Konsisten Ngeblog Meski Hanya Punya Waktu Sempit

By Carolina Ratri on May 30, 2022

Merasa nggak, Mak, bahwa kadang ngeblog itu menjadi sesuatu yang terasa membebani di setiap harinya? Apalagi yang sudah sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan anak-anak, dan kesibukan kita lainnya yang menyita waktu. Rasanya berat betul untuk bisa konsisten ngeblog, ya?

Yes, I feel you, Mak. Apalagi buat saya yang sekarang lebih banyak ngerjain blog orang. Rasanya kadang energinya sudah habis karena menulis untuk beberapa blog sekaligus setiap hari.

Bagaimanapun, pekerjaan utama dan lancarnya urusan keluarga tetap harus jadi prioritas. Betul? Lalu, bagaimana caranya konsisten ngeblog meski kita hanya punya waktu yang sempit?

Coba beberapa tip berikut ini.

Konsisten Ngeblog di Sela-sela Kesibukan

1. Konsisten ngeblog tidak harus ngeblog terlalu sering

Mungkin sekarang ada yang mengomitmenkan diri untuk ngeblog setiap hari atau 2 – 3 kali seminggu. Itu hal yang bagus ya, Mak. Karena mesin pencari memang lebih suka sama blog-blog yang update sering, punya konten yang fresh dan indepth.

Tapi, jika memang kesibukan telah menyita waktu kita, kita boleh saja kok mengurangi frekuensi ngeblognya.

Mengurangi frekuensi tak berarti akan membuat mesin pencari menjadi less liking blog kita. Pembaca pun biasanya juga enggak akan protes kalau misalnya kita mengurangi frekuensi ngeblog ini. Mereka akan lebih protes kalau kualitas konten kita ngedrop ketimbang frekuensi yang berkurang.

So, ngebloglah seminggu sekali, atau sebulan sekali, asalkan konsisten. Tentukan tanggal berapa atau di hari apa Emak bisa ngeblog. Pilihlah hari yang benar-benar bisa didedikasikan khusus untuk menulis di blog.

2. Pakai format template

Saya sudah 14 tahun menulis di blog, baik di blog sendiri ataupun di blog klien. Setiap harinya, rata-rata saya menulis 3 artikel panjang. Untuk mempercepat, saya punya format template blog.

Yang sedang Emak baca ini adalah format template saya yang paling standar. Di sini, saya akan menentukan judul, dan kemudian pointers yang biasanya berjumlah 5 – 7 poin. Kemudian, saya kembangkan masing-masing pointer menjadi paragraf-paragraf penjelas. Setelah semua pointers dikembangkan, baru saya menulis pembuka artikel dan penutupnya. Cara ini membantu saya membuat outline yang langsung bisa dikembangkan menjadi artikel, jadi enggak 2 kali kerja.

Cara menulis seperti ini membuat saya cepat menyelesaikan artikel. Rata-rata bisa saya selesaikan 30 – 60 menit untuk tulisan sepanjang 1000 – 1200 kata, tanpa distraksi. Setelah selesai, saya endapkan sebentar untuk kemudian dilakukan editing lagi.

Format template ini works well untuk saya. Nah, Emak mungkin punya format template yang berbeda yang bisa works well juga. Silakan dicari, Mak, dan pakai saja. Jangan khawatir membosankan, karena pembaca pada dasarnya enggak peduli. Mereka lebih peduli pada konten yang ditawarkan. Jika memang menarik dan bisa membantu memecahkan masalah mereka, they will like it anyway.

3. Pakai kalender konten

Kalau Emak hanya punya waktu yang sempit untuk konsisten ngeblog, maka jangan sampai membuang waktu sia-sia. Begitu Emak duduk di depan laptop, Emak wajib sudah tahu apa yang hendak Emak tulis. Enggak ada waktu buat melamun dan bertanya-tanya, mau nulis apa ya hari ini?

