. Nggak usah jauh-jauh nyarinya. Coba lihat di Google Analytics, di Google Search Console, dari kolom komen, dari media sosial … Lalu, catat yang sekiranya bisa jadi ide tulisan.

Yep, jemputlah si ide tulisan, TANPA menunggunya datang. Kalau cuma nunggu, wah, makin lama ditunggu, ide makin lama pula datangnya. Jadi, planning yang baik adalah koentji.

5. Konsisten!

Yeap, ini juga susah ya? 😆  Sama sih ini, nggak hanya terjadi pada mereka yang punya niche blog kesehatan. Siapa nih yang punya masalah konsistensi ngeblog? Coba ngacung! Tuh, kan banyak!

Yah, memang butuh usaha ekstra, jika kita ingin sukses ya, Mak. Dalil ini berlaku di segala bidang kehidupan deh kayaknya mah. Termasuk dalam ngeblog.

So, tanyakan dulu pada diri sendiri:

  • Yakin nih, mau ngeblog?
  • Kalau nggak menghasilkan, gimana?
  • Kalau nggak ada ide, gimana?
  • Bakalan berapa lama minimal akan bertahan ngeblog?

Yakinkan kembali tujuan ngeblognya. Karena kalau tujuan ngeblognya sudah benar, dan jelas, konsistensi ini akan lebih mudah dijalankan.

Nah, demikian beberapa tip dan strategi memulai dan mengembangkan blog kesehatan. Ada yang mau nambahin? Sila langsung ditulis di kolom komen ya. Atau, ada yang sekarang sudah mengelola blog kesehatan? Boleh loh, sharingnya. Ditunggu!