Yang kayak gitu bakalan membuang waktu, Mak. Yang ada malah jadinya scroll medsos atas nama cari ide, tapi berakhir ngesave resep-resep masakan yang belum tentu tahu kapan akan dimasak. *ngomongin diri sendiri*

Jadi, kita mesti sudah tahu apa yang ingin ditulis. Untuk itu, Emak bisa manfaatkan kalender konten. Nah, di blog ini juga sudah dijelaskan secara rinci bagaimana cara kerja kalender konten ini. Selain bisa diterapkan di media sosial, juga bisa diterapkan untuk membantu konsisten ngeblog. Tinggal disesuaikan saja kolom-kolomnya. Jangan lupa untuk sekalian bikin poin-poin isinya. Dengan demikian, Emak sudah sekalian membuat outline dasar. Silakan disimak ya, Mak.

Pilih waktu yang cukup luang untuk membuat kalender konten ini. Buatlah untuk periode tertentu, misalnya untuk sebulan ke depan. Jika Emak mau menulis seminggu sekali, Emak hanya perlu membuat 4 rencana konten. Pastinya, ini enggak memberatkan kan?

4. Repurpose artikel lama

Nah, ini dulu juga sering saya lakukan. Meng-update artikel lama, sesuaikan dengan kondisi sekarang. Ini juga berarti mengupdate kata kunci, jika memang kata kunci sebelumnya kurang memberikan performa yang optimal. Lalu, sesuaikan tanggalnya ke hari ini, dan … voila! Jadi artikel yang baru. Hehehe.

Untuk itu, biasanya sih saya mencari artikel-artikel lama yang viewer-nya masih sedikit tetapi memiliki potensi kata kunci yang bagus. Caranya, mengecek jumlah pageview di Google Analytics, dan lakukan keyword research untuk menemukan kata kunci yang lebih pas, atau yang lagi trending sekarang. Baru kemudian, edit artikelnya.

Cara ini bukan cara untuk “membohongi” pembaca ya. Pastikan saja Emak menyebutkan bahwa artikel ini adalah update dari artikel lama. Saya sih biasanya menambah “[Updated]” di bagian judul, dan itu sudah cukup.

5. Waktu adalah koentji konsisten ngeblog

Setiap orang punya ritme hidup masing-masing. Kapan kondisi badan fit dan produktif, dan kapan lelah sehingga tidak bisa diajak untuk menulis. Karena itu, wajib untuk dikenali agar kita bisa memanfaatkan kondisi fit dan produktif untuk menulis blog.

Contoh ya, Mak. Saya kalau sore menjelang pukul 19.00, kondisi tubuh benar-benar sudah enggak fit dan maunya rebahan terus. Jadi, ya saya turutin saja. Pada akhirnya terbentuk sendiri deh ritmenya. Pukul 19.00 saya istirahat, bangun dini hari dalam kondisi segar, dan itu saya gunakan langsung untuk menulis. Start pukul 05.00, praktis saya sudah sibuk sama anak-anak plus pekerjaan domestik. Otomatis, baru bisa pegang laptop lagi setelah pukul 14.00 setelah anak-anak pulang sekolah. Itu saja kadang masih harus antar les endebre endebre. Jadi praktis jam produktif saya untuk bisa menulis tanpa terganggu adalah pada dini hari. So, waktu itu saya manfaatkan semaksimal mungkin.

Temukan ritme Emak yang paling pas. Enggak harus dalam satu hari. Misalnya saja, untuk konsisten ngeblog seminggu sekali, Emak hanya perlu menemukan satu hari satu waktu untuk bisa duduk anteng menulis. Semoga ada ya, Mak. Yah, maklum namanya emak-emak, tugasnya kan 24/7 ya kan?

Nah, semoga sedikit tip konsisten ngeblog dengan waktu yang sempit di atas bisa membantu ya, Mak. Soalnya, kalau saya sendiri, begitu berhenti ngeblog—dengan alasan kesibukan, atau burnout—jadinya malah keterusan males dan akhirnya susah untuk memulai kembali. Jadi, lebih baik frekuensi saja dikurangi, tetapi tetap ngeblog sebisa mungkin.

Semoga bermanfaat, sampai ketemu di artikel berikutnya.

    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